BOGOR, CEKLISSATU.COM – Kisah penyelamatan Murai Maratua atau Copsychus barbourin menjadi salah satu cerita penting dalam upaya konservasi burung di Indonesia. 

Murai Maratua berstatus terancam punah atau endangered/ mulnerable berdasarkan International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List.

Sempat tersisa hanya delapan individu yang seluruhnya berada dalam pemeliharaan masyarakat di Pulau Jawa, populasi burung tersebut kini telah berkembang menjadi 97 individu melalui program konservasi di Prigen Conservation Breeding Ark (PCBA), Taman Safari Prigen.

Kurator PCBA, Jochen Klaus Menner mengatakan, Murai Maratua memiliki karakter morfologi yang cukup berbeda dibandingkan murai lainnya.

Baca Juga: Konservasi Indonesia Butuh Gebrakan, TSI Dorong FOKSI 2.0 Jadi Kekuatan Baru Edukasi Satwa dan Lingkungan

Menurut Jochen, hilangnya satu spesies dari alam bukan sekadar berkurangnya jumlah satwa. Ketika sebuah spesies benar-benar punah, keragaman hayati yang dimilikinya juga ikut hilang dan tidak dapat dikembalikan.

"Kepunahan bersifat permanen dan tidak bisa diulang kembali," ujar Jochen  dalam kegiatan Orientasi Wartawan Konservasi (Owaka) FOKSI di Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor beberapa waktu lalu.

Jochen mengaku pertama kali menemukan informasi mengenai murai Maratua ketika mempersiapkan tugas konservasi burung berkicau di Indonesia pada 2018. 

Ia membaca berbagai buku dan publikasi untuk memahami spesies burung yang membutuhkan perhatian konservasi.

Baca Juga: Tanam 2.503  Bibit Pohon, Kawasan RTH Cihanja Bandung Disiapkan Jadi Penjaga Mata Air dan Udara Bersih

Dari penelusuran tersebut, ia menemukan fakta mengejutkan mengenai murai Maratua.

Ia menyadari burung tersebut memiliki perbedaan morfologi yang cukup mencolok dibandingkan murai lainnya. Namun, yang lebih mengejutkan adalah statusnya yang telah dinyatakan punah di alam.

Kondisi tersebut semakin menarik perhatian ketika tim konservasi justru menemukan sejumlah murai Maratua yang masih dipelihara masyarakat di Pulau Jawa.

Burung-burung tersebut tidak lagi berada di habitat aslinya, melainkan dipelihara di dalam sangkar. Salah satu alasan masyarakat memeliharanya adalah karena burung tersebut memiliki suara kicauan yang dianggap sangat indah.

Baca Juga: Bupati Bogor Rudy Susmanto: Satwa Langka di Gunung Halimun Salak Bukti Kepedulian pada Kelestarian Alam

Dari penelusuran yang dilakukan, tim PCBA akhirnya menemukan delapan individu murai Maratua, terdiri atas tiga jantan dan lima betina.

Namun, kedelapan burung tersebut tidak ditemukan di Pulau Maratua. Seluruhnya berada dalam pemeliharaan masyarakat di Pulau Jawa.

Kondisi itu membuat pendekatan konservasi perlu dipikirkan kembali. 

Menurut Jochen, ketika individu yang tersisa sudah berada di luar habitat alaminya, upaya konservasi ex situ menjadi pilihan yang sangat penting untuk menjaga keberlangsungan spesies.

Baca Juga: Kunjungi PSSEJ Cigombong, Bupati Bogor Rudy Susmanto: Pentingnya Pelestarian Elang Jawa sebagai Aset Dunia

Jika delapan individu tersebut langsung dikembalikan ke habitat asalnya tanpa persiapan dan pengelolaan yang matang, risiko kematian justru sangat besar.

Ia menjelaskan, mengingat jumlah populasi yang sangat minim, mengembalikan 8 ekor burung tersebut langsung ke habitat aslinya (in-situ) justru membawa risiko besar terhadap kepunahan permanen akibat predator maupun faktor alam.

"Kalau itu sudah terjadi, konservasi in-situ sudah tidak punya nilai lagi. Kalau mau ke in-situ, konsekuensinya delapan individu itu dibungkus, dikirim ke Pulau Maratua, dilepasliarkan. (Tapi) satu jantan dimakan kucing, satu jantan kena angin besar, satu jantan infertil—jenisnya punah. Satu-satunya solusi, 8 individu itu harus dibungkus, dimasukin ke fasilitas yang layak untuk konservasi ex-situ," paparnya. 

Baca Juga: Ragil, Si Elang Jawa Penguasa Baru Langit Gunung Halimun Salak

Karena itu, lanjutnya, konservasi tidak cukup hanya dengan melepasliarkan satwa. 

Diperlukan fasilitas, pengelolaan reproduksi, pencatatan keturunan, hingga perawatan yang terukur agar populasi dapat berkembang.

Pada 11 November 2018, individu pertama murai Maratua tiba di PCBA). 

Burung tersebut diberi nama MSH 001, yang menjadi bagian awal dari program konservasi spesies tersebut di PCBA.

Baca Juga: Kado Kemerdekaan dari Alam, Elang Jawa Kembali Menetas di Taman Safari Bogor

Program kemudian menunjukkan perkembangan signifikan. 

Setahun setelah individu pertama tiba, tepatnya pada November 2019, anakan murai Maratua pertama berhasil menetas di PCBA.

Sejak saat itu, program pengembangbiakan terus berjalan. Populasi murai Maratua di fasilitas konservasi tersebut pun meningkat dari waktu ke waktu.

Kini, PCBA memiliki 97 individu murai Maratua, yang merupakan keturunan dari delapan individu awal yang berhasil diselamatkan.

Baca Juga: IPB University Kembangkan Biobank dan ART untuk Lindungi Badak Jawa dan Sumatra dari Kepunahan

Bagi Jochen, pertumbuhan populasi tersebut menjadi bukti bahwa konservasi ex situ dapat memberikan peluang bagi spesies yang berada dalam kondisi sangat terancam.

Konservasi Butuh Fasilitas Khusus

Jochen menjelaskan, keberhasilan program tersebut tidak terlepas dari keberadaan fasilitas khusus di PCBA. 

Konservasi satwa yang sudah sangat terancam membutuhkan pendekatan berbeda dibandingkan satwa yang sekadar dipelihara untuk kebutuhan edukasi pengunjung.

Baca Juga: Pemkab Bogor Bersama TSI Jajaki Kolaborasi Pengembangan Kawasan Destinasi Edukasi dan Konservasi Satwa

Di area utama Taman Safari yang dapat dilihat pengunjung, menyediakan puluhan kandang khusus untuk satu jenis burung tentu bukan perkara sederhana. Karena itu, fasilitas back of house menjadi penting untuk mendukung program konservasi spesies yang membutuhkan penanganan khusus.

"Yang dibutuhkan fasilitas khusus, back of house khusus untuk melestarikan jenis yang sudah luar biasa terancam," jelasnya.

Menurut Jochen, ketika sebuah program dilakukan dengan fokus dan kepedulian, hasil konservasi dapat terlihat nyata.

Baca Juga: Tak Hanya Liburan, EIGER Nature Siapkan Ekowisata Dengan Konsep 7E, Padukan Konservasi dan Ekowisata Berkelanjutan

Kisah murai Maratua menjadi salah satu contohnya. Dari hanya delapan individu tersisa, populasinya kini telah mencapai  97 individu di PCBA.

"Bagi dunia konservasi, angka tersebut bukan sekadar pertambahan populasi. Di baliknya terdapat upaya untuk memastikan sebuah spesies yang pernah kehilangan habitat dan dinyatakan punah di alam tidak benar-benar hilang dari bumi," ujarnya.

"Sebab, ketika kepunahan benar-benar terjadi, kesempatan untuk menyelamatkannya tidak lagi tersedia," imbuhnya.