BOGOR. CEKLISSATU -- Warga Desa Gadog berkolaborasi bersama aktivis Puncak merawat Sungai Ciliwung dari sampah. Kegiatan ini dipusatkan di Pintu Air Cibalok, Desa Gadog, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Kamis (5/6/2025).
Selain aksi bersih-bersih Sungai Ciliwung dari beragam jenis sampah plastik, kegiatan ini diisi dengan penanaman pohon serta dialog seputar lingkungan hingga isu-isu hangat seputar Puncak dan Bogor Selatan.
Kegiatan dalam rangka Hari Jadi Bogor (HJB) ke-543 dan Hari Lingkungan Hidup ini dihadiri Camat Megamendung Ridwan, Kepala Desa Gadog Dedi Junaedi, pengurus dan anggota Aliansi Masyarakat Bogor Selatan (AMBS), Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Witoro, seniman Abah Ukam, kader desa, dan jurnalis FWBS.
Baca Juga: PT BAP dan Multipihak Tanam Seribu Pohon di Puncak-Bogor, Kemenhut Ajak Gen-Z Lestarikan Alam
"Hari ini kita mengisi Hari Jadi Bogor dengan kegiatan penanaman 50 bibit pohon di sekitaran Bendung Cibalok Desa Gadog dan memungut sampah di sekitar aliran Sungai Ciliwung," jelas Kades Gadog Dedi Junaedi.
Kali Ciliwung telah menghidupi masyarakat di sepanjang alirannya selama berabad abad bahkan ribuan tahun. Oleh karenanya, sebagai pemberi kehidupan bagi manusia sudah saatnya kita tidak menista kali Ciliwung.
Seperti diungkapkan seniman dan budayawan Abah Ukam, tidak boleh lagi ada saluran pembuangan kotoran rumah tangga yang mengarah ke sungai.
"Kali Ciliwung bukan septic tank, itu namanya menghina sungai yang telah menghidupi kita ribuan tahun, di sini air bebas digunakan untuk irigasi pertanian, memasak, dan bebersih masuk PDAM jadi bayar," tambah Abah Ukam.
Baca Juga: Puncak Haji Dimulai, Puan Maharani Ingatkan Penyelenggara Beri Layanan Terbaik Bagi Jemaah
Ketua FPRB Kabupaten Bogor, Witoro, menyampaikan pentingnya kegiatan semacam ini dalam mendukung program mitigasi bencana. “Program pemutusan sampah di lingkungan sungai seperti ini adalah bagian penting dari mitigasi bencana. Ksmi juga rutin melakukan penanaman pohon sebagai bentuk adaptasi perubahan iklim yang berdampak langsung terhadap kelestarian alam, suplai oksigen, dan kehidupan masyarakat,” ungkap Witoro.
FPRB Kabupaten Bogor, lanjut Witoro, terdiri dari lima unsur utama: unsur pemerintahan, relawan, media, pengusaha, dan akademisi. Dalam praktiknya, forum ini menjalin sinergi dengan BPBD Kabupaten Bogor, BNPB, serta jejaring relawan kebencanaan nasional.
Selain kegiatan lapangan, FPRB juga memperingati Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) yang jatuh setiap Oktober. Peringatan ini dijadikan momentum untuk memperluas kesadaran masyarakat tentang pentingnya pencegahan dan kesiapsiagaan bencana.
Baca Juga: Kapolsek Megamendung Berikan Wejangan ke Pelaku Curanmor, Ingatkan Tidak Mengulangi Perbuatannya
“Hari ini kita berkumpul bukan sekadar membersihkan sungai, tapi juga menanamkan semangat kolektif menjaga lingkungan dan mencegah bencana. Harapan kami, Kecamatan Megamendung bisa segera membentuk FPRB sendiri agar upaya pengurangan risiko bencana lebih sistematis dan berkelanjutan,” ujar Witoro.
Sedikitnya 40 karung sampah berhasil diangkut dari Sungai Ciliwung di sekitar Bendung Cibalok. Selain persoalan sampah dan lingkungan menyelamatkan kali Ciliwung juga menjauhkan resiko bencana alam saat cuaca ekstrem baik itu banjir dan longsor.
(Acep Mulyana)
Comment