BOGOR, CEKLISSATU.COM— Wacana pembangunan transportasi alternatif berupa kereta gantung di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, mendapat respons terbuka dari DPRD Kabupaten Bogor. Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Bogor, Agus Salim, mengatakan pihaknya siap mendukung berbagai terobosan untuk mengatasi persoalan kemacetan, selama seluruh aspek pembangunan dikaji secara matang.

Menurut Agus Salim, penyelesaian persoalan kemacetan di kawasan Puncak merupakan salah satu target yang sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Pemerintah Kabupaten Bogor.

Selain mengurai kemacetan, pembangunan transportasi alternatif juga diharapkan mampu meningkatkan potensi pariwisata serta memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bogor.

Baca Juga: Malam Anugerah MHT–PWI Jaya Diundur, Beri Ruang Persiapan Lebih Matang

“Salah satu target RPJMD Pemerintah Kabupaten Bogor adalah menyelesaikan permasalahan Puncak, terutama kemacetannya. Di saat yang sama, bagaimana meningkatkan potensi wisatanya dan menjadi pemasukan bagi Kabupaten Bogor,” ujar Agus Salim.

Ia menegaskan DPRD Kabupaten Bogor terbuka terhadap berbagai gagasan dan inovasi yang dapat menjadi solusi bagi persoalan klasik di kawasan Puncak.

“Kami sangat terbuka terhadap berbagai terobosan, uji kelayakan, dan ide-ide anak bangsa yang bagus. Tetapi tentunya harus ada kajian lingkungan, bagaimana keberpihakannya kepada masyarakat, penambahan PAD, hingga daya dukung pembiayaannya,” katanya.

Agus Salim juga membuka peluang penggunaan skema investasi dari pihak swasta untuk merealisasikan proyek tersebut. Menurutnya, keterlibatan investor akan menjadi pilihan menarik apabila pembangunan dapat dilakukan tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Bogor.

“Kalau ada investor dari luar dan pembiayaannya penuh dari luar tanpa mengganggu APBD, tentu itu menarik. APBD kita bisa tetap dikonsentrasikan untuk pembangunan sektor lainnya,” ungkapnya.

Meski demikian, Agus menekankan bahwa investasi yang masuk harus memberikan manfaat nyata bagi daerah dan masyarakat. Pemerintah juga diminta memastikan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di kawasan Puncak tidak terpinggirkan oleh pembangunan tersebut.

“Yang kedua tentu lingkungan, keberpihakan kepada para UMKM, kemudian pembangunan itu harus memberikan hal yang positif, bukan negatif,” tegasnya.

Kereta Gantung Dinilai Bisa Kurangi Kendaraan
Terkait konsep kereta gantung, Agus Salim menilai moda transportasi tersebut berpotensi menjadi salah satu solusi untuk mengurangi jumlah kendaraan yang menuju kawasan Puncak.

Dengan adanya sistem pemusatan parkir di titik tertentu, wisatawan dapat meninggalkan kendaraan pribadi sebelum melanjutkan perjalanan menggunakan transportasi alternatif.

“Justru saya melihat itu bisa meminimalisir kendaraan naik. Secara lingkungan, udara tentu bisa menjadi lebih baik,” ujarnya.

Selain itu, penggunaan kereta gantung dinilai berpotensi mengurangi kebutuhan pembukaan lahan dibandingkan pembangunan jalan baru. Namun, Agus menegaskan seluruh dampak pembangunan tetap harus menjadi perhatian utama.

Menurutnya, pemerintah dan pihak terkait harus menghitung secara cermat keseimbangan antara manfaat ekonomi yang dihasilkan dengan potensi dampak terhadap lingkungan.

“Semua akan kita lihat dari kajiannya. Seberapa besar lingkungan yang terdampak, kemudian di sisi lain seberapa besar manfaat ekonominya. Apakah masih berimbang atau tidak, itu membutuhkan kajian,” katanya.

Agus Salim menegaskan pembangunan di kawasan Puncak tidak boleh hanya berorientasi pada keuntungan jangka pendek dengan mengabaikan kelestarian lingkungan.

“Jangan sampai kemudian lingkungan kita korbankan untuk masa depan yang akan datang hanya demi kepentingan jangka pendek. Itu tidak boleh,” pungkasnya.