BOGOR, CEKLISSATU - Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik Universitas Pakuan (Unpak) mengajak para peserta Urban and Regional Development International Conference (URDIC) 2024 untuk meninjau langsung implementasi Green City, dan pembangunan berkelanjutan di PT Sentul City Tbk.

Para peserta URDIC didampingi langsung Landscape Manager PT Sentul City Tbk Binsar meninjau beberapa lokasi strategis di Sentul City yang menerapkan konsep Green City, seperti Danau/Telaga Indah yang berfungsi sebagai ruang terbuka biru untuk pengelolaan air, area Spring City sebagai klaster perumahan baru, serta klaster bertema Bali. 

Kawasan ini mengimplementasikan konsep Green City yang menyeimbangkan pengembangan perkotaan dengan lingkungan alami, dengan kebijakan 40% ruang terbuka hijau dan ruang terbuka biru.

Baca Juga : Laksanakan Employee Volunteering Bertemakan Go Green, Insan BPJamsostek Cabang Bogor Kota Hijaukan Area Jalur Hijau

Dosen Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Pakuan Dr Ir Janthy T Hidayat menyoroti bahwa pesatnya pertumbuhan perkotaan kerap berdampak negatif terhadap kualitas lingkungan kota. 

Salah satu cara efektif untuk meningkatkan kualitas lingkungan tersebut adalah dengan memperluas Ruang Terbuka Hijau (RTH). 

RTH memiliki peran krusial dalam mendukung pengembangan kota hijau dan berkelanjutan, tidak hanya dengan memperbaiki iklim mikro di sekitar wilayah perkotaan, tetapi juga melalui penyediaan habitat alami dan pengurangan polusi udara yang signifikan,” kata dia.

Baca Juga : Warga Jakarta Butuh Ruang Terbuka Hijau, Kawasan Monas Bakal Dibuka Hingga Pukul 10 Malam

Dalam mengevaluasi kondisi vegetasi serta kenyamanan termal suatu area, digunakan Indikator Vegetasi Normalisasi (Normalized Difference Vegetation Index atau NDVI). 

Menurut Dr. Janthy, NDVI dapat memberikan gambaran yang akurat mengenai tingkat kepadatan vegetasi. Semakin tinggi nilai NDVI suatu kawasan, semakin baik pula tingkat kenyamanan termal yang dirasakan di area tersebut. Ini menunjukkan bahwa kepadatan vegetasi yang tinggi secara langsung berkontribusi pada penurunan suhu dan peningkatan kualitas udara.

“Dengan demikian, pentingnya peningkatan ruang hijau di kota-kota yang tengah berkembang, baik melalui kebijakan tata kota maupun partisipasi masyarakat. Langkah ini tidak hanya memperbaiki kualitas lingkungan secara keseluruhan tetapi juga memperkuat daya tahan kota dalam menghadapi tantangan perubahan iklim,” ujarnya.

Baca Juga : Atasi Food Waste, Menteri LH/BPLH Hanif Faisol akan Stop Rumah Makan dan Hotel Buang Sampahnya Ke TPA

Salah satu peserta URDIC dari The Centre of Surveying Science & Geomatics Kolej Alam Bina UiTM Malaysia Assoc. Prof Dr Zaharah Mohd. Yusof menyoroti pentingnya ruang hijau dalam perencanaan kota sebagai elemen utama untuk menciptakan lingkungan sehat dan mendukung kesejahteraan masyarakat. 

Ruang hijau, menurut beliau, tidak hanya berfungsi sebagai area rekreasi tetapi juga berperan dalam meningkatkan kualitas udara, mendukung kesehatan mental, memperkuat interaksi sosial, serta mengurangi dampak urban heat island—fenomena peningkatan suhu di pusat kota dibandingkan daerah sekitarnya akibat kepadatan bangunan dan minimnya vegetasi.

Dalam upaya mencapai tata kota yang ramah lingkungan, kolaborasi antar-departemen menjadi kunci. Beberapa departemen yang terlibat termasuk Department of National Landscapes, PLANMalaysia, Local Authorities, Local Government and Housing Ministry, serta Urban Sustainability and Green Environment Division.

Baca Juga : Momentum Hari Lingkungan Hidup, PPLI Ajak Manfaatkan Teknologi Ramah Lingkungan dan Lakukan Restorasi Lahan 

“Masing-masing memiliki peran dalam memastikan perencanaan dan pengelolaan ruang hijau yang terpadu, mulai dari pengembangan lansekap hingga regulasi dan kebijakan ruang hijau di tingkat daerah,” kata dia.

“Keterlibatan masyarakat dalam menjaga dan memanfaatkan ruang hijau dapat meningkatkan rasa memiliki serta menciptakan ruang publik yang lebih inklusif,” imbuhnya.

Pada kesempatan itu juga, Unpak melakukan penandatanganan Implemtation Agreement (IA) yang memuat rincian rencana pelaksanaan kegiatan kerja sama antara Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Pakuan dengan beberapa pihak strategis. Pihak-pihak tersebut adalah: 1) The Centre of Surveying Science & Geomatics, UiTM; 2) The Centre of Studies for Town and Regional Planning, UiTM; serta 3) Asosiasi Sekolah Perencanaan Indonesia wilayah Jabodetabek. 

Melalui IA tersebut, diharapkan terjalin kolaborasi yang lebih terstruktur dalam bidang riset, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat, yang dapat mendukung pengembangan ilmu dan praktik perencanaan wilayah dan kota yang berkualitas di tingkat nasional maupun internasional.