KABUPATEN BOGOR, CEKLISSATU -- Pada hari ketiga aktivitas Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Sekolah Rakyat di Sentra Terpadu Inten Soeweno, Jalan SKB Karadenan Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, berjalan sangat atraktif.
Pantauan ceklissatu.com di lokasi sekira pukul 09.00 WIB, para siswa dan guru sedang beraktivitas pagi hari di lapangan sebelum digelarnya Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di kelas.
Kepala Sekolah Rakyat di Sentra Terpadu Inten Soeweno, Fitri Puspitasari menyebutkan bahwa kegiatan siswa sudah dimulai sejak pukul 04.00 WIB dengan salat Tahajud berjamaah, disambung Murajaah sambil menunggu waktu Subuh.
"Lalu salat Subuh dan Qobliah Subuh, dilanjutkan Kultum. Setelah selesai kemudian olahraga pagi, sarapan, dan mandi, lalu siap-siap untuk sekolah," ungkap Fitri Puspitasari kepada ceklissatu.com.
Fitri Puspitasari mengatakan, setiap pagi agar mood siswa 'naik' maka dibuatkan ice breaking yang sederhana. Setelah itu berlanjut dengan materi MPLS.
"Karena para siswa ini datang dari berbagai lokasi di Bogor, yang sebelumnya tidak saling kenal, maka kami buatkan dinamika kelompok serta tim untuk kekompakkan. Akhirnya sekarang sudah saling kenal," ucap Fitri Puspitasari.
Ia menegaskan, pihaknya berusaha menerapkan budaya positif sekolah. Misalnya ketika seorang anak melakukan kesalahan, maka selalu diterapkan agar anak tersebut meminta maaf kepada temannya.
"Kita berusaha menciptakan MPLS yang ramah. Selalu ditekankan kepada seluruh siswa bahwa kita itu semua saudara di sini, walaupun datang dari berbagai wilayah di Bogor," jelasnya.
Baca Juga: Hadiri Peluncuran Sekolah Rakyat di Kabupaten Bogor, Menteri Sosial Saifullah Yusuf Bilang Begini
Fitri Puspitasari menyebutkan, pada hari ketiga kegiatan MPLS di Sekolah Rakyat sudah sangat baik, setiap siswa mulai akrab satu sama lain, dan home sick sudah mulai berkurang.
Untuk diketahui, jumlah siswa di Sekolah Rakyat Sentra Terpadu Inten Saeweno ada 100 siswa, guru 11 orang, wali asuh 11 orang, wali asrama dua orang, kemudian ada operator, bendahara, dan tata usaha.
"Rinciannya siswa laki-laki 57 orang, perempuan 43 orang. Di sini lebih banyak siswa yang dari Kota Bogor yaitu 85 orang, sedangkan dari Kabupaten Bogor hanya 15 orang. Karena siswa Kabupaten Bogor itu mayoritas sekolah di Galih Pakuan yang ada di Ciseeng," terang Fitri Puspitasari.
Selain itu menurutnya, yang membedakan Sekolah Rakyat dengan sekolah lain adalah kurikulumnya, lebih integratif. Tidak hanya menekankan pada aspek akademik, tetapi mereka juga akan dibekali dengan keterampilan hidup (life skill).
"Sekarang juga sudah mulai penanaman karakter. Misalnya salat lima waktu berjamaah, tahajud, murajaah, agar setiap hari itu hafalan suratnya bertambah. Kita yakin, kalau agamanya bagus, perilaku ke depan juga akan semakin baik," tuturnya.
"Selain itu juga anak-anak ini secara perlahan akan dibekali dengan kemampuan berbahasa asing, supaya mereka nanti bisa menjadi warga negara dunia," pungkas Fitri Puspitasari.