BOGOR, CEKLISSATU - Pemandangan mahasiswa membaca buku tebal di perpustakaan kini semakin jarang terlihat. Sebagai gantinya, banyak mahasiswa lebih sering membaca melalui layar ponsel, mulai dari artikel singkat, thread media sosial, hingga rangkuman materi dalam bentuk video.
Perubahan kebiasaan tersebut memunculkan anggapan bahwa minat baca mahasiswa mengalami penurunan. Namun, sebagian pengamat menilai yang berubah bukan sekadar minat membaca, melainkan cara generasi muda mengonsumsi informasi di era digital.
Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan skor literasi membaca Indonesia berada di angka 359 poin, lebih rendah dibandingkan rata-rata negara OECD. Data tersebut menunjukkan kemampuan memahami bacaan masyarakat usia pelajar di Indonesia masih menjadi tantangan dalam dunia pendidikan.
Baca Juga: Ajak Orang Tua Bangun Budaya Literasi di Rumah, Yantie Rachim: Dari Kecil Tanamkan Kebiasaan Membaca
Di sisi lain, perkembangan media digital membuat akses terhadap informasi menjadi jauh lebih cepat dan praktis. Mahasiswa kini tidak selalu membaca melalui buku cetak, tetapi juga melalui e-book, jurnal daring, PDF, hingga media sosial.
Perubahan ini melahirkan kebiasaan membaca cepat atau skimming. Banyak mahasiswa cenderung mencari inti informasi dalam waktu singkat dibandingkan membaca secara mendalam dari awal hingga akhir. Konten video pendek dan algoritma media sosial yang serba cepat turut memengaruhi pola konsumsi informasi tersebut.
Fenomena ini tidak sepenuhnya berarti mahasiswa berhenti membaca. Sebaliknya, mereka justru terpapar informasi dalam jumlah besar setiap hari. Namun, derasnya arus informasi digital membuat kemampuan fokus dan membaca mendalam menjadi tantangan baru.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of College Reading and Learning menyebutkan bahwa kebiasaan membaca digital dapat memengaruhi tingkat konsentrasi dan pemahaman pembaca terhadap teks panjang. Pembaca digital cenderung melakukan pemindaian cepat dibandingkan membaca secara detail.
Selain itu, media sosial juga mengubah cara mahasiswa memperoleh pengetahuan. Tidak sedikit mahasiswa yang lebih memilih menonton video penjelasan singkat atau membaca ringkasan materi dibandingkan membaca buku akademik secara utuh. Cara ini dianggap lebih efisien, terutama di tengah padatnya aktivitas kuliah.
Meski demikian, akses digital sebenarnya juga membuka peluang baru dalam budaya membaca. Berbagai jurnal ilmiah, e-book, hingga artikel pendidikan kini lebih mudah diakses dibandingkan beberapa tahun lalu. Tantangannya bukan lagi sekadar mengajak mahasiswa membaca, tetapi bagaimana membangun kebiasaan memahami informasi secara lebih mendalam di tengah budaya serba cepat.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa budaya membaca mahasiswa sedang mengalami transformasi. Membaca tidak lagi selalu identik dengan buku cetak di perpustakaan, melainkan juga hadir melalui layar digital yang lebih praktis dan instan.
Siti Balqis Sari Manah