BOGOR, CEKLISSATU - Mahasiswa Sains Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Djuanda (UNIDA) mengenal sejarah dan budaya Bogor melalui Kuliah Lapang mata kuliah Komunikasi Antar Budaya dan Organisasi pada Senin (5/10/2026). Kegiatan tersebut dilakukan dengan mengunjungi empat situs bersejarah di Bogor, yakni Situs Batu Tulis, Situs Purwakalih, Situs Ranggapati, dan Makam Raden Saleh.

Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran di luar kelas untuk memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam mengenali berbagai peninggalan sejarah di Bogor. Selain memperkuat pemahaman mengenai sejarah dan budaya lokal, kegiatan tersebut juga menjadi bentuk penerapan 21 Karakter Bertauhid UNIDA, khususnya karakter local wisdom, serta sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 11.4 terkait perlindungan dan pelestarian warisan budaya.

Dosen Komunikasi Antar Budaya dan Organisasi, Robby Firliandoko, menjelaskan bahwa kuliah lapang tersebut bertujuan agar mahasiswa mengenal sejarah Bogor secara langsung melalui situs-situs yang masih dapat ditemui hingga saat ini, sehingga pembelajaran tidak hanya diperoleh dari materi perkuliahan.

“Tujuan dari kuliah lapang ini supaya kita tahu sejarah Bogor. Jadi, mahasiswa tidak hanya tahu dari materi perkuliahan, tetapi juga bisa datang langsung ke situs-situs bersejarah dan melihat peninggalannya,” ujarnya.

Menurutnya, kunjungan langsung memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk melihat peninggalan sejarah sekaligus memahami konteks tempat dan cerita yang menyertainya. Pengalaman tersebut menjadi pelengkap pembelajaran Komunikasi Budaya yang dilakukan di dalam kelas.

Salah satu lokasi yang dikunjungi mahasiswa adalah Situs Batu Tulis. Di lokasi tersebut, mahasiswa memperoleh penjelasan mengenai Prasasti Batu Tulis dan keberadaannya sebagai salah satu peninggalan sejarah yang masih terjaga.

Narasumber Situs Batu Tulis, Andreas, menjelaskan bahwa Prasasti Batu Tulis menjadi salah satu situs yang masih berada di lokasi aslinya. Kondisi tersebut membuat peninggalan sejarah dapat dilihat langsung dalam lingkungan tempat keberadaannya sejak dahulu.

“Batu Tulis ini salah satu situs yang masih utuh dan masih berada di tempat aslinya. Kalau di Ciaruteun, sebenarnya ada juga batu tulis. Awalnya berada di dekat sungai, tetapi karena sering tenggelam ketika musim hujan, akhirnya dipindahkan dan dimasukkan ke museum. Sedangkan yang di sini masih berada di lokasi aslinya,” jelasnya.

Penjelasan tersebut memberikan gambaran kepada mahasiswa mengenai kondisi peninggalan sejarah yang masih dipertahankan di lokasi asalnya. Dari Situs Batu Tulis, mahasiswa kemudian melanjutkan pembelajaran sejarah melalui kunjungan ke Situs Purwakalih dan Situs Ranggapati.

Narasumber Situs Ranggapati, Unen, menjelaskan bahwa situs tersebut merupakan petilasan atau tempat singgah Senopati yang dikenal sebagai orang kepercayaan Prabu Siliwangi. Selain itu, terdapat sejumlah peninggalan berupa batu dengan bentuk dan fungsi yang berkaitan dengan cerita sejarah di kawasan tersebut.

“Situs Ranggapati ini merupakan tempat petilasan atau tempat singgah Senopati dan orang kepercayaan Prabu Siliwangi. Di sini juga ada beberapa peninggalan, seperti batu tempat bersandar, batu dengan ukiran wajah, batu tempat mengikat kuda, dan batu yang berbentuk kepala kerbau,” jelasnya.

Keberadaan berbagai peninggalan tersebut memperlihatkan bahwa jejak sejarah tidak hanya berupa prasasti, tetapi juga dapat ditemukan melalui situs dan benda-benda yang memiliki cerita di dalamnya. Hal tersebut menjadi bagian dari pengalaman mahasiswa dalam mengenali sejarah dan kearifan lokal Bogor secara langsung.

Kunjungan kemudian dilanjutkan ke Makam Raden Saleh. Di lokasi tersebut, mahasiswa mendapatkan penjelasan mengenai Raden Saleh sebagai pelukis maestro yang memiliki peran dalam sejarah perkembangan seni lukis Indonesia.

Narasumber Makam Raden Saleh, Sandra Viana, menjelaskan bahwa Raden Saleh memiliki wasiat untuk dimakamkan di kawasan Benteng Pajajaran. Makam tersebut pada awalnya bergaya Belanda, kemudian mengalami penyesuaian yang mencerminkan identitas Raden Saleh.

“Raden Saleh berwasiat kalau meninggal mau dikubur di daerah Benteng Pajajaran. Awalnya makamnya bergaya Belanda, kemudian diubah dan disesuaikan dengan jati diri Raden Saleh,” tuturnya.

Rangkaian kunjungan tersebut memberikan pengetahuan baru bagi mahasiswa mengenai sejarah Bogor yang masih dapat ditemukan di lingkungan sekitar. Pengalaman belajar secara langsung juga membuat mahasiswa dapat melihat hubungan antara peninggalan sejarah, budaya, dan identitas lokal.

Mahasiswa Sains Komunikasi UNIDA, Rijal Mahendra, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut membuatnya lebih mengenal sejumlah wilayah dan peninggalan sejarah di Bogor, khususnya sebagai orang Sunda.

“Kesan dan pesan untuk hari ini sangat luar biasa. Apalagi saya sebagai orang Sunda bisa lebih mengenal wilayah-wilayah yang sebelumnya belum saya tahu. Ilmu yang didapat tentunya banyak mengenai sejarah dan hal lainnya. Ada beberapa hal yang awalnya tidak saya percaya, tetapi ternyata ada buktinya. Jadi, banyak sekali ilmu yang saya dapatkan,” ungkapnya.

Sementara itu, Mahasiswa Sains Komunikasi UNIDA, Nur Fathia, menyampaikan bahwa  kunjungan langsung ke situs bersejarah menjadi salah satu cara bagi mahasiswa dan pelajar untuk mengenal sejarah daerah secara lebih dekat.

"Menurut saya, hal seperti ini memang harus dilakukan mahasiswa atau pelajar untuk belajar sejarah Bogor, salah satunya dengan mendatangi situs-situs seperti ini,” tuturnya.

Melalui Kuliah Lapang Komunikasi Antar Budaya dan Organisasi, mahasiswa Sains Komunikasi UNIDA tidak hanya mendapatkan pembelajaran mengenai sejarah Bogor, tetapi juga diajak mengenali nilai dan warisan budaya yang ada di lingkungan sekitar. Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk penerapan karakter local wisdom dalam 21 Karakter Bertauhid sekaligus mendorong kesadaran terhadap pentingnya menjaga warisan budaya.