Dewa Eka Prayoga, pendiri Muhsinin Club, menyambut baik pendekatan baru alat ukur kemiskinan yang memasukkan unsur spiritual itu.  

Sejak Muhsinin Club pada tahun 2022, Muhsinin Club mengajak orang-orang yang berkelimpahan harta untuk semakin peduli kepada masyarakat. Komunitas ini, kata Dewa, dulu mengajak setiap anggotanya bersedekah minimal Rp 10 juta per bulan atau Rp 120 juta per tahun. Dana itu digunakan untuk memberikan makan bergizi para santri, membangun masjid dan pesantren, membagikan berton-ton daging sapi, membangun hunian di tanah bencana, serta memberangkatkan 158 santri penghafal Qur’an umrah. Total dana yang sudah disalurkan Rp 22 miliar. 

“Kita butuh lebih banyak orang kaya yang peduli pada sesama,” ujar pengusaha usa 34 tahun yang memiliki 48 perusahaan itu. 

Baca Juga: Satukan Kedokteran dan Gizi, Rektor IPB University: Hadirkan Model Baru Pendidikan Kesehatan Terintegrasi


Itulah sebabnya di Ramadan ini komunitas ini menggelar acara Muhsinin Club Conference bekerja sama dengan Yayasan Kampoong Ecopreneur yang berbasis di Leuwisadeng, Kabupaten Bogor. Dewa juga bercerita tentang pengalamannya yang koma berhari-hari hampir mati dan itu kemudian melahirkan kesadaran yang dia tularkan: “Perbanyak wakaf sebelum wafat.”

Dalam kesempatan itu, pendiri Kampoong Ecopreneur, Jamil Azzaini, menegaskan bahwa orang-orang baik itu perlu berkolaborasi, karena kejahatan yang terorganisir bisa mengalahkan kebaikan. Karena itu, dia mengajak orang-orang yang mampu berkolaborasi dalam kebaikan, salah satunya lewat Muhsinin Club dan Kampoong Ecopreneur.