BOGOR, CEKLISSATU -- Pada awal 2025, dunia dikejutkan dengan hadirnya DeepSeek, sebuah model Artificial Intelligence (AI) asal Tiongkok yang menarik perhatian warganet hingga dijuluki sebagai "ChatGPT-nya China". 

Kehadirannya yang masih terbilang baru namun mampu menyaingi AI pendahulunya seolah membangkitkan ketegangan dalam persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan Tiongkok, sekaligus mengubah dinamika inovasi dalam bidang kecerdasan buatan (AI).

Persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok dalam bidang teknologi bukanlah hal yang baru. Sebelumnya, keduannya sempat mempersaingkan keunggulan terkait teknologi chip hingga pengembangan jaringan 5G. 

Sehingga tak heran, apabila kemunculan AI generative DeepSeek yang menggemparkan beberapa waktu lalu ini, membuat persaingan kedua negara ini semakin berkembang ke arah yang lebih kompleks.

Baca Juga: Kasus Pabrik Uang Palsu di Bogor, Polisi Tetapkan Delapan Orang sebagai Tersangka

Selama ini, AS telah mendominasi teknologi AI melalui OpenAI atau lebih dikenal ChatGPT, dengan lebih dari 400 juta pengguna aktif mingguan per Februari 2025.

Namun, Tiongkok kini mulai membangun ekosistem AI-nya sendiri, dengan DeepSeek sebagai salah satu proyek representatifnya. DeepSeek sendiri didirikan oleh Liang Wenfeng pada November 2023 dan beroperasi di bawah manajemen perusahaan teknologi yang berbasis di Hangzhou.

Sejak pertama kali diperkenalkan pada 29 November 2023, DeepSeek mengalami lonjakan pertumbuhan yang signifikan. Dalam waktu singkat, jumlah unduhannya di platform digital seperti App Store dan Play Store mampu menyaingi ChatGPT, sebagai salah satu AI pendahulunya.

Salah satu faktor yang menarik perhatian banyak orang adalah kemampuannya dalam mendukung hingga 128K context window. 

Baca Juga: Halal Bihalal di Lingkungan Pemkab Bogor, Wabup Jaro Ade Sampaikan Sejumlah Pesan

Hal ini memungkinkan pemrosesan teks baik berupa prompt atau dokumen yang memuat sekitar 128.000 kata atau simbol (token) secara gratis, yang mana hal tersebut merupakan salah satu fitur premium ChatGPT (GPT-4) yang mengharuskan penggunanya untuk berlangganan.

Dari segi fungsionalitas, DeepSeek kerap disandingkan dengan ChatGPT karena keduanya memiliki performa yang sama-sama unggul. Kendati demikian, ada perbedaan dalam orientasi pemanfaatannya. 

ChatGPT cenderung lebih optimal apabila ditujukan untuk prompt yang interaksif dan komunikatif, sedangkan DeepSeek lebih cocok apabila digunakan untuk menangani tugas-tugas yang bersifat teknis serta penyelesaian masalah yang lebih spesifik.

Kemudian, dari sisi model, DeepSeek R1 memiliki perbedaan mendasar jika dibandingkan dengan ChatGPT (GPT-4), yang lebih tertutup. 

DeepSeek R1 dikembangkan sebagai model yang open-source di bawah lisensi MIT, yang artinya memberikan kebebasan bagi pengguna–baik individu maupun perusahaan–untuk memanfaatkan, memodifikasi, hingga mengkomersialkannya tanpa batasan yang ketat. 

Baca Juga: Layani Masyarakat hingga Jaga Kamtibmas, Kapolres Bogor Minta Seluruh Jajaran Selalu Responsif dan Humanis

Fleksibilitas dan aksesibilitas inilah yang mungkin membuat banyak pengguna mulai melirik dan beralih ke DeepSeek.

Bagaimanapun, di balik pertumbuhan model AI yang sangat progresif ini, timbul pertanyaan besar, bagaimana mungkin sebuah AI yang masih baru dikembangkan mampu menyamai kecanggihan yang setara dengan pendahulunya meskipun melakukan strategi efisiensi?

Umumnya, pengembangan AI generatif membutuhkan waktu yang panjang serta investasi yang sangat besar. Menurut laporan yang beredar, proses pelatihan ChatGPT-4o saja menelan biaya hingga 63 juta dolar AS. 

Sebaliknya, DeepSeek AI dilaporkan hanya menghabiskan dana sekitar 5,6 juta dolar AS–angka yang terlampau jauh dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan OpenAI dalam mengembangkan model AI mereka.

Di luar perdebatan mengenai efisiensi, aspek privasi dan keamanan data juga sempat mendapat sorotan serius dari warganet. Dalam era digital, keberhasilan suatu teknologi tak hanya diukur dari kecepatannya, tetapi juga dilihat dari seberapa baik sistem tersebut melindungi informasi penggunanya. 

Baca Juga: Halal Bihalal RSUD Kota Bogor, Pererat Silaturahmi dan Tingkatkan Layanan Kesehatan

Pada Januari 2025, Wiz Research mengungkap adanya kebocoran lebih dari satu juta data pengguna DeepSeek AI. Data riwayat percakapan yang seharusnya bersifat privat justru ditemukan dapat diakses tanpa autentikasi. 

Insiden ini pun memicu kekhawatiran dan pertanyaan besar tentang bagaimana nasib keamanan data pengguna bilamana menggunakan DeepSeek?

Terlebih lagi, mengingat regulasi ketat yang diterapkan pemerintah Tiongkok terkait data dan teknologi, memungkinkan pemerintah untuk mengakses informasi dari perusahaan domestik jika dianggap perlu. 

Walaupun pihak DeepSeek menyatakan telah mengambil langkah perbaikan atas celah keamanan yang ditemukan, kejadian ini tetap menimbulkan keraguan warganet terhadap transparansi serta kredibilitasnya dalam melindungi keamanan data pengguna.

Di tengah ketegangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok dalam pengembangan AI, persaingan ini semakin merambah ke ranah geopolitik. Pada Februari 2025, pemerintah Tiongkok memutuskan untuk memblokir ChatGPT, dengan dalih bahwa AI buatan AS berisiko menyebarkan informasi yang tidak sejalan dengan kebijakan nasional mereka. 

Baca Juga: Buka Pelatihan Kepemimpinan Administrator, Sekda Bogor Ajat Rochmat Ingatkan Jajarannya Soal Super Team

Sebagai gantinya, pemerintah China menyarankan masyarakat untuk beralih ke AI lokal seperti Ernie Bot dari Baidu, dan Kimi Chat (Moonshot AI). Menanggapi langkah tersebut, Amerika Serikat meresponnya dengan memberlakukan embargo ekspor chip AI, terutama yang diproduksi oleh NVIDIA, yang selama ini

menjadi komponen utama dalam pengembangan AI. Namun, kebijakan ini justru mendorong Tiongkok dalam mengembangkan industri chip mereka sendiri. Hal ini dibuktikan dengan digunakannya chip Ascend milik Huawei sebagai pengganti, yang digadang-gadang sebagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap teknologi AS.

Persaingan ini membuktikan bahwa kini AI tidak lagi hanya berkutat pada inovasi teknologi, melainkan telah menjadi bagian dari strategi ekonomi dan politik global. 

Negara yang unggul dalam pengembangan AI mungkin akan memiliki kendali signifikan atas distribusi informasi, sistem komunikasi, hingga pengambilan keputusan strategis di masa mendatang. 

Dengan semakin tajamnya polarisasi negara adidaya dalam industri AI, dunia kini memasuki babak baru di mana teknologi AI menjadi salah satu faktor dalam kekuatan geopolitik.

Baca Juga: Tindak Lanjuti Arahan Bupati Bogor, Wabup Jaro Ade Gercep Sidak Kantor Pelayanan hingga Irigasi di Bogor Barat

Terlepas dari berbagai kontroversi dan tantangan yang dialami DeepSeek, sebagai pengguna, kita perlu lebih cermat lagi dalam memahami siapa yang berada di balik pengembangan teknologi AI ini serta bagaimana dampaknya bagi pengguna. 

Kemajuan pesat di bidang AI memang membuka banyak peluang, tetapi di balik itu tetap ada kekhawatiran mengenai etika, privasi, serta sejauh mana teknologi ini dapat dikendalikan.

DeepSeek memang menawarkan alternatif yang menarik dengan segala keunggulannya, tetapi potensi risiko keamanan serta keterkaitannya dengan kebijakan Tiongkok masih menyisakan banyak pertanyaan. 

Terlebih lagi, Indonesia hingga kini belum memiliki regulasi yang jelas terkait penggunaan AI dari sumber asing, sehingga banyak aspek yang perlu diperhatikan.
*)Penulis: Luthfi Raihan Mahdi, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB University.