JAKARTA, CEKLISSATU -- Dari Seragam Polisi ke Podium Asia. Di balik riuh tepuk tangan penonton dan kibaran Merah Putih di arena Asian Games Aichi-Nagoya 2026, terdapat cerita panjang tentang latihan, pembinaan, pengelolaan organisasi, serta kerja keras banyak orang yang berlangsung jauh sebelum seorang atlet berdiri di podium.
Di antara mereka yang berada dalam ekosistem tersebut terdapat tiga figur dari lingkungan Kepolisian Negara Republik Indonesia yang kini memimpin organisasi olahraga nasional, yakni Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, Komjen Pol. (Purn.) Mohammad Fadil Imran, dan Irjen Pol. M. Awal Chairuddin.
Ketiga nama tersebut berada di cabang olahraga yang berbeda, yakni balap sepeda, bulu tangkis, dan soft tennis, dengan masing-masing memimpin organisasi yang menaungi pembinaan atlet di cabangnya.
Hingga 30 September 2026, ketiga cabang olahraga tersebut telah menyumbangkan 10 medali bagi Indonesia, terdiri atas dua emas, satu perak, dan tujuh perunggu, meskipun angka tersebut bukan keseluruhan perolehan medali kontingen Indonesia di Aichi-Nagoya.
Lintasan Dua Roda
Di suatu pagi di Nagoya, perhatian tertuju kepada para pesepeda yang melaju di lintasan dengan kecepatan tinggi, sementara setiap kayuhan menjadi bagian dari perjuangan panjang untuk membawa nama Indonesia ke podium Asian Games.
Dari cabang balap sepeda tersebut, Merah Putih akhirnya memperoleh tiga medali perunggu melalui Sayu Bella Sukma Dewi, Feri Yudoyono, dan Jasmine Azzahra Setyobudi dari nomor yang berbeda.
Sayu Bella lebih dahulu menyumbangkan perunggu dari nomor cross-country mountain bike putri, sebelum Feri Yudoyono menambah perunggu dari nomor putra dan Jasmine Azzahra Setyobudi melengkapi koleksi tersebut melalui BMX Racing putri.
Tiga medali itu menjadi bagian dari perjalanan pembinaan balap sepeda Indonesia yang tidak hanya berbicara tentang hasil perlombaan, tetapi juga menyangkut regenerasi atlet, kompetisi, pelatihan, fasilitas, serta keberlanjutan program pembinaan.
Di pucuk organisasi balap sepeda nasional terdapat Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, yang pada saat bersamaan menjalankan tugas sebagai Kapolri, sehingga keterlibatannya dalam olahraga mempertemukan dua dunia yang memiliki karakter berbeda tetapi sama-sama menuntut kedisiplinan dan kepemimpinan.
Nama Listyo Sigit sebagai Ketua Umum Indonesia Cycling Federation juga disebut dalam acara pelepasan kontingen Indonesia menuju Asian Games Aichi-Nagoya 2026, sehingga posisinya menjadi bagian dari struktur pembinaan cabang olahraga yang tampil di Jepang.
Dua tanggung jawab tersebut tentu memiliki ruang kerja yang berbeda, sebab sebagai Kapolri Listyo Sigit memimpin institusi dengan tugas utama menjaga keamanan dan menegakkan hukum, sedangkan sebagai ketua umum federasi olahraga ia berhadapan dengan persoalan pembinaan atlet, kompetisi, regenerasi, organisasi, serta target prestasi.
Namun, ketika para pesepeda Indonesia memasuki lintasan pertandingan, jabatan dan pangkat tidak lagi menentukan hasil karena yang diuji adalah kemampuan atlet, strategi pelatih, kesiapan fisik, serta ketahanan mental menghadapi lawan.
Prestasi tiga perunggu di Aichi-Nagoya juga tidak lahir dalam waktu singkat karena para atlet harus melewati proses latihan dan kompetisi yang panjang sebelum mencapai level Asian Games.
Dengan demikian, tiga medali tersebut lebih tepat dilihat sebagai bagian dari sebuah sistem pembinaan yang melibatkan atlet, pelatih, klub, organisasi, pemerintah, serta berbagai pihak pendukung lainnya.
Purnawirawan di Bulu Tangkis
Jika Listyo Sigit masih menjalankan tugas sebagai Kapolri, kisah Komjen Pol. (Purn.) Mohammad Fadil Imran berada pada babak yang berbeda karena ia kini telah memasuki masa purnabakti dari Kepolisian.
Fadil sebelumnya merupakan perwira tinggi Polri dan kemudian dipercaya memimpin Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI), sehingga perjalanan kariernya memperlihatkan peralihan dari ruang pengabdian kepolisian menuju pengelolaan salah satu cabang olahraga paling populer di Indonesia.
Fadil terpilih sebagai Ketua Umum PBSI untuk masa bakti 2024–2028, dan kepemimpinannya berlangsung ketika bulu tangkis Indonesia menghadapi tuntutan untuk mempertahankan tradisi prestasi sekaligus menyiapkan regenerasi atlet menuju berbagai kejuaraan internasional.
Aichi-Nagoya 2026 kemudian menjadi salah satu panggung penting bagi PBSI untuk memperlihatkan hasil pembinaan tersebut melalui raihan enam medali, yakni dua emas, satu perak, dan tiga perunggu.
Emas pertama datang dari nomor beregu putra setelah Indonesia melewati pertandingan final yang berlangsung dramatis menghadapi China, dengan tim Merah Putih bangkit dari ketertinggalan 0-2 untuk akhirnya menang 3-2.
Partai kelima menjadi penentu ketika Moh. Zaki Ubaidillah berhasil memastikan kemenangan Indonesia, sebuah momen yang kemudian menjadi salah satu catatan penting perjalanan bulu tangkis Indonesia di Aichi-Nagoya.
Emas kedua datang dari pasangan Leo Rolly Carnando dan Daniel Marthin yang berhasil menaklukkan pasangan China pada pertandingan final nomor ganda putra.
Sementara itu, Amri Syahnawi dan Nita Violina Marwah menyumbangkan perak dari nomor ganda campuran, sedangkan tiga medali perunggu melengkapi raihan bulu tangkis Indonesia dalam pesta olahraga Asia tersebut.
Enam medali itu tentu tidak dapat dilekatkan hanya kepada seorang ketua umum karena prestasi olahraga selalu merupakan hasil dari rangkaian kerja yang panjang dan melibatkan banyak unsur.
Atlet yang bertanding di lapangan merupakan ujung dari sebuah sistem yang di dalamnya terdapat pelatih, tim pendukung, tenaga medis, pengurus, klub, keluarga, serta program pembinaan yang telah dipersiapkan jauh sebelum pertandingan dimulai.
Menariknya, keberhasilan tersebut terjadi bersamaan dengan perubahan status Fadil dari perwira aktif menjadi purnawirawan Polri, tetapi peralihan itu tidak mengakhiri keterlibatannya dalam pembinaan olahraga karena ia tetap menjalankan mandat sebagai Ketua Umum PBSI.
Seragam dinas memang telah ditanggalkan, tetapi tanggung jawab mengelola organisasi olahraga dan menjaga kesinambungan pembinaan atlet masih menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya.
Perjuangan Cabang yang Senyap
Di antara sorotan besar terhadap bulu tangkis dan balap sepeda, terdapat satu cabang olahraga yang bergerak dengan perhatian publik yang relatif lebih kecil, yakni soft tennis, tetapi dari cabang tersebut Indonesia tetap mampu membawa pulang medali dari Aichi-Nagoya.
Tim beregu putra Indonesia berhasil mencapai semifinal sebelum langkah mereka dihentikan Jepang dengan skor 0-2, dan hasil tersebut sekaligus memastikan Indonesia memperoleh medali perunggu.
Di pucuk organisasi Persatuan Soft Tennis Indonesia atau PESTI terdapat Irjen Pol. M. Awal Chairuddin, yang dipercaya memimpin organisasi tersebut dalam periode pembinaan menuju berbagai kejuaraan internasional.
Kehadiran Awal Chairuddin di cabang ini memperlihatkan bahwa keterlibatan figur kepolisian dalam olahraga tidak hanya berlangsung di cabang yang memiliki tradisi popularitas tinggi, tetapi juga menjangkau cabang yang masih membutuhkan perluasan basis pembinaan dan perhatian publik.
Perjalanan soft tennis menuju podium juga menunjukkan bahwa prestasi tidak selalu lahir dari cabang dengan jumlah fasilitas dan sorotan terbesar, karena sebuah tim tetap dapat menciptakan kejutan ketika memiliki persiapan, strategi, kerja sama, dan kemauan untuk bersaing.
Bahkan, persiapan menuju Asian Games disebut berlangsung dalam waktu yang relatif singkat, sehingga keberhasilan mencapai semifinal dan memperoleh perunggu menjadi bagian penting dari perjalanan pembinaan cabang tersebut.
Bagi PESTI, satu medali perunggu mungkin berbeda skalanya dibandingkan enam medali yang diperoleh bulu tangkis, tetapi nilai sebuah medali tidak hanya dapat diukur dari jumlahnya.
Di balik perunggu tersebut terdapat pesan bahwa cabang olahraga yang tidak selalu berada di pusat perhatian tetap memiliki ruang untuk tumbuh apabila pembinaan atlet, kompetisi, pelatih, organisasi, dan dukungan terhadap prestasi dilakukan secara berkelanjutan.
Tiga Figur, Tiga Cabang, Satu Merah Putih
Jika ketiga kisah tersebut diletakkan dalam satu bingkai, terlihat tiga perjalanan yang berbeda dari figur kepolisian yang terlibat dalam pengelolaan olahraga nasional.
Listyo Sigit Prabowo merupakan Kapolri yang memimpin organisasi balap sepeda, Fadil Imran merupakan purnawirawan Polri yang memimpin PBSI, sedangkan Awal Chairuddin merupakan perwira tinggi Polri yang memimpin PESTI.
Mereka berada di organisasi yang berbeda dengan karakter olahraga yang juga berbeda, tetapi atlet-atlet dari ketiga cabang tersebut bertemu di panggung yang sama, yakni Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Hingga 30 September 2026, kontribusi ketiga cabang itu tercatat sebagai berikut.
Ada satu pemandangan yang menarik ketika membicarakan keterlibatan polisi dalam olahraga, karena pangkat dan jabatan memang menjadi bagian dari struktur organisasi tetapi tidak dapat menentukan siapa yang menang ketika pertandingan dimulai.
Pangkat tidak membuat sepeda melaju lebih cepat, tidak membuat kok jatuh tepat di garis belakang lapangan, dan tidak dapat menentukan apakah sebuah pukulan soft tennis masuk atau keluar.
Di arena pertandingan, atletlah yang menghadapi tekanan dan mempertaruhkan hasil latihan bertahun-tahun, sementara pelatih berada di sisi lapangan untuk membaca permainan dan tim pendukung bekerja memastikan kondisi fisik serta mental atlet tetap terjaga.
Karena itu, sebuah medali pada akhirnya merupakan hasil dari sebuah ekosistem yang jauh lebih besar daripada satu nama yang tercantum di struktur kepengurusan.
Ketua umum memiliki posisi penting karena ia bertanggung jawab terhadap arah organisasi, tata kelola, program pembinaan, serta bagaimana berbagai sumber daya dapat diarahkan untuk mendukung atlet.
Namun, keberhasilan organisasi baru memperoleh makna ketika sistem tersebut mampu menciptakan lingkungan yang memungkinkan atlet berkembang, bertanding secara kompetitif, dan mencapai prestasi di tingkat internasional.
Keterlibatan anggota dan pimpinan kepolisian dalam olahraga sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru karena institusi tersebut memiliki tradisi panjang dalam membina personel yang juga berprestasi sebagai atlet.
Yang menarik di Aichi-Nagoya adalah bagaimana figur dari lingkungan kepolisian hadir bukan hanya sebagai pembina atlet dari internal institusi, tetapi juga berada di pucuk organisasi olahraga yang membawa nama Indonesia dalam kompetisi internasional.
Dari perspektif tersebut, olahraga menjadi ruang pengabdian lain yang mempertemukan kepemimpinan, disiplin, pembinaan manusia, dan kepentingan prestasi nasional.
Namun, keberhasilan seorang atlet tetap tidak dapat dipisahkan dari kerja banyak pihak, sehingga keterlibatan figur kepolisian sebaiknya ditempatkan sebagai salah satu bagian dari ekosistem pembinaan, bukan sebagai satu-satunya penjelasan atas keberhasilan yang diraih.
Aichi-Nagoya memperlihatkan hasil yang konkret melalui tiga cabang tersebut, dengan 10 medali yang terdiri atas dua emas, satu perak, dan tujuh perunggu hingga 30 September 2026.
Di balik angka itu terdapat tiga organisasi, tiga pemimpin berlatar belakang Polri, puluhan atlet, para pelatih, serta jaringan pembinaan yang bekerja jauh sebelum pertandingan dimulai.
Seragam Polisi ke Seragam Merah Putih
Ada perubahan suasana ketika para pengurus olahraga meninggalkan ruang rapat dan masuk ke arena pertandingan karena di sana yang terlihat bukan lagi sekadar jabatan organisasi, melainkan perjuangan para atlet yang mengenakan seragam Merah Putih.
Listyo Sigit tetap seorang Kapolri, Fadil Imran tetap seorang purnawirawan jenderal polisi, dan Awal Chairuddin tetap seorang perwira tinggi Polri, tetapi dalam konteks Asian Games mereka berdiri sebagai bagian dari ekosistem yang mengantarkan atlet Indonesia ke arena persaingan Asia.
Pada akhirnya, publik mungkin akan lebih mengingat nama atlet yang berdiri di podium daripada nama orang yang berada di belakang struktur organisasi, karena atletlah yang menghadapi lawan, tekanan, kekalahan, dan tuntutan untuk menang.
Namun, perjalanan menuju podium tidak pernah dilakukan sendirian karena terdapat sistem yang harus bekerja agar seorang atlet memiliki kesempatan untuk berlatih, berkembang, berkompetisi, dan akhirnya membawa pulang medali.
Seorang atlet mungkin hanya membutuhkan beberapa menit untuk menentukan hasil sebuah pertandingan, tetapi seorang juara membutuhkan bertahun-tahun untuk mencapai titik tersebut melalui latihan, kompetisi, evaluasi, kegagalan, pemulihan, dan keberanian untuk kembali bertanding.
Karena itu, medali Aichi-Nagoya seharusnya tidak berhenti sebagai foto di podium, melainkan menjadi bahan evaluasi untuk memastikan sistem pembinaan mampu melahirkan atlet berikutnya.
Bagi Listyo Sigit dan organisasi balap sepeda, tiga perunggu dapat menjadi bagian dari proses regenerasi yang harus terus berjalan, sedangkan bagi Fadil Imran dan PBSI, dua emas, satu perak, dan tiga perunggu menjadi bagian dari upaya mempertahankan tradisi sekaligus menyiapkan generasi baru.
Bagi Awal Chairuddin dan PESTI, satu perunggu dapat menjadi pijakan untuk memperluas pembinaan soft tennis agar semakin banyak atlet muda memiliki kesempatan untuk berkembang dan bersaing di tingkat internasional.
Pada akhirnya, cerita mengenai keterlibatan polisi dalam olahraga bukan semata-mata cerita mengenai siapa yang duduk di kursi ketua umum, tetapi tentang bagaimana sebuah organisasi menggunakan kepemimpinan, sumber daya, dan jaringan yang dimilikinya untuk menciptakan sistem pembinaan yang berkelanjutan.
Aichi-Nagoya hanya menjadi satu panggung, sementara pekerjaan sesungguhnya justru berlangsung setelah para atlet turun dari podium dan kembali ke tempat latihan.
Di lapangan-lapangan latihan, di lintasan, di klub-klub daerah, serta di tempat-tempat sederhana tempat anak-anak pertama kali mengenal olahraga, masa depan prestasi Indonesia sedang dipersiapkan.
Medali hari ini akhirnya bukan garis akhir, melainkan pesan bahwa pembinaan harus terus berjalan agar ketika Asian Games berikutnya tiba, akan ada generasi baru yang siap kembali membawa Merah Putih ke podium.