BOGOR, CEKLISSATU - Tanggal 1 Juni dikenal sebagai Hari Lahir Pancasila, momen bersejarah yang menandai lahirnya dasar negara Indonesia. Nilai-nilai Pancasila tidak hanya tertulis dalam lima sila, tetapi juga tergambar melalui simbol-simbol yang terdapat pada lambang negara, Garuda Pancasila. Lambang yang sering terlihat di ruang kelas, kantor pemerintahan, hingga dokumen resmi itu ternyata menyimpan makna filosofis yang berkaitan dengan identitas bangsa Indonesia.
Garuda Pancasila resmi disahkan sebagai lambang negara pada 15 Februari 1950. Berdasarkan arsip Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, lambang tersebut merupakan hasil rancangan Sultan Hamid II yang kemudian disempurnakan bersama sejumlah tokoh, termasuk Presiden Soekarno.
Burung Garuda dipilih karena telah lama dikenal dalam tradisi Nusantara sebagai simbol kekuatan, keberanian, dan kebajikan. Sementara warna emas yang mendominasi tubuh Garuda melambangkan kejayaan dan keagungan bangsa Indonesia.
Baca Juga: Jelang Hari Kesaktian Pancasila, PDKB UPT Bogor Lakukan Pemeliharaan di Gardu Induk Lembursitu
Pada bagian dada Garuda terdapat sebuah perisai yang memuat lima simbol. Setiap simbol mewakili sila dalam Pancasila dan memiliki makna yang berbeda.
1. Bintang Emas
Bintang emas berlatar hitam menjadi lambang sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Simbol ini menggambarkan cahaya ketuhanan yang menjadi pedoman kehidupan masyarakat Indonesia. Bintang diartikan sebagai cahaya spiritual, sedangkan warna hitam melambangkan alam semesta.
2. Rantai Emas
Rantai emas melambangkan sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Mata rantai yang saling terhubung menggambarkan hubungan antarmanusia yang setara serta saling membutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat.
3. Pohon Beringin
Pada perisai Garuda Pancasila, pohon beringin menjadi simbol yang mewakili sila ketiga, Persatuan Indonesia. Pohon yang besar dan rindang dianggap sebagai tempat bernaung banyak orang. Simbol ini menggambarkan persatuan masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, budaya, dan agama.
4. Kepala Banteng
Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, dilambangkan dengan kepala banteng. Banteng dikenal sebagai hewan yang hidup berkelompok sehingga dianggap mewakili semangat musyawarah dalam mengambil keputusan bersama.
5. Padi dan Kapas
Padi dan kapas menjadi simbol sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Padi dan kapas dipilih untuk merepresentasikan dua kebutuhan dasar manusia, yakni pangan dan sandang. Keduanya menggambarkan kesejahteraan yang diharapkan dapat dirasakan seluruh rakyat Indonesia.
Selain lima simbol pada perisai, Garuda Pancasila juga memiliki makna lain yang sering luput dari perhatian. Jumlah bulu pada tubuh Garuda dirancang untuk menunjukkan tanggal kemerdekaan Indonesia, yaitu 17 Agustus 1945. Masing-masing sayap memiliki 17 helai bulu, ekor terdiri dari 8 helai bulu, pangkal ekor berjumlah 19 helai bulu, dan leher memiliki 45 helai bulu. Jika digabungkan, angka tersebut membentuk tanggal 17-8-1945.
Baca Juga: Wamenpora Taufik Hadiri Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila 2025 di Lubang Buaya
Pada bagian bawah Garuda juga terdapat pita bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika. Semboyan yang berasal dari kitab Kakawin Sutasoma karya Empu Tantular itu memiliki arti “berbeda-beda tetapi tetap satu jua” dan menjadi simbol persatuan bangsa Indonesia di tengah keberagaman.
Lebih dari sekadar lambang negara, Garuda Pancasila menjadi representasi nilai-nilai yang menyatukan masyarakat Indonesia. Simbol-simbol yang telah dikenalkan sejak bangku sekolah tersebut tidak hanya menjadi identitas nasional, tetapi juga pengingat akan prinsip-prinsip yang menjadi dasar kehidupan berbangsa dan bernegara hingga saat ini.
Siti Balqis Sari Manah