BOGOR, CEKLISSATU -Perjalanan seorang pelajar sering kali diwarnai oleh kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Inilah yang dibuktikan oleh Thriven Kevin Hadiwidjoyo, siswa kelas XII dari SMA Angkasa 1 Halim Perdanakusuma, Jakarta. Berkat kepeduliannya terhadap krisis air bersih di Indonesia, Thriven berhasil menciptakan sebuah inovasi sistem biofiltrasi air ramah lingkungan bernama Anmobys (Adaptive Nature-Based Modular Biofiltration System).
Berawal dari Pemandangan Sungai Berwarna Keruh di Perjalanan Kereta
Ide cemerlang ini tidak muncul dalam semalam. Thriven menceritakan bahwa gagasan tersebut lahir ketika ia mengamati aliran sungai yang kotor dan banyaknya sampah berserakan di sepanjang perjalanan menggunakan kereta dari Stasiun Bogor menuju Stasiun Cawang.
Tidak hanya berhenti pada rasa prihatin, Thriven yang merupakan warga asal Bogor itu pun mencermati limbah sabut dan arang kelapa yang sering kali menumpuk dan terbuang sia-sia. Dari pengamatan itu, ia melakukan riset mendalam secara mandiri.
"Serabut kelapa memiliki reaksi biologis yang dapat membersihkan air secara berkelanjutan, sementara arang kelapa memiliki pori-pori besar yang efektif untuk memfiltrasi air," jelas Thriven, Minggu 18 Oktober 2026.
Sistem Anmobys dirancang secara modular dan adaptif agar bisa diterapkan di berbagai kondisi perairan, mulai dari sungai, danau, hingga kawasan pelabuhan, dengan memanfaatkan material alami serta produk sampingan (by-product).
Jatuh Bangun Berinovasi hingga Ajang Internasional di Malaysia
Perjalanan riset Anmobys dimulai sejak bulan April 2026 ketika Thriven mengikutinya dalam ajang sains tingkat nasional OGITB. Meski belum berhasil keluar sebagai pemenang saat itu, semangatnya tidak surut. Ia terus menyempurnakan sistem dan melakukan riset ulang secara mandiri.
Kegigihan tersebut membawanya melangkah lebih jauh. Bersama rekan-rekan setimnya yang memiliki visi serupa di bidang lingkungan, Thriven membawa Anmobys berkompetisi di kancah internasional di Malaysia.
Di balik kesuksesan tersebut, ada cerita perjuangan tersendiri, termasuk insiden ketika sebagian peralatan tertinggal dan harus dirakit ulang dalam durasi waktu yang sangat singkat menjelang pameran.
Dukungan Penuh Keluarga dan Tantangan Riset ke Depan
Langkah besar Thriven tentu tidak lepas dari peran penting orang tua. Leni Aina Mustikawati, ibunda Thriven, mengaku sangat bangga dan surprise (terkejut) dengan ketekunan putranya. Ia bahkan sempat dibuat heran mendapati halaman rumahnya dipenuhi tumpukan sampah yang dikumpulkan Thriven untuk keperluan riset awal.
"Awalnya saya tidak menyangka, tapi sebagai orang tua, saya tentu harus memberikan jalan dan peluang seluas-luasnya," ungkap Leni.
Berkat dukungan orang tua dan pihak sekolah, Thriven mendapatkan fasilitas dispensasi waktu untuk fokus mengembangkan penelitiannya. Kendati demikian, Thriven mengakui bahwa tantangan terbesar yang dihadapinya saat ini adalah keterbatasan akses terhadap peralatan laboratorium standar industri untuk menguji kualitas air secara mikrobiologis dan ilmiah.
Oleh karena itu, ia sangat mengharapkan adanya dukungan lebih lanjut dari pemerintah maupun pihak terkait agar risetnya ini memiliki data valid yang siap diaplikasikan secara luas.
Menatap Masa Depan: Targetkan Kompetisi di Jepang dan Amerika Serikat
Kemudian, Thriven juga membagikan rencana besarnya ke depan. Setelah sukses melangkah ke Malaysia, ia bersiap mengikuti ajang Youth Environmental Science Project secara daring pada Januari 2027 serta membidik kompetisi sains lanjutan di Jepang pada tahun 2027.
Bagi Thriven, Anmobys bukan sekadar proyek perlombaan tingkat SMA semata, melainkan sebuah misi jangka panjang untuk membantu masyarakat Indonesia mendapatkan akses air bersih dan layak minum, terutama di tengah tantangan musim kemarau yang kerap memperparah krisis air.
Handy Purnama