JAKARTA, CEKLISSATU - Di tengah kepadatan ibu kota dan tantangan perubahan iklim yang semakin nyata, secercah harapan datang dari Kampung SAMTAMA di RW 03, Kelurahan Cempaka Putih Timur, Jakarta Pusat.
Kawasan permukiman padat Kampung Samtama di Cempaka Putih itu tak hanya berhasil mengelola sampah secara mandiri, tapi juga menata ulang hubungannya dengan alam, dan menjadikannya percontohan nasional Program Kampung Iklim (ProKlim) Lestari.
Menteri Lingkungan Hidup dan Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Hanif Faisol Nurofiq, datang langsung ke Kampung Samtama pada Selasa (1/7) untuk melihat dari dekat bagaimana perubahan itu benar-benar terjadi dari akar rumput.
Baca Juga: Upaya Mitigasi Perumda Air Minum Tirta Kahuripan Dalam Konservasi Sumber Mata Air Di Kabupaten Bogor
Kunjungannya bukan sekadar seremoni, tapi bentuk pengakuan terhadap gerakan warga yang telah membangun ketahanan iklim berbasis gotong royong.
"Tempat ini membuktikan betapa rapi dan terorganisirnya pengelolaan sampah di tingkat RW. Ini adalah bentuk nyata dari pembangunan berkelanjutan yang berakar pada kearifan lokal dan semangat gotong royong. Semoga bisa menjadi contoh perubahan di wilayah lainnya," ujarnya dikutip dari keterangannya, Rabu (2/7/2025).
Kampung SAMTAMA atau Sampah Tanggung Jawab Bersama, berdiri di atas lahan seluas 36 hektare, dihuni oleh lebih dari 3.700 jiwa, dan menghadapi tantangan klasik wilayah urban, seperti banjir, limbah, dan keterbatasan ruang terbuka hijau.
Baca Juga: Warga Jakarta Butuh Ruang Terbuka Hijau, Kawasan Monas Bakal Dibuka Hingga Pukul 10 Malam
Namun warga RW 03 menjawabnya dengan tindakan. Mereka membentuk sistem pengelolaan sampah berbasis rumah tangga, mulai dari pemilahan sampah, komposting, hingga daur ulang anorganik. Tak hanya itu, 90% rumah tangga kini rutin mengumpulkan minyak jelantah sebagai bahan bakar alternatif.
Langkah-langkah adaptif lainnya juga dijalankan. Sebanyak 11 sumur resapan telah dibangun, 38 titik jalur evakuasi banjir disiapkan, dan ruang retensi air diperluas. Warga bahkan mengelola air limbah domestik secara kolektif.
Di sisi lain, jalur-jalur gang disulap menjadi lorong hijau, taman ditata, dan pertanian hidroponik serta urban farming digalakkan melalui pusat pelatihan P4 Daun Hijau.
Baca Juga: Indonesia Perkuat Peran Global dengan Perdagangan Karbon
Kampung SAMTAMA menjadi bukti bahwa perubahan besar bisa dimulai dari gerakan kecil yang konsisten.
Bagi KLH/BPLH, keberhasilan ini menjadi titik tolak penguatan program ProKlim di wilayah urban lainnya di Jakarta dan Indonesia.