BOGOR, CEKLISSATU - Ketika melihat kemasan parfum premium, produk kecantikan, hingga dekorasi bernuansa elegan, warna ungu sering kali digunakan untuk menciptakan kesan eksklusif. Di berbagai negara, warna ini juga identik dengan kemewahan, kekuasaan, dan prestise. Namun, citra tersebut ternyata berakar dari sejarah panjang yang berlangsung selama ribuan tahun.

Jauh sebelum pewarna sintetis ditemukan, warna ungu termasuk salah satu warna paling sulit diproduksi di dunia. Pada masa peradaban Fenisia sekitar 1.500 tahun sebelum Masehi, masyarakat di wilayah pesisir Laut Mediterania menghasilkan pewarna ungu dari siput laut jenis murex. Pewarna ini kemudian dikenal sebagai Tyrian Purple, diambil dari nama kota Tyre yang berada di wilayah Lebanon saat ini.

Berbeda dengan pewarna kain biasa, proses pembuatan Tyrian Purple sangat rumit. Cairan pewarna diambil dari kelenjar kecil pada tubuh siput laut, lalu melalui proses fermentasi dan pengeringan yang memakan waktu lama. Menurut Encyclopaedia Britannica, pewarna tersebut menjadi salah satu warna paling berharga di dunia kuno karena biaya produksinya yang sangat tinggi.

Baca Juga: Pesinetron Ziska Zella Luncurkan Brand Venimeux untuk Semua Kalangan

Data yang sering dikutip dalam penelitian pewarna kuno menunjukkan bahwa sekitar 12.000 ekor siput murex hanya mampu menghasilkan sekitar 1,4 gram pewarna murni. Jumlah tersebut bahkan hanya cukup untuk mewarnai sebagian kecil pakaian. Fakta inilah yang membuat warna ungu menjadi barang mewah yang sulit dijangkau masyarakat biasa.

Tingginya biaya produksi membuat warna ungu berubah menjadi simbol status sosial. Pada masa Kekaisaran Romawi, pakaian berwarna ungu hanya boleh dikenakan oleh kalangan tertentu, terutama keluarga kekaisaran dan pejabat tinggi. Encyclopaedia Britannica mencatat bahwa jubah ungu digunakan sebagai penanda kedudukan kerajaan dan kekuasaan politik. Dari sinilah muncul istilah born in the purple, yang merujuk pada seseorang yang lahir dalam keluarga kerajaan.