JAKARTA, CEKLISSATU.COM - Penggunaan media sosial berkaitan dengan tingkat kecemasan anak muda di Indonesia.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan RI, Imran Pambudi mengatakan kelompok remaja dan dewasa muda menjadi mayoritas pengguna layanan internet.
Kehadiran media sosial meningkatkan kecenderungan seseorang untuk membandingkan nasib dengan orang lain.
Baca Juga: Jaker Bogor Nilai Ruang Terbuka Publik Jadi Kunci Hindari Anak dari Ketergantungan Gadget
Padahal, apa yang ada di media sosial belum tentu menjadi gambaran nyata. Seseorang boleh saja memamerkan kehidupan yang bahagia paripurna, tapi belum tentu itu hadir tanpa 'polesan'.
"Dia [seseorang] akan melihat apa yang terjadi di 'seberang' sana [orang lain]. Idolanya seperti apa, kesukannya seperti apa," ujar Imran, Senin (19/10/2026).
Hal tersebut, pada akhirnya menimbulkan kecemasan tersendiri pada individu. Seseorang akan membanding-bandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain yang dia lihat di media sosial.
Baca Juga: Anak Berusia di Bawah 16 Tahun Dilarang Memiliki Akun Medsos
"Itu akhirnya yang membuat cemas, kok dia di umurku ini bisa beli Porsche, saya kok masih naik motor. Sehingga dia membandingkan dengan orang lain," tuturnya.
Ia melihat hal ini berkaitan dengan kedewasaan seseorang dalam melihat fenomena sosial. Semakin baik tingkat kedewasaan seseorang, maka mereka akan lebih bisa menerima kenyataan.
Kematangan seseorang dalam berpikir, lanjut Imran, memainkan peran besar dalam hal ini. Berdasarkan beberapa studi, menurut Imran, otak manusia akan sepenuhnya matang dan dewasa pada usia sekitar 20-an.
"Kalau sebelum umur 20, otak masih berkembang, sehingga dia masih, kalau ada suatu hal, otak itu mencernanya belum benar," terangnya.