JAKARTA, CEKLISSATU – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus komitmen untuk mendorong warganya mampu kelola sampah mandiri.
Salah satu wilayah yang dapat dijadikan sebagai wilayah yang mampu kelola sampah mandiri adalah RW 19 Kelurahan Antapani Kota Bandung.
Warga berhasil kelola sampah mandiri melalui Jasmine Integrated Farming RW 19 Antapani Bandung, menjadikan lingkungan lebih bersih dan meraih penghargaan sebagai juara Program Kampung Iklim (Proklim) tingkat madya.
Baca Juga : Operasi Zebra Lodaya 2024 di Bogor
Salah satu pengurus Jasmine Integrated Farming RW 19 Antapani Bandung Yanti mengatakan, warga sudah aktif melakukan program kelola sampah mandiri sejak 2014.
“Setiap minggu bank sampah menerima sekitar 350 kg sampah yang sudah dipilah,” kata Yanti.
“Sebagian sampah kami sumbangkan ke pemulung, sebagian dikelola di bank sampah. Ada juga yang disedekahkan kepada masyarakat yang membutuhkan,” tambahnya.
Baca Juga : Toko Terang: Pusat Perlengkapan Rumah Tangga dan Akuarium Terlengkap di Bogor
Yanti menjelaskan, timbulan sampah dari sekitar 900 jiwa 301 KK, per hari 450 kg sampah per hari. Rata rata organik 800-1 ton per pekan. Menjelang puasa bisa naik sampai 1,5 ton.
Pemilahan sampah di RW 19 dibagi menjadi beberapa kategori, yaitu organik, residu, dan limbah khusus seperti B3.
Sampah organik diproses menjadi kompos, pakan magot, serta pupuk cair mikroorganisme lokal (MOL). Dengan pendekatan ini, tidak ada sampah organik yang berakhir di tempat pembuangan akhir. Residu seperti popok, tisu, dan limbah berbahaya lainnya disalurkan ke Dropbox khusus.
Baca Juga : Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas, Polda Metro Jaya Gelar Operasi Zebra Jaya 2024
“Selain sampah organik, bank sampah juga menerima minyak jelantah yang akan dimanfaatkan lebih lanjut. Rata-rata, sampah residu yang dihasilkan dalam satu minggu setara dengan satu triseda atau satu kubik,” ujar Yanti.
Sementara itu, Ketua RW 19 Kelurahan Antapani Tengah Dodi mengatakan, upaya untuk mengedukasi warga untuk kelola sampah mandiri dimulai dengan pendekatan dari rumah ke rumah, sambil membagikan ember dan menyediakan troli di setiap RT.
“Kami memberikan edukasi secara berkelanjutan kepada masyarakat agar mereka memahami pentingnya pemilahan sampah,” ucapnya.
Baca Juga : Alun-Alun Kampung jadi Program Unggulan Dokter Rayendara dan Eka Maulana Berdayakan UMKM Kota Bogor
Bahkan, petugas pengangkut sampah, dilatih untuk memastikan sampah tetap terpisah saat diangkut agar tidak tercampur kembali.
Lurah Antapani Tengah Teguh Haris Pathon menegaskan, fokus pada pemilahan sampah dengan target setiap RT mengumpulkan sekitar 130 kg sampah terpilah per minggu.
“Saat ini, 60 persen dari 24 RW di wilayah tersebut telah melakukan pemilahan sampah secara aktif,” bebernya.
Baca Juga : Jadikan Kota Bebas Sampah, Pj Wali Kota Bandung Dorong Integrasi Sistem Pengelolaan di Tingkat Kelurahan
Sampah organik yang terkumpul diproses menggunakan metode open windrow atau bata tetawang. Program ini telah menarik perhatian berbagai pihak, termasuk kunjungan dari daerah lain dan kalangan akademisi.
Panen kompos dilakukan setiap 40 hari sekali. Ini menjadi salah satu indikator keberhasilan pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
“Program pengelolaan sampah di RW 19 Antapani Tengah tidak hanya memberikan dampak positif bagi kebersihan lingkungan, tetapi juga mengurangi jumlah sampah yang harus dibuang ke tempat pembuangan akhir, menjadikannya contoh nyata pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang suks,” kata dia.