SRI LANKA, CEKLISSATU - Massa antipemerintah membakar beberapa rumah milik keluarga Rajapaksa, sejumlah menteri dan anggota parlemen setelah Mahinda Rajapaksa mengundurkan diri dari jabatan Perdana Menteri Sri Lanka.
Salah satu rumah yang dibakar adalah kediaman yang dijadikan museum oleh keluarga Rajapaksa di Desa Hambantota, bagian selatan Sri Lanka.
Aksi tersebut memicu bentrok dengan kubu pendukung pemerintah di luar kediaman Mahinda Rajapaksa. Kepolisian dan pasukan antihuru-hara kemudian dikerahkan. Aparat melepaskan gas air mata dan menembakkan meriam air.
Pemerintah juga mengerahkan puluhan ribu tentara, personel angkatan laut dan udara untuk berpatroli di jalan-jalan ibu kota Colombo.
Pemerintah Presiden Gotabaya Rajapaksa dan Perdana Menteri yang mengundurkan diri, Mahinda Rajapaksa, mengatakan bahwa kekuasaan luas bagi militer dan polisi untuk menahan dan menginterograsi orang-orang tanpa surat perintah penangkapan.
Militer dapat menahan orang hingga 24 jam sebelum menyerahkannya ke polisi. Aturan itu juga membuat petugas keamanan dapat menggeledah paksa properti pribadi, termasuk kendaraan pribadi.
"Setiap orang yang ditangkap petugas polisi harus dibawa ke kantor polisi terdekat," kata pemberitahuan perintah tersebut menetapkan tenggat waktu 24 jam bagi angkatan bersenjata untuk melakukan hal yang sama.
Walaupun banyak tentara yang dikerahkan, pejabat tinggi polisi di Colombo diserang pada Selasa sore 10 Mei 2022, oleh massa yang menuduhnya tidak berbuat cukup melindungi demonstran yang melakukan aksi protes damai.
Perdana Menteri Sri Lanka, Mahinda Rajapaksa, mengundurkan diri di tengah gelombang demonstrasi massal yang memprotes cara pemerintah menangani krisis ekonomi.
Pria berusia 76 tahun itu mengirimkan surat pengunduran diri kepada adiknya, Presiden Gotabaya Rajapaksa.
Dalam surat tersebut, dia menulis mengenai harapan dirinya untuk mengatasi krisis ekonomi namun kebijakan-kebijakan yang ditempuhnya tampaknya tidak memuaskan kubu oposisi kecuali kalau dia mundur.
Pengunduran diri, menurut Rajapaksa, diniatkan untuk mendorong terbentuknya "pemerintahan yang terdiri dari semua partai demi menuntun negara ini keluar dari krisis ekonomi".
Sejak gelombang demonstrasi muncul pada awal April, para pengunjuk rasa berkumpul di luar kantor perdana menteri guna menuntut Rajapaksa lengser.
Demonstrasi ini memicu bentrokan berdarah antara kubu antipemerintah dan pendukung Rajapaksa di Ibu Kota Kolombo. Sedikitnya 78 orang cedera akibat bentrokan tersebut, menurut pihak rumah sakit.
Sri Lanka mengalami krisis ekonomi terburuk sejak meraih kemerdekaan dari Inggris pada 1948. Pemerintah bahkan meminta warganya yang berada di luar negeri untuk mengirimkan uang ke dalam negeri demi memenuhi kebutuhan bahan pangan dan bahan bakar, setelah negara itu gagal membayar utang luar negeri senilai $51 miliar (Rp732 triliun).
Getty Images Mahinda Rajapaksa menjabat presiden selama dua periode, kemudian menjabat sebagai perdana menteri di bawah adiknya, Presiden Gotabaya Rajapaksa.
Cadangan devisa Sri Lanka telah habis dan tidak lagi bisa menopang kebutuhan rakyat, seperti makanan pokok, obat-obatan, dan bahan bakar.
Para dokter di Sri Lanka mengatakan sudah banyak rumah sakit kehabisan obat-obatan dan persediaan penting karena krisis ekonomi negara itu memburuk.
Kondisi ini membuat berang sebagian masyarakat mengingat kebutuhan hidup sehari-hari tak lagi terjangkau.
Pemerintah menyalahkan pandemi Covid yang mematikan sektor pariwisata. Namun, sejumlah pakar menilai pemerintah salah mengelola ekonomi.