KOTA BOGOR. CEKLISSATU – Penjabat (PJ) Wali Kota Bogor, Herry Antasari, menegaskan pentingnya harmonisasi visi dan misi Wali Kota dan Wakil Wali Kota terpilih, Dedie A Rachim dan Jenal Mutaqien dengan program kerja Pemerintah Kota (Pemkot) yang telah disusun. Hal ini ia sampaikan dalam pertemuan dengan tim transisi kemarin.
“Tugasnya setiap hari, setiap saat, setiap jam berkomunikasi dengan OPD-OPD terkait untuk membicarakan berkaitan dengan internalisasi dan harmonisasi visi misinya. Tugasnya Pak Dedie-JM ini ke dalam RPJMD yang nanti akan dibuat, dan juga ke dalam yang tahun ini, 2025, perubahannya akan lebih cepat. Sehingga lebih bersinergi antara program Pemkot yang sudah disusun di era APBD 2025 dengan keinginan Wali Kota dan Wakil Wali Kota terpilih,” jelas Herry.
Herry juga menyebutkan bahwa proses harmonisasi akan lebih teknis dan melibatkan berbagai pihak, termasuk OPD, asisten-asisten, Sekda, dan Baperida.
Beberapa isu besar telah dibahas secara umum, dan ia memastikan bahwa komunikasi dengan Wali Kota terpilih telah berlangsung secara intensif.
“Tadi kita secara umum saja menyepakati beberapa hal. Ada beberapa isu besar yang saya sampaikan, tetapi saya kira itu sudah diketahui oleh teman-teman media dan oleh Pak Dedie selama ini, karena saya terus berkomunikasi. Banyak kesempatan yang disesuaikan antara program yang sudah ada dengan visi-misi beliau,” tambahnya.
Herry juga menyampaikan kabar baik terkait sinergi program antara Pemkot dan visi-misi Dedie-JM.
Baca Juga: Pemkot Bogor Siapkan Skema Pembiayaan APBD untuk Biskita Transpakuan
Menurutnya, tidak banyak perubahan besar yang perlu dilakukan karena visi-misi Wali Kota dan Wakil Wali Kota terpilih sudah realistis dan sejalan dengan kebutuhan Kota Bogor.
“Visi-misinya beliau banyak yang sudah satu frekuensi dan sejalan dengan apa yang sudah disusun. Visi-misinya itu realistis, mengikuti kemampuan kita, benar-benar sesuai kebutuhan Kota Bogor. Mungkin karena beliau sebelumnya adalah Wakil Wali Kota, sehingga memudahkan teman-teman di Baperida dan OPD untuk menyusun penyesuaiannya,” jelas Herry.
Baca Juga: Soal Tumpukan Sampah di Pasar Caringin, Pemkot Bandung Beri Teguran Keras Pengelola
Sebagai contoh, Herry menyoroti program sekolah satu atap (satap) yang menjadi fokus Dedy Rachim. Menurutnya, harmonisasi hanya perlu dilakukan pada aspek volume dan lokasi pelaksanaan program.
“Kalau soal sekolah satap, itu sudah ada di RPJMD kita, tinggal volumenya saja yang mungkin berbeda. Hal-hal seperti ini yang akan disesuaikan,” tutupnya.
(Levinda Melati)