JAKARTA, CEKLISSATU - Belakangan permainan lato-lato tengah digemari oleh masyarakat Indonesia. Bahkan, seorang polisi sempat membagikan video tutorial bermain lato-lato.
Namun, anggota Polres Sungai Hulu Utara tersebut dihukum push up setelah video tutorial bermain lato-lato yang dibuatnya viral.
Anggota polisi bernama Aipda Dwi Hartono pun akhirnya minta maaf.
Dalam video permintaan maaf, dia mengatakan niatnya hanya menghibur dan melakukan pendekatan humanis ke masyarakat.
"Video itu saya buat semata-mata hanya untuk hiburan kepada masyarakat sebagai salah satu bentuk pendekatan yang humanis. Sekali lagi saya mohon maaf, saya menyesal dan saya siap mempertanggungjawabkan apa yang saya buat dan ini menjadi pelajaran yang berharga buat saya," ujar Dwi dalam video.
Sementara itu, sejumlah netizen merasa terhibur dan menilai tak ada yang salah dengan video Aipda Dwi.
Kapolda Kalimantan Selatan Irjen Andi Rian menjelaskan video Dwi justru memberikan contoh buruk.
Menurutnya, perilaku Dwi di akhir video berjudul 'Tutorial mudah bermain latto latto' itu contoh buruk. Dia menekankan kekhawatiran pada anak-anak, jika yang kesal karena gagal bermain lato-lato akan meniru sikap Dwi, yaitu membanting barang.
"Coba dilihat hingga akhir videonya. Tidak elok dilihat seorang polisi membanting barang, dalam hal ini lato-lato. Jika dilihat dan ditiru anak kecil bagaimana? Kita tahu penggemar permainan lato-lato kebanyakan kan anak kecil," ujar Andi Rian.
"Itu dia bukan mengajari bermain lato-lato yang benar, malah memberi contoh kalau kesal dengan suatu hal, tidak bisa bermain lato-lato, lempar atau banting barang," imbuhnya.
Andi Rian menyebutkan banyak video-video positif dan lucu yang bisa menjadi inspirasi Aipda Dwi Hartono dalam membuat konten humanis. Dia menegaskan tak mempermasalahkan anggota yang bermain lato-lato.
"Kalau ingin membuat video humanis, lucu, menghibur, banyak contohnya saya kira. Jadi yang disorot itu bagian akhir videonya, bukan soal yang bersangkutan (Aipda Dwi Hartono-red) main lato-lato," tegasnya.