YOGYAKARTA, CEKLISSATU.COM -- Gubernur DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X menyebutkan bahwa ada sebuah tendensi dalam setiap upaya pelestarian, yakni manusia sering kali tanpa disadari lebih fokus pada yang Tangible.
Seperti bangunan, struktur, zona, dan kawasan, sehingga, perlahan-lahan lupa pada yang Intangible. Seperti nilai-nilai, ingatan kolektif, praktik hidup, dan makna yang membentuk jiwa dari tempat itu sendiri.
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim mengungkapkan bahwa Bogor punya potensi untuk mengajukan kepada UNESCO agar dijadikan sebagai salah satu Kota Hijau pertama di Asia.
Sebab, bukan semata-mata Kebun Raya sebagai taman fisik, melainkan konsep perencanaan kota berbasis ruang hijau.
Baca Juga: Rakernas JKPI XI, Wali Kota Bogor Dedie Rachim: Komitmen Bersama Melestarikan Warisan Budaya
Filosofi menjadikan Kebun Raya sebagai pusat kota, identitas ekologis dan budaya Kota Bogor, kekhasan tata kota yang sangat langka di dunia, serta nilai sejarah, sosial, dan budaya yang melekat padanya.
"Jadi Bogor punya potensi untuk mengajukan kepada UNESCO untuk dijadikan sebagai salah satu kota hijau pertama di Asia yang memiliki internasional value," ungkap Dedie Rachim.
"Karena berdasarkan perencanaan sejak awal, Bogor itu menjadikan Kebun Raya sebagai pusat kota dan di dalam perencanaan perkotaan, ini jarang ada, hanya ada Bogor dan New York," terang Dedie Rachim.