BOGOR, CEKLISSATU.COM - Tour Malasari Halimun Salak 2025 tidak hanya menjadi panggung perayaan wisata budaya dan penguatan UMKM lokal, tetapi juga menghadirkan aksi konkret dalam upaya pelestarian alam.
Di Tour Malasari Halimun Salak juga, Pemerintah Kabupaten Bogor menyisipkan momen penting, yaitu pelepasliaran dua jenis burung bernilai ekologis tinggi ke habitat alaminya di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Sabtu (23/8/2025).
Dua burung yang dilepas liarkan ke habitan aslinya di kawasan Halimun Salak tersebut adalah Kerak Kerbau (Acridotheres javanicus) yang akrab dikenal sebagai Jalak Kebo, dan Elang Tikus (Elanus caeruleus), salah satu predator alami ekosistem padang rumput.
Baca Juga: Wakil Bupati Bogor Jaro Ade Terpukau Penampilan Wayang Golek di Tour Malasari Halimun Salak
Prosesi pelepasliaran dilakukan langsung oleh Bupati Bogor Rudy Susmanto dan Wakil Bupati Jaro Ade, disaksikan oleh wisatawan, warga lokal, dan komunitas pecinta alam.
Kerak Kerbau: Burung Kicau yang Mulai Rentan
Kerak Kerbau atau dikenal juga dengan nama Jalak Kebo, merupakan burung berukuran sedang dengan ciri khas bulu abu-abu gelap dan bercak putih mencolok di bagian sayap.
Dikenal karena suara kicauannya yang nyaring dan harmonis, burung ini kini berstatus Rentan (Vulnerable) menurut IUCN, akibat maraknya perburuan dan perdagangan burung liar.
Baca Juga: Respon Warga Malasari Soal Kedatangan Bupati Bogor Rudy Susmanto dan Perbaikan Jalan
Habitat alami Jalak Kebo tersebar di kawasan Asia Timur hingga Asia Tenggara, termasuk di wilayah Jawa, Bali, dan Sulawesi.
Pelepasliaran burung ini menjadi langkah penting dalam menjaga populasinya di alam bebas.
Elang Tikus: Predator Kecil Penjaga Rantai Ekosistem
Berbeda dengan Jalak Kebo, Elang Tikus adalah burung pemangsa dari keluarga Accipitridae.
Baca Juga: Dari Balik Kabut Pegunungan, Tour Malasari Halimun Salak Menyapa Dunia
Dengan panjang tubuh sekitar 30 cm dan iris mata merah menyala saat dewasa, elang ini dikenal aktif memburu tikus dan hewan kecil lainnya di padang rumput terbuka.
Perannya krusial dalam menjaga keseimbangan populasi hama di alam.
Meskipun tidak tergolong burung bermigrasi jauh, Elang Tikus memiliki pola berpindah yang menyesuaikan perubahan cuaca, menjadikannya indikator penting kondisi lingkungan suatu kawasan.
Baca Juga: Bupati Rudy Susmanto Jemput Bendera Pusaka Merah Putih dari Desa Malasari Menuju Pendopo Cibinong
Konservasi di Tengah Wisata: Komitmen untuk Alam
Aksi pelepasliaran ini bukan sekadar simbolis, melainkan bentuk nyata komitmen Pemkab Bogor dalam upaya konservasi satwa liar dan pelestarian keanekaragaman hayati.
Kawasan Malasari, yang menjadi pintu gerbang TNGHS, memang dikenal sebagai kantong biodiversitas utama di Jawa Barat, sehingga sangat tepat dijadikan pusat edukasi ekowisata dan pelestarian lingkungan.
"Ini bukan hanya tentang melepas burung ke alam. Ini adalah pesan bahwa pembangunan dan pelestarian harus berjalan beriringan," ujar Bupati Bogor, Rudy Susmanto.
Baca Juga: Kirab Bendera Pusaka Merah Putih akan Dimulai Dari Desa Malasari, Momen Istimewa HUT Ke-80 RI
Tour Malasari Halimun Salak tahun ini diharapkan dapat memperkuat citra Malasari sebagai destinasi wisata berbasis budaya dan alam berkelanjutan, sekaligus mendorong kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga warisan ekologis untuk generasi mendatang.