“Bagi saya, Seren Taun bukan sekadar tontonan. Ini cerminan dari akar budaya yang harus terus kita jaga, bukan hanya sebagai warisan, tapi juga sebagai pedoman hidup sehari-hari,” katanya.
Kehadiran generasi muda dalam acara ini juga memberi warna tersendiri.
Anissa, mahasiswi dari Universitas Trisakti Jakarta, yang datang bersama temannya Diva, mengaku terkesan dengan semangat gotong royong yang masih hidup di tengah masyarakat adat Malasari.
“Di tengah era digitalisasi, banyak nilai budaya yang mulai luntur. Tapi di sini, kami merasakan kembali semangat kebersamaan dan kekeluargaan yang sudah mulai jarang ditemui di kota besar,” ujar Anissa.
Seren Taun tak hanya menjaga nilai adat dan budaya, tetapi juga membuka ruang untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui promosi kerajinan tangan dan produk lokal.
Lebih dari sekadar perayaan tahunan, Seren Taun menjadi bukti bahwa tradisi tak harus dikurung masa lalu.