KABUPATEN BOGOR, CEKLISSATU.COM -- Di balik gerobak biru yang mengilap oleh terik mentari, seorang pria berdiri tenang. Tangannya lincah meracik mie, tapi wajahnya menyimpan keheningan seperti mengenang sesuatu yang tak pernah benar-benar pergi.
Namanya Acep Muhajar, tinggal di kampung kecil Muncang Babakan di Desa Sipak, Kecamatan Jasinga, ia bukan hanya penjual mie ayam. Ia adalah penjaga kenangan. Ya, penjaga kenangan.
Sudah delapan tahun Acep berjualan di tempat ini, melanjutkan apa yang ditinggalkan almarhum ayahnya, Bapak Memed, sosok yang begitu dikenang oleh warga sekitar, termasuk penulis.
Bagi mereka yang tumbuh bersama aroma mie ayam sejak 1990-an, warung kecil ini bukan sekadar tempat makan. Ia adalah penanda waktu.
“Saya mulai jualan pas Bapak meninggal. Waktu itu saya pulang dari kerja, dan langsung merasa harus nerusin,” kata Acep, suaranya pelan, matanya menatap sendu ke dalam panci kuah yang mengepul.
Bukan hal mudah berdiri di tengah kompetisi yang kian padat. Kini, puluhan gerobak mie ayam berjejer dari ujung kampung ke pasar kecamatan.
Tapi Acep tak gentar, Ia tahu, yang ia bawa bukan sekadar rasa, tapi rasa yang tak bisa dibuat ulang oleh siapa pun.
“Saya tetap jual Rp10.000 seporsi. Kalau soal ramai, ya kadang ramai, kadang sepi. Tapi yang saya jaga bukan cuma jualannya,” ujar Acep. “Yang lebih mahal dari sebuah warisan, ya kenangan itu sendiri.”
Baca Juga: Tingkatkan Potensi Wisata Berbasis Sungai, Bupati Bogor Berikan Ini untuk Desa Wisata Sipak
Kalimat itu ia ucapkan lirih, seperti mantera. Dan mungkin benar adanya, warisan tak melulu soal harta atau benda.
Kadang ia hidup dalam cara menggenggam sendok kayu, dalam racikan sambal bawang, atau dalam tawa pelanggan lama yang berkata, “Rasanya masih sama kayak dulu, Cep.”
Acep masih menggunakan resep ayahnya, tanpa perubahan. Kaldu ayam direbus perlahan, mie direbus pas, dan topping ayam kecap gurih manis itu masih punya rasa yang mengingatkan siapa pun akan masa lalu. Bahkan sendok dan mangkuk yang digunakan pun masih beberapa peninggalan sang ayah.
“Kadang saya kangen Bapak. Tapi setiap saya jualan, rasanya kayak dia masih di sini. Berdiri di sebelah saya,” kata Acep sambil tersenyum kecil.
Tak banyak yang tahu, setiap subuh Acep selalu membersihkan gerobak sambil bersenandung lirih tentang hal yang seolah menjadi penghubung batin dengan sang bapak yang telah tiada.
Di era makanan viral dan kuliner serba instan, mie ayam Acep barangkali terasa sederhana. Tapi justru dalam kesederhanaan itulah makna tumbuh.
Di tengah arus modernitas, Acep menunjukkan bahwa ada sesuatu yang lebih penting dari sekadar omzet: keutuhan rasa, kejujuran warisan, dan cinta pada masa lalu.
Ia tidak berharap gerobaknya viral di media sosial. Ia hanya berharap, setiap orang yang makan di situ bisa pulang dengan perut kenyang dan hati hangat.
Baca Juga: Desa Tegalwangi Jasinga Bogor Pertahankan Tradisi Leluhur, Lestarikan Padi Lokal hingga Leuit
“Bapak saya pernah bilang, yang penting orang makan mie kita itu puas dan senang. Dan itu yang saya jaga sampai sekarang,” ucap Acep.
Kampung Muncang Babakan mungkin bukan destinasi wisata kuliner, tapi ia menyimpan kisah yang tak bisa dicicipi di tempat lain. Yakni, kisah tentang anak yang setia menjaga jejak ayahnya, melalui sepiring mie ayam yang sederhana.
Dan selama gerobak itu masih berdiri, selama api di bawah pancinya terus menyala, maka cerita tentang Bapak Memed takkan pernah benar-benar mati.
Karena, seperti kata Acep, "Yang lebih mahal dari sebuah warisan adalah kenangan."