BOGOR, CEKLISSATU.COM – Di antara riuh modernisasi Kabupaten Bogor, terselip sebuah tempat yang membisu namun penuh cerita.
Di Kampung Mekarjaya Cigowong, Desa Sukamaju, Kecamatan Cigudeg, Petilasan Ki Buyut Jamaludin bukan hanya seonggok batu cadas dan puing bangunan tua, melainkan sebuah gerbang menuju masa lalu.
Di sinilah, sejarah zaman Hindia Belanda berpadu dengan kisah-kisah mistis tentang Batu Keong yang hidup dan kekuatan kedigdayaan yang melegenda, menjadikannya sebuah oase di mana realitas dan mitos berjalan beriringan.
Baca Juga: Jalan Desa Garisul Dibangun, Warga Harap Mobilitas dan Nilai Sejarah Meningkat
Warisan Sejarah yang Terabaikan
Meski menyimpan kekayaan sejarah dan budaya, keberadaan Petilasan Ki Buyut Jamaludin seolah luput dari perhatian pemerintah daerah.
Peninggalan yang seharusnya menjadi aset pariwisata dan edukasi ini dibiarkan apa adanya, tergerus oleh alam dan waktu.
Tidak ada papan petunjuk yang memadai, fasilitas penunjang bagi pengunjung pun nyaris tak ada. Kondisi ini membuat akses menuju lokasi cukup sulit, sekaligus mengikis potensi tempat ini untuk dikenal lebih luas.
Baca Juga: Misteri Gunung Pancar, Legenda dan Mitos yang Menghiasi Sentul Bogor
Mitos yang Bertahan di Tengah Ketidakpedulian
Warga setempat tetap menjaga dan merawat petilasan ini dengan swadaya. Mereka sadar, di balik mitos batu keong dan kedigdayaan leluhur, ada identitas dan nilai luhur yang perlu dilestarikan.
“Cerita itu sudah lama ada di kampung ini. Dari orang tua ke anak, dari kakek ke cucu. Saya sendiri tahu kisah batu keong itu dari orang tua saya,” tutur Karma Hidayat, seorang warga yang ditemui Ceklissatu.com pada Jumat (5/9/2025).
Kisah-kisah itu tak hanya menjadi dongeng pengantar tidur, melainkan pengingat akan ketangguhan dan kecerdikan para pendahulu. Namun, tanpa dukungan pemerintah, upaya warga akan terasa berat.
Ironisnya, di tengah gencarnya promosi destinasi wisata baru di Bogor, tempat-tempat bersejarah seperti Petilasan Ki Buyut Jamaludin justru terlupakan.
Baca Juga: Pesona Curug Putri Kencana, Dibalut Mitos dan Keindahan Alam
Seolah-olah, narasi pembangunan lebih mengutamakan yang baru dan modern, meninggalkan warisan budaya yang seharusnya menjadi fondasi jati diri.
Sudah saatnya Pemerintah Kabupaten Bogor melirik kembali potensi yang ada dan merangkul komunitas lokal untuk bersama-sama melestarikan dan mengembangkan situs itu.
Seperti halnya cerita rakyat lain di Nusantara, ia menjadi pengikat antara generasi, sekaligus pengingat bahwa di balik batu-batu bisu itu, ada jejak kehidupan yang pernah berdenyut.
Menariknya, petilasan Ki Buyut Jamaludin bukan hanya tentang cerita gaib. Alam di sekitarnya menyimpan pesona yang sama misteriusnya.
Baca Juga: Begini Mitos dan Misteri di Kebun Raya Bogor, Ada Pohon Pengikat Tali Jodoh
Leuwi Sangiang berdiri dengan aliran air yang jernih, dikelilingi hutan hijau yang lebat, menyuguhkan pemandangan yang membuat siapa pun merasa sedang melangkah ke dalam dimensi lain.
Tebing cadas menjulang, akar-akar pohon tua menjuntai, dan suara burung-burung hutan menambah suasana mistis yang alami.
Petilasan Ki Buyut Jamaludin di Leuwi Sangiang bukan sekadar ruang hening yang menyimpan cerita rakyat. Ia adalah pertemuan antara sejarah, legenda, dan pesona alam yang belum banyak tersentuh.