BOGOR, CEKLISSATU– Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor mulai mempercepat langkah antisipasi menghadapi musim kemarau yang diprediksi mencapai puncaknya pada akhir Agustus hingga September 2026. Selain fokus melakukan normalisasi sungai, Pemkab juga menyiapkan berbagai langkah mitigasi untuk mencegah dampak kekeringan terhadap masyarakat, sektor pertanian, dan perikanan.

Bupati Bogor Rudy Susmanto mengatakan, saat ini pemerintah daerah tengah melakukan normalisasi saluran air dan sungai di sejumlah wilayah, mulai dari Kecamatan Kemang, Ciseeng, Parung, hingga Rancabungur. Dalam proses tersebut, ratusan bangunan yang berdiri di bantaran sungai ditata, termasuk dilakukan pembongkaran demi mengembalikan fungsi aliran air.

"Memang ada ratusan rumah di atas bantaran kali atau di atas sungai yang akhirnya kita lakukan penataan dan pembongkaran," ujar Rudy.

Selain penataan sungai, Pemkab Bogor juga menggelar rapat khusus membahas kesiapsiagaan menghadapi bencana kekeringan. Langkah ini dilakukan menyusul mulai munculnya kekeringan di sejumlah kecamatan dan desa di Kabupaten Bogor.

Baca Juga: Ungkap Kasus Peredaran Narkotika Varian Baru di Kabupaten Bogor

Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim kering diperkirakan terjadi pada akhir Agustus hingga September dan berlanjut menuju Oktober. Karena itu, pemerintah memilih bergerak lebih awal agar dampaknya dapat ditekan.

Menurut Rudy, prioritas utama pemerintah adalah memastikan kebutuhan masyarakat yang terdampak tetap terpenuhi. Selain itu, Pemkab juga berupaya melindungi sektor ekonomi yang rentan terhadap kekeringan, khususnya lahan pertanian di wilayah Bogor Timur dan sentra perikanan di kawasan Ciseeng.

Ia mengungkapkan, sejumlah kolam ikan mulai mengalami penyusutan air, sementara beberapa areal persawahan juga mulai mengering. Kondisi tersebut dikhawatirkan berujung pada puso atau gagal panen apabila curah hujan tetap rendah dalam satu hingga dua bulan ke depan.

Rudy juga menyoroti mulai mengeringnya kawasan hulu, termasuk di wilayah wisata Puncak. Namun, ia menegaskan fenomena ini merupakan dampak perubahan iklim yang tidak hanya dirasakan Kabupaten Bogor, melainkan hampir seluruh wilayah Jawa Barat hingga berbagai daerah di Indonesia.

"Yang terpenting, kita jangan menunggu sampai beberapa wilayah mengalami kekeringan yang parah. Hari ini harus dikejar bersama-sama dengan langkah-langkah antisipasi," tegasnya.