Rusli menilai, dampak penutupan tambang akan merembet ke sektor pendidikan dan ekonomi keluarga.
"Kalau kondisi ini berlanjut, orang tua akan lebih memilih biaya makan ketimbang ongkos sekolah anaknya. Akibatnya bisa terjadi putus sekolah," katanya.
Selain soal ekonomi, Rusli juga menyinggung persoalan infrastruktur jalan. Menurutnya, jalur Bunar–Rengasjajar–Bitung sejak lama disebut sebagai jalan raya Sudamanik, yang sejak tahun 80-an sebagian besar dikelola dan diperlebar oleh perusahaan tambang PT Sudamanik.
"Sejarah mencatat, perbaikan jalan ini banyak ditopang oleh perusahaan tambang, bukan hanya pemerintah," jelasnya.
Rusli khawatir, jika kebijakan penutupan tambang tidak segera dievaluasi, status Desa Rengasjajar yang kini berpredikat sebagai desa maju bahkan desa mandiri bisa turun menjadi desa berkembang akibat daya beli masyarakat yang anjlok.
"Kalau daya beli turun drastis, kami khawatir juga akan berdampak pada meningkatnya kriminalitas di desa," tegasnya.