BOGOR, CEKLISSATU.COM— Potensi bencana alam dan konflik sosial di sejumlah wilayah membuat Polri meningkatkan kesiapsiagaan. Sebanyak 5.582 personel disiapkan untuk dikerahkan ke daerah yang membutuhkan tambahan kekuatan.
Kesiapan tersebut ditunjukkan melalui apel gelar pasukan Operasi Aman Nusa I dan Aman Nusa II yang digelar di Satuan Latihan (Satlat) Brimob, Cikeas, Kabupaten Bogor, Senin (7/9/2026).
Apel dipimpin langsung Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo. Selain mengecek kesiapan personel, Polri juga memastikan berbagai peralatan pendukung operasi dalam kondisi siap digunakan.
Wakil Asisten Utama Kapolri Bidang Operasi (Waastamaops Kapolri), Irjen Pol Laksana, mengatakan ribuan personel tersebut merupakan kekuatan dari Mabes Polri yang sewaktu-waktu dapat diperbantukan kepada jajaran Polda.
“Polri melaksanakan apel kesiapan dalam rangka Operasi Aman Nusa I dan Aman Nusa II. Jumlah dari anggota yang diapelkan itu adalah 5.582 personel,” kata Laksana.
Menurut dia, personel tersebut tidak hanya dipersiapkan untuk menghadapi bencana alam, tetapi juga untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya konflik sosial.
Kekuatan dari Mabes Polri itu nantinya dapat ditempatkan dalam status Bawah Kendali Operasi (BKO) di wilayah yang membutuhkan dukungan tambahan.
“Jumlah ini adalah kekuatan yang ada di Mabes Polri untuk nantinya Bawah Kendali Operasi (BKO)-nya kepada Polda yang memerlukan bantuan dari Mabes Polri,” ujarnya.
Kadiv Humas Polri Irjen Pol Johnny Eddizon Isir menjelaskan, kesiapan tersebut terbagi dalam dua operasi. Operasi Aman Nusa I disiapkan untuk menghadapi konflik sosial, sedangkan Operasi Aman Nusa II difokuskan pada penanganan bencana alam.
Sejumlah potensi bencana menjadi perhatian Polri, mulai dari gempa bumi, kebakaran hutan dan lahan, hingga aktivitas vulkanik sejumlah gunung api.
Polri turut mencermati aktivitas Gunung Sinabung di Sumatra, Gunung Anak Krakatau, Gunung Semeru, Gunung Lewotobi di Nusa Tenggara Timur, serta Gunung Ibu di Halmahera.
“Kita juga mencermati terkait dengan aktivitas gunung-gunung vulkanik, mulai dari Sumatra yaitu Gunung Sinabung, kemudian Gunung Anak Krakatau, kemudian Gunung Semeru, terus Gunung Lewotobi yang ada di NTT, dan Gunung Ibu yang ada di Halmahera,” kata Johnny.
Kesiapan tidak hanya dilakukan dari sisi jumlah personel. Polri juga menyiapkan berbagai perangkat pendukung yang dapat digunakan dalam kondisi darurat.
Peralatan tersebut antara lain helikopter, pesawat fixed-wing, kendaraan lapangan, dapur lapangan, fasilitas water treatment, serta mobil kesehatan.
Selain itu, personel dengan kemampuan khusus juga disiapkan untuk mendukung pencarian dan evakuasi, pelayanan kesehatan hingga pendampingan psikologis bagi masyarakat yang terdampak bencana.
“Baik itu heli, baik itu fixed-wing, baik itu kendaraan, ada water treatment, ada mobil kesehatan, sampai dengan personel yang mengawali ada dari psikologi untuk trauma healing, dari anggota yang pencarian, dari anggota yang melaksanakan evakuasi, perawatan, Dokkes, segala macam,” jelasnya.
Polri juga menyiapkan pola dukungan antardaerah. Polda yang wilayahnya tidak terdampak bencana dapat mengirimkan personel untuk memperkuat daerah lain yang membutuhkan bantuan.
Langkah tersebut dilakukan agar penanganan di lokasi bencana dapat diperkuat dengan cepat apabila terjadi peningkatan kebutuhan personel maupun sumber daya di lapangan.
Dengan skema Operasi Aman Nusa I dan II, Polri menyiapkan kekuatan personel, peralatan, serta dukungan lintas wilayah untuk menghadapi potensi bencana alam dan konflik sosial sepanjang 2026.