BOGOR, CEKLIS SATU – Kondisi rupiah terhadap dolar AS terus menunjukkan arah yang kurang menggembirakan. Tak kunjung menguat, nilai tukar mata uang Indonesia justru ambles ke titik terendah sepanjang catatan. Hal ini sontak memicu kekhawatiran akan lonjakan inflasi yang bisa menggerogoti kantong warga, terutama menjelang pertengahan tahun 2026.

Berdasarkan data transaksi pada Jumat (15/5/2026), kurs dolar AS sempat menyentuh angka psikologis yang baru, yakni di atas Rp17.600 per dolar AS. Pelemahan ini tidak hanya bergerak di ranah bursa saham atau perbankan, tetapi sudah mulai berimbas ke sektor riil. Mulai dari naiknya harga kebutuhan sehari-hari sampai ancaman gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).

Dampak pertama yang paling terasa adalah potensi kenaikan harga bahan pokok. Rahma Gafmi, seorang guru besar dari Universitas Airlangga, mengingatkan bahwa produk-produk impor seperti gandum dan kedelai akan segera terkena imbasnya. "Harga mi instan, roti, tahu, dan tempe kemungkinan besar ikut naik," ujarnya dalam wawancara dengan Kompas.com pada Jumat (15/5/2026).

Baca Juga: Inflasi Jakarta Desember 2025 Tercatat 0,33 Persen, BPS Ungkap Pemicu Utamanya

Selain sektor pangan, industri manufaktur pun sudah mulai merasakan guncangan. Melemahnya rupiah membuat biaya produksi melonjak karena kebutuhan bahan baku impor, mulai dari pupuk, pakan ternak, hingga bahan dasar obat-obatan. Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif dari Center of Economic and Law Studies (Celios), mengingatkan bahwa jika situasi global terus memburuk, tekanan ekonomi ini bisa memicu PHK massal. Kelas menengah diprediksi menjadi kelompok paling rentan. "Mereka tidak menerima bantuan sosial dari pemerintah, tapi di sisi lain harus menghadapi kenaikan biaya hidup sendiri. Risiko untuk turun kelas dari menengah hingga ke bawahsangatlah besar," jelas Rahma Gafmi.