BOGOR, CEKLISSATU - Ketika mendengar kata kemajuan desa, apa yang pertama kali terlintas dalam pikiran? Jalan yang semakin baik, fasilitas umum yang semakin lengkap, gedung-gedung yang semakin banyak, atau perekonomian masyarakat yang semakin berkembang?
Ukuran-ukuran tersebut memang penting. Infrastruktur yang memadai dan pertumbuhan ekonomi merupakan bagian dari proses pembangunan desa. Namun, ada pertanyaan yang tidak kalah penting: apakah desa dapat disebut maju hanya karena pembangunan fisiknya semakin terlihat?
Menurut kami, kemajuan desa seharusnya tidak berhenti pada apa yang dapat dilihat secara kasatmata. Sebuah desa dapat memiliki jalan yang baik dan fasilitas yang lengkap, tetapi jika masyarakat belum memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungannya, belum mampu memanfaatkan teknologi secara bijak, dan belum memiliki budaya belajar yang kuat, pembangunan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kemajuan.
Sebab, pembangunan fisik dapat dibangun dalam waktu tertentu. Namun, membangun kesadaran masyarakat membutuhkan proses yang jauh lebih panjang.
Baca Juga: Anggaran Terbatas, DPRD Jabar Ingatkan Pemprov Fokus Tuntaskan Program Prioritas
Pemikiran tersebut semakin kami rasakan selama menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Tugu Jaya. Berinteraksi langsung dengan masyarakat membuat kami melihat bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Perubahan justru dapat tumbuh dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Salah satunya adalah kepedulian terhadap lingkungan.
Lingkungan yang bersih bukan sekadar persoalan estetika. Kebersihan mencerminkan bagaimana masyarakat memperlakukan ruang hidup yang digunakan bersama. Kebiasaan membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah, mengurangi sampah yang terbuang, serta memanfaatkan kembali barang yang masih memiliki nilai merupakan tindakan sederhana. Namun, jika dilakukan bersama dan terus-menerus, kebiasaan tersebut dapat memberikan dampak yang lebih besar.
Comment