Sudah Covid Tertimpa Pinjol

  • Whatsapp
Suhairil Anwar Pimpinan Umum Ceklissatu.com

BOGOR, Ceklissatu.com – Andai saja republik ini sejahtera, tentunya dengan sebenar-benarnya sejahtera, mungkin mahluk bernama ‘pinjol’ itu tak pernah ada. Ya, sekali pun ada (disaat rakyat makmur,red) mungkin hanya akan jadi remah-remah bagi tumbuh kembang dunia fintech.

Pinjol adalah akronim dari pinjaman online. Baik itu resmi ataupun tidak resmi. Pada sebuah ekosistem perekonomian negara, pinjol bisa dijadikan sebuah parameter rusaknya tatanan kehidupan rakyat. Khususnya mereka kaum menengah bawah.

Bacaan Lainnya

Bagaimana bisa?
Perlu diketahui, pinjol hadir di tanah air dengan ‘damai’ pada 2016. Fintech lending atau Peer-to-Peer (P2P) Lending ini muncul di tengah masyarakat nyaris tanpa kontroversi. Pada saat itu, pinjol bahkan lebih banyak digunakan untuk membantu Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal.

Pinjol jadi salah satu solusi di tengah kesulitan, sebab layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi (LPMUBTI) ini memuat transaksi yang dapat dilakukan tanpa harus bertemu secara langsung.

Empat tahun berselang, tibalah Pandemi Covid-19 mendera negeri ini. Situasi pagebluk yang hadir disambut dengan gagap oleh pemerintah. Tak terhitung jari sejumlah kontroversi yang bermuara dari kebijakan-kebijakan labil pemerintah.

Kondisi ini secara langsung membuat laju pertumbuhan ekonomi bangsa melandai, lantas tertahan, dan kemudian terperosok. Masyarakat ekonomi menengah bawah adalah pihak yang paling merasa sangat tersiksa.

Lantaran roda produksi terhenti lantaran kebijakan isolasi maka manajemen di banyak perusahaan limbung. Tak sedikit bertumbangan yang menyebabkan PHK massal.

Di situasi yang sama, perut masyarakat tetaplah perlu diisi. Kebutuhan sekunder mereka pun perlu dibeli. Sementara bantuan pemerintah jauh dari kata mencukupi.

Nah, dalam situasi pelik ini lah masyarakat tanah air akhir mau berkenalan dan menjalani hubungan dengan pinjol. Dari data yang didapat, ada 64 juta orang yang memanfaatkan pinjol dengan nilai dana yang disalurkan per Agustus 2021 sebesar Rp 249 triliun. Fantastis bukan.

Padahal mereka sejatinya tahu bahaya apa yang akan ia hadapi jika menjalin kisah dengan pinjol.
Ya, bunga pinjaman yang tak masuk akal berikut dengan tata krama penagihan utang tak berperikemanusiaan, adalah sejumlah konsekuensi yang masyarakat sadari bakal terjadi.

Namun tekanan situasi yang terlahir dari belita pinjol kelewat berat. Sangat berat untuk dipikul oleh rakyat yang terhimpit kebutuhan sedangkan ekonomi kadung rusak akibat pandemi. Dan akhirnya klimaks.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat aduan terhadap pinjol resmi maupun ilegal mencapai 19.711 kasus selama kurun waktu 2019-2021.
Sebanyak 47,03 persen dari total kasus atau 9.270 kasus termasuk ke dalam pengaduan berat, sementara sisanya 10.441 termasuk pelanggaran ringan atau sedang.

Realitas aduan kasus pinjol ini tentu saja jauh lebih banyak dan lebih mengenaskan dari yang tercatat OJK.

Kembali ke paragraf awal tulisan ini dimulai, seandainya republik ini sejahtera dimana pemerintahnya mapan dalam berkebijakan, mungkin saja pinjol tetap jadi solusi. Seperti ketika ia pertama hadir di negeri ini. Pemerintah wajib melunasi utang rakyatnya terlahir akibat gagap menghadapi pandemi.(*)

Penulis : Suhairil Anwar

Pemimpin Umum Ceklissatu.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *