Oleh: Yusuf Ibrahim | Penikmat Sepak Bola
JAKARTA, CEKLISSATU -- Sekali lagi, kami masih bermimpi Piala Dunia 2026. Yang saat ini sudah masuk babak semifinal.
Kita membawa kegembiraan Prancis, harapan Inggris, ketenangan Spanyol, dan keyakinan Argentina. Kita ikut memukul, ikut mengomel, bahkan ikut berdebat di media sosial.
Padahal, empat negara itu tidak pernah tahu siapa kita. Orang-orang yang rela bertarung dan begadang untuk mereka dengan semangat "mendang-mending" dan suka "petantang-petenteng" pakai jersey timnas kebanggaan mereka.
Begitulah sepak bola. Ia suka membuat manusia jatuh cinta pada sesuatu yang bahkan tidak bisa dimiliki.
Dua pertandingan tersisa sebelum final. Prancis menghadapi Spanyol pada Rabu, 15 Juli 2026. Disusul Inggris melawan Argentina pada Kamis, 16 Juli 2026. Keduanya dimainkan pukul 02.00 WIB. Waktu yang selalu berhasil mengubah rakyat negeri ini menjadi pengamat taktik, komentator televisi, sekaligus pelatih kepala sambil rebahan dan tengkurep.
Di lapangan, empat negara ini hadir dengan cerita yang berbeda. Prancis masih mengandalkan ledakan Kylian Mbappé. Spanyol menemukan masa depan dalam diri Lamine Yamal. Inggris menitipkan harapan kepada Jude Bellingham, sementara Argentina masih dengan matahari-nya Lionel Messi.
Banyak pengamat menyebut semifinal kali ini sebagai pertarungan empat filosofi sepak bola. Tapi saya justru melihatnya sebagai pertarungan empat cara manusia bermimpi. Paling tidak, mimpi buat orang yang timnas-nya belum pernah mental di Piala Dunia.
Tentu saja, semua orang punya prediksi. Sebagian menyebut cita-cita terakhirnya adalah Prancis melawan Argentina. Sebagian diam-diam berharap Inggris akhirnya benar-benar membuktikan bahwa Football's Coming Home bukan sekadar slogan yang diputar setiap empat tahun sekali.
Sedikit pembohong tapi bisa dijinakan, penulis punya menyimpulkan, sejarah masih ingin bercanda kepada Inggris. Argentina seperti memiliki hak cipta untuk mempermalukan mereka pada momen-momen besar.
Sejak “Tangan Tuhan” Diego Maradona hingga hari ini, hubungan keduanya selalu lebih emosional dari sekadar pertandingan sepak bola. Jangan kaget jika bab berikutnya kembali ditulis Argentina.
Sebaliknya, Prancis mungkin tidak kalah kualitas dari Spanyol. Tetapi mereka bisa saja bekerja. Bukan karena skor telak, melainkan oleh umpan-umpan pendek yang membuat lawan Ayam Jantan mengejar bola hingga lupa bahwa sepak bola untuk dimainkan mencetak gol, bukan sekadar berlari kesana-kemari.
Kalau harus memilih, saya tetap menjagokan Prancis dan Argentina ke final. Tipis-tipis saja. Sebab, Piala Dunia berkali-kali mengajarkan bahwa yang paling sering dipermalukan bukanlah tim yang kalah, melainkan para penyiar yang terlalu percaya diri seperti penulis.
Lalu, di mana posisi penonton di Indonesia-ah...!?
Kita masih menjadi bangsa yang meminjam mimpi orang lain. Kita meminjam euforia negara mereka. Sejarah mereka, bahkan peta jalan timnas kebangsaan mereka.
Kita begitu fasih memperdebatkan peluang Mbappé, Bellingham, Yamal, atau Martinez, tetapi akan selalu tersipu malu dan sering gagap ketika ditanya, kapan pemain-pemain Indonesia mampu berlaga disana.
Tidak ada yang salah mendukung Prancis, Spanyol, Inggris, ataupun Argentina. Sekali lagi, sepak bola memang mengajarkan kita mencintai tanpa harus memiliki.
Namun, akan jauh lebih indah jika suatu hari nanti kita tidak lagi meminjam mimpi negara lain, di setiap fase pertandingan Piala Dunia.
Sebab meminjam mimpi, sehebat apa pun rasanya, pada akhirnya tetap harus dikembalikan ketika wasit meniup peluit panjang.
Sedangkan mimpi yang dibangun sendiri, meski dengan biaya yang tak murah dan butuh waktu tahunan, akan selalu mengakses jalannya menuju panggung terbesar bernama Piala Dunia.
Semoga Timnas Indonesia bisa berlaga di Pildun 2030 atau 2034. Aamiin.
Tabik.
Comment