Tanggulangi Terorisme, BNPT Harus Rangkul Tokoh Masyarakat

  • Whatsapp

JAKARTA, Ceklissatu.com – Anggota Komisi III DPR RI Johan Budi S. Pribowo menanggapi pernyataan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Boy Rafli Amar yang menjelaskan motif seseorang terpengaruh gerakan teroris, motif politik, ideologi, dan gangguan keamanan yang berkaitan dengan kondisi ekonomi. Atas dasar itu, Johan Budi menyarankan BNPT lebih masif merangkul tokoh masyarakat guna menanggulangi aksi terorisme.

“BNPT harus bergerak bagaimana memberi pemahaman dengan merangkul tokoh-tokoh agama. Dari sisi ekonomi, lakukan pemberdayaan ekonomi pada masyarakat. Kemudian dari sisi politik, bagaimana sikap negara atau pemerintah, sikap pemerintah punya kontribusi,” papar Johan dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Kepala BNPT beserta jajaran, di Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta.

Bacaan Lainnya

Johan mengatakan dari tiga motif itu, BNPT harusnya bergerak, memberikan pemahaman tentang ajaran agamanya agar semakin toleran, dalam konteks ini motif ideologi. Lalu tentang ekonomi, menurutnya motif kondisi perekonomian yang kurang sering menjerumuskan orang ke pemahaman yang menyesatkan. “Banyak yang bisa kita simpulkan dari pelaku-pelaku merupakan kalangan perekonomian yang relatif rendah atau miskin,” ujar politisi PDI-Perjuangan itu.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni yang memimpin rapat, menyoroti fenomena Taliban. Politisi Partai NasDem itu kemudian mempertanyakan terkait strategi yang dilakukan BNPT agar kelompok-kelompok ekstrimis tidak berkembang di Indonesia.

“Ini terkait fenomena kembalinya Taliban di Afghanistan, saya tidak ingin di Indonesia ada kelompok kecil yang terinspirasi oleh tindakan mereka. Nah untuk itu, pencegahan apa yang BNPT lakukan dalam menyikapi isu ini? Karena sangat mungkin kembalinya Taliban itu ada efeknya pada oknum maupun simpatisannya yang ada di Indonesia. Jadi, bagaimana strategi pencegahan BNPT agar kelompok simpatisan ini tidak hidup dan bisa kita tahan?” tanya Sahroni.

Menanggapi hal tersebut Kepala BNPT Boy Rafli Amar menjawab bahwa saat ini BNPT tengah menyiapkan ‘vaksin’ untuk membendung ekstrimisme. Adapun vaksinnya adalah nilai-nilai kebangsaan sebagai bentuk langkah pencegahan penyebaran virus radikalisme intoleran dan radikalisme terorisme.

“Kalau kami analogikan sebagai virus radikalisme maka kami mencoba merumuskan ‘vaksinnya’. Yaitu, pertama BNPT banyak ikut melakukan penguatan terhadap nilai-nilai kebangsaan. Kami juga melakukan edukasi terkait ideologi Pancasila,” kata Boy. Boy mengungkapkan BNPT telah bekerja sama untuk melakukan moderasi beragama, karena dalam hal ini masyarakat sudah punya modal yang kuat, dan di kalangan masyarakat punya tokoh-tokoh ulama besar.

Boy juga meminta masyarakat tidak terpancing dengan kembalinya Taliban. BNPT melakukan antisipasi supaya model kekerasan yang ditampilkan oleh Taliban tidak dicontoh. “Kami hanya mengimbau untuk kita tidak terpancing dengan kondisi seperti ini dan tetaplah kita setia dengan jati diri bangsa yang kita miliki,” ujar Boy.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *