Peneliti IPB Sebut Wabah Corona Bisa Tingkatkan Kasus Stunting Pada Anak Ceklis Satu

Peneliti IPB Sebut Wabah Corona Bisa Tingkatkan Kasus Stunting Pada Anak

BOGOR, Ceklissatu.com – Dosen IPB University, Dr Tin Herawati mengatakan di tengah pandemi Covid-19 ini kasus stunting pada anak bisa meningkat.

Stunting adalah kondisi gagal pertumbuhan pada anak akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama sehingga anak lebih pendek atau perawakan pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam perkembangan kognitif.

Dr Tin menambahkan bahwa Riset Kesehatan Dasar (Riskesda, 2018) menunjukkan prevalensi stunting sebesar 30,8 persen dan hasil Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) tahun 2019 mengalami penurunan menjadi 27,7 persen. Hal ini berarti dalam satu tahun bisa menekan penurunan angka stunting 3,1 persen. Tantangan yang dihadapi saat ini adalah mampu mencapai target prevalensi stunting pada tahun 2024 menjadi 24 persen.

“Untuk mencapai target tersebut, tentunya perlu upaya dari berbagai pihak untuk ikut mencegah terjadinya stunting. Di sisi lain, pada masa pandemi COVID-19, rawan terjadinya masalah gizi termasuk stunting. Berbagai hasil kajian di masa pandemi menunjukkan bahwa makanan yang dikonsumsi menjadi lebih sedikit dan kualitas makanan menjadi lebih buruk sebagai akibat dari ketahanan ekonomi keluarga yang menurun. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa isu kerawanan pangan muncul di masa pandemi akan berimplikasi pada buruknya asupan gizi yang memberi peluang terjadinya masalah gizi, termasuk stunting,” ujar Dr In yang juga Ketua Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) ini.

Kondisi ini akan semakin mengkhawatirkan jika asupan gizi yang buruk terjadi pada masa 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK), yaitu masa 270 hari atau 9 bulan dalam kandungan ditambah 730 hari atau sampai anak berusia dua tahun.

Isu lain yang muncul di masa pendemi adalah keharmonisan keluarga. Hasil kajian selama pandemi, ditemukan tindakan kekerasan dan perselisihan antara suami isteri. Hal ini berpeluang pada perceraian. Menurut Data Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung, kasus perceraian terus meningkat setiap tahun dan pola yang sama juga terjadi pada masa pandemi COVID-19.

Penyebab perceraian terbanyak adalah perselisihan dan pertengkaran terus menerus serta masalah ekonomi. Kasus perceraian banyak terjadi pada usia perkawinan di bawah lima tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar perceraian terjadi pada usia perkawinan masih muda, yang memiliki peluang usai anaknya masih di bawah lima tahun mungkin juga di bawah dua tahun.

Hubungan pernikahan yang tidak harmonis dan berujung pada perceraian berpengaruh terhadap kebahagiaan yang dirasakan oleh keluarga. Ketidakbahagiaan yang dirasakan akibat dari perceraian orang tuanya dapat menimbulkan permasalahan psikologis yang menganggu tumbuh kembang anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umumnya anak-anak yang berasal dari keluarga yang mengalami perceraian biasanya memiliki kesejahteraan yang lebih rendah dibandingkan keluarga yang harmonis. Hal ini sangat terkait dengan rendahnya kualitas pengasuhan.

Lebih lanjut Dr Tin menyampaikan adanya pertengkaran, perselisihan yang terus menerus, dan masalah ekonomi sehingga berujung perceraian, menunjukkan pelaksanaan fungsi keluarga yang tidak berjalan dengan baik.

“Ketidakberfungsian fungsi keluarga menyebabkan ketidakstabilan dalam kehidupan keluarga yang berpengaruh pada rendahnya kualitas pengasuhan dan berujung pada perceraian. Sebaliknya keluarga yang berfungsi dengan baik dapat mengelola sumber daya keluarga sehingga dapat memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga dan memudahkan dalam mencapai tujuan,” imbuhnya.

 

 

Editor: Ayatullah

Latest news

Puluhan Wartawan Depok Disuntik Vaksin Covid-19

DEPOK, Ceklissatu.com - Puluhan wartawan yang bertugas di Kota Depok bersama ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintah Kota Depok mulai tanggal 1, 2 dan...

Ratusan Anggota Kodim 06/08 Cianjur Jalani Vaksinasi Covid-19

CIANJUR, Ceklissatu.com- Ratusan anggota Kodim 06/08 Cianjur mengikuti vaksinasi Covid 19 yang dilaksanakan di Aula Makodim Cianjur, Selasa (02/03/21). Dalam kesempatan ini Dandim 06/08...

Pelaksanaan Vaksinasi Massal di Kota Bogor Dikebut

BOGOR, Ceklissatu.com - Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor melalui Dinas Kesehatan Kota Bogor melaksanaan Vaksinasi massal Covid-19 bagi pelayan publik di Kota Bogor dimulai sejak...

Dua Anggota Pol PP Kecamatan Kemang Ketakutan Disuntik Vaksin

BOGOR, Ceklissatu.com--Dua anggota Satpol PP Kecamatan Kemang, terlihat sangat ketakutan saat akan disuntik vaksin Covid 19. Momen ketika anggota itu ketakutan terekam dalam sebuah...

Related news

Puluhan Wartawan Depok Disuntik Vaksin Covid-19

DEPOK, Ceklissatu.com - Puluhan wartawan yang bertugas di Kota Depok bersama ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintah Kota Depok mulai tanggal 1, 2 dan...

Ratusan Anggota Kodim 06/08 Cianjur Jalani Vaksinasi Covid-19

CIANJUR, Ceklissatu.com- Ratusan anggota Kodim 06/08 Cianjur mengikuti vaksinasi Covid 19 yang dilaksanakan di Aula Makodim Cianjur, Selasa (02/03/21). Dalam kesempatan ini Dandim 06/08...

Pelaksanaan Vaksinasi Massal di Kota Bogor Dikebut

BOGOR, Ceklissatu.com - Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor melalui Dinas Kesehatan Kota Bogor melaksanaan Vaksinasi massal Covid-19 bagi pelayan publik di Kota Bogor dimulai sejak...

Dua Anggota Pol PP Kecamatan Kemang Ketakutan Disuntik Vaksin

BOGOR, Ceklissatu.com--Dua anggota Satpol PP Kecamatan Kemang, terlihat sangat ketakutan saat akan disuntik vaksin Covid 19. Momen ketika anggota itu ketakutan terekam dalam sebuah...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here