Pasukan Misi Pemeliharaan Perdamaian TNI : Kontribusi Nyata bagi Indonesia dan Dunia

BOGOR, Ceklissatu.com – Seminar daring pertama Indonesia Peace and Conflict Resolution Association (IPCRA) berkolaborasi dengan Ikatan Alumni Universitas Pertahanan dalam rangkaian A piece of peace, from Indonesia to the World bertajuk “Pasukan Misi Pemeliharaan Perdamaian TNI: Kontribusi Nyata bagi Indonesia dan Dunia” diikuti dengan begitu antusias oleh masyarakat Indonesia baik di dalam maupun luar negeri dengan total peserta yang terdaftar hampir 1.200 orang.

Menurut Nalendro Nusantoro, peserta yang terdaftar berasal dari 34 provinsi di Indonesia dan 9 (sembilan) negara sahabat, bahkan turut bergabung dari KBRI di Nairobi, Kenya. Seminar daring dilangsungkan melalui Zoom serta disiarkan LIVE melalui YouTube Ikatan Alumni UNHAN.

Bacaan Lainnya

Dalam kegiatan ini, narasumber pertama, Mayor Jenderal TNI Victor H. Simatupang, M. Bus (Komandan PMPP TNI) hadir bersama para staf dari Samarinda, Kalimantan menjelaskan, tentang sejarah Pelibatan TNI, PMPP TNI dan Mekanisme Deployment. Meskipun Indonesia belum mencapai target Visi 4.000 Peacekeepers tetapi berdasarkan pada data per Juli 2020 Indonesia mencapai target pada posisi sepuluh besar negara berkontribusi pasukan atau Top Ten Troops Contributing Country (TCC) dari 112 negara TCC (dengan 2.805 personel pasukan perdamaian TNI termasuk di dalamnya 116 personel wanita TNI-red).

Narasumber kedua, Brigadir Jenderal TNI Dr. Eri R. Hidayat, MBA., MHRMC (KADISPSIAD) turut hadir bersama staf dari Bandung Eri menyampaikan, bahwa perlunya pelatihan Resiliensi Psikologis bagi pasukan yang akan diberangkatkan ke Misi Pemeliharaan Perdamaian. Hal ini ditujukan agar personel pasukan memiliki kemampuan individu untuk menangani dengan berhasil berbagai situasi yang penuh tantangan, kemudian berlanjut dan bertahap dalam menghadapi kesulitan; atau kekuatan mental yang membuat mereka tetap sehat secara mental dan bisa recover walaupun menghadapi berbagai kesulitan; atau menghadapi stress dan trauma dengan bantuan orang yang berkompeten.

Semua personel pasukan pemeliharaan Perdamaian Dunia yang diberangkatkan dinyatakan sudah lulus seleksi dan diniliai apakah mereka tingkat stres yang mengancam atau tidak dan apakah mereka memiliki kemampuan untuk kembali dari situasi yang membuat stres sambil tetap menunjukkan performa yang optimal, untuk tetap mencapai tugas pokok yang diberikan, tegas Eri.

Berdasarkan lesson learned sebagai perwira psikologis pada Satuan Tugas UNAMID di Darfur, Eri selaku KADISPSIAD, turut mengusulkan agar PMPP TNI melakukan kembali evaluasi penilaian Resiliensi Psikologis personel pasukan yang kembali dari tugas misi sebelum kembali ke keluarga dan unit mereka masing-masing.

Turut hadir para penanggap yaitu Dr. Henny Saptatia, Brigjen TNI (Purn) Makmur Supriyatno, Muhammad Revindo PhD, memberikan sejumlah pengayaan pada tema webinar ini dalam segi national branding, national interest, dan keterkaitan pasukan pemeliharaan perdamaian dengan Economic Intelligence dan Industri Pertahanan.

Dari webinar ini, Ketua IPRCA – Dr. Prisca Delima mengungkapkan dapat ditarik kesimpulan, untuk berbuat baik demi masyarakat, bangsa, dan negara, seseorang memerlukan bukan sajakapasitas yang memadai ditambah dengan dukungan keterampilan dan teknologi yang menjadikannya mampu, tetapi juga resiliensi yang memadai. Resiliensi dapat terbentuk berdasarkan pengalaman pribadi, pengaruh lingkungan sosial terutama keluarga, selain juga lingkungan sosial budaya yang lebih besar lagi dan lingkungan hidupnya. Dalam konteks negara, kumpulan manusia Indonesia dengan kapasitas dan kemampuan resiliensi tinggi seharusnya menjadi national interest, karena ini menjadi aset bangsa dan negara. Demi Indonesia yang lebih baik maka aset manusia Indonesia seperti inilah yang perlu tampil dan menjadi “brand” Indonesia yang maju.

Webinar ini dilakukan koordinasi lintas kota Jakarta-Bogor-Bandung-Samarinda serta didukung kerja sama yang baik dengan pihak Unhan, PMPP, Dispsiad, LPEM FEB UI, SKSG UI, Mabes TNI, dan Puspen Mabes TNI. Keterlibatan anggota IPCRA pun sangat berperan, dengan dikomandoi Nalendro Nusantoro serta didukung oleh Bonar Nasution, Sifra Panggabean, Jeanne Francoise, Azzah Ratul Azisah, Nurindah Hastuti, Aulia Assidik, Dewi Henny, Letkol. Sulendro, Mayor (Adm) Prasetyo Hadi, AKBP Pratomo Widodo, dan Prisca Delima.

Rangkaian webinar IPCRA merupakan wadah berdiskusi dan berbagi dalam ranah akademik, sehingga hasilnya selain memperkaya wawasan menjadi masukan bagi instansi dan lembaga terkait. Agenda Webinar IPCRA berikutnya dilangsungkan pada 12 Agustus 2020 secara virtual, demi kinerja yang tetap aman dan aktif serta tetap menjaga protokol kesehatan. Tujuan akhir dari kegiatan ini juga menumbuhkan kembali semangat positif di masyarakat.

Penulis: Ayatullah
Editor: Edwin Suwandana

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *