Pakar IPB University Manfaatkan Rekayasa Genetika untuk Tingkatkan Produksi Perikanan Budidaya

  • Whatsapp

BOGOR, Ceklissatu.com – Profesor Alimuddin, dosen IPB University dari Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, berusaha memanfaatkan rekayasa genetika untuk meningkatkan produksi budidaya perikanan. Sampai saat ini, ia telah berhasil memanfaatkan rekayasa genetika untuk beberapa ikan budidaya. Ikan tersebut antara lain ikan mas, lele, gurami, dan cupang serta udang.

“Seleksi berbasis marka DNA, transgenesis, dan genome editing sangat berpotensi digunakan sebagai metode pemuliaan modern yang lebih cepat dan tepat,” kata Prof Alimuddin, Minggu (24/10/2021).

Bacaan Lainnya

Lebih lanjut, dosen IPB University itu menjelaskan, seleksi berbasis marka DNA dilakukan dengan memilih ikan berdasarkan kepemilikan DNA unggul. Dengan demikian, peluang ditemukannya variasi unggul serta peluang pewarisan sifat akan lebih tinggi dan lebih dapat diprediksi. Tidak hanya itu, pada metode ini, jumlah generasi dan waktu yang dibutuhkan juga akan menjadi jauh berkurang dibandingkan seleksi konvensional.

Prof Alimuddin mengaku, hasil seleksi berbasis DNA yang sudah dirilis sampai saat ini baru varietas ikan mas dengan fokus  pada daya tahan terhadap virus dan bakteri. Ikan mas tersebut adalah ikan mas Majalaya Tahan Penyakit (ikan mas MANTAP) yang dirilis tahun 2015. Tidak hanya itu, ikan mas lainnya adalah ikan mas MUSTIKA, MARWANA dan JAYASAKTI yang dirilis pada tahun 2016.

Seluruh varietas ikan mas ini, kata Prof Alimuddin, merupakan induk unggul yang lebih cepat tumbuh dan lebih tahan terhadap infeksi virus. Ia mengaku, varietas ini sudah dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat, mulai dari Aceh hingga Papua dengan total induk yang telah disebar hampir mencapai 200 ribu ekor pada tahun 2020.

Prof Alimuddin menjelaskan, untuk membuat ikan yang tahan virus dan bakteri, ia dan kolega menyusun protokol seleksi berbasis DNA yang diberi nama Protokol 1. Protokol ini menggunakan alel gen Major Histocompatibility Complex (MHC) sebagai penanda yang didesain khusus agar ikan mas tahan penyakit dapat diidentifikasi hanya dengan proses PCR yang sederhana. Metode ini dianugerahi ke dalam penghargaan 104 Inovasi Indonesia paling prospektif pada tahun 2012.

“Seleksi marka DNA pada komoditas lainnya masih dalam bentuk prototype. Pada ikan lele, seleksi marka DNA sedang kami lakukan untuk menghasilkan varietas tahan infeksi bakteri, stres, dan tumbuh cepat,” tambah Prof Alimuddin, pakar rekayasa genetika ikan dari IPB University.

Selain ikan mas dan lele, Prof Alimuddin juga telah melakukan seleksi DNA pada ikan gurami. Ia menerangkan, seleksi ikan gurami tumbuh cepat berbasis marka DNA diinisiasi tahun 2020 dan berhasil membedakan empat varian gurami berdasarkan potensi tumbuhnya.

“Hasil analisis sementara menunjukkan dengan hanya memilih induk gurami unggul berdasarkan marka DNA, akan menghasilkan populasi ikan dengan bobot tubuh dua kali lebih tinggi,” kata Prof Alimuddin.

Saat ini Prof Alimuddin bersama kolega juga sedang melakukan pemuliaan terkini melalui teknologi genome editing untuk menghasilkan induk udang unggul. “Dengan teknologi genome editing, gen udang dapat dimodifikasi tanpa memasukkan gen asing dari luar, sehingga udang atau ikan yang dihasilkan tidak dikategorikan sebagai produk transgenik,” kata Prof Alimuddin, pakar bioteknologi akuakultur dari IPB University.

Prof Alimuddin menjelaskan, dengan teknologi seleksi DNA, transgenesis maupun genome editing, dapat dihasilkan produk ikan transgenik yang lebih cepat tumbuh, tahan penyakit dan stres serta memiliki nutrisi yang tinggi. Dengan demikian, dapat meningkatkan produktivitas hasil panen, mengurangi biaya pemeliharaan, dan meningkatkan kualitas produk perikanan.

“Secara klinis, produk ikan transgenik ini tidak menimbulkan efek samping, karena produk-produk yang dibuat justru bertujuan untuk memenuhi nutrisi tubuh,” kata Prof Alimuddin.

Terkait pengembangan ini, Prof Alimuddin menegaskan bahwa proses pemuliaan harus terus menerus dilakukan secara kontinu. Pasalnya, jika tidak diteruskan maka calon induk yang telah disiapkan untuk pemuliaan akan terbengkalai. Hal ini akan berdampak pada kegiatan pemuliaan yang akan dilakukan di masa mendatang.

“Tanpa tersedianya induk dan benih unggul yang kontinu, tingginya angka-angka produksi akan bersifat sementara. Ketika kualitas genetik menurun, maka produksi akan berangsur-angsur menurun hingga sulit ditingkatkan kembali,” pungkas Prof Alimuddin.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *