Kemendes Luncurkan Program Desa Peternakan untuk Kurangi Impor

  • Whatsapp
Pedagang melayani pembeli di Pasar Citeureup, Kabupaten Bogor, Senin (12/4/2021). Berdasarkan data PD Pasar Tohaga, harga kebutuhan pokok di Pasar Citeureup Kabupaten Bogor jelang Ramadan mengalami kenaikan seperti telur ayam dari Rp21.000 menjadi Rp25.000 per kilogram, cabe merah keriting dari Rp50.000 menjadi Rp60.000 per kilogram, daging ayam dari Rp33.000 menjadi Rp40.000 per kilogram dan daging sapi dari Rp110.000 menjadi Rp150.000 per kilogram. Ceklissatu.hops.id/Dwi Susanto

JAKARTA, Ceklissatu.com – Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) meluncurkan Program Desa Peternakan Terpadu Berkelanjutan. Program ini bertujuan meningkatkan produksi daging sapi nasional.

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar, menjelaskan, program ini dibuat setelah ia berdiskusi dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait cita-cita Indonesia swasembada pangan, beberapa waktu yang lalu. Sebab, saat ini Indonesia masih defisit dalam memenuhi kebutuhan daging sapi nasional.

Bacaan Lainnya

Berdasarkan data 2021, kata Halim, diperkirakan kebutuhan daging sapi nasional mencapai 700.000 ton/tahun atau setara 3,6 juta ekor sapi. Padahal produksi daging sapi nasional per tahun tidak lebih dari 550.000 ton.

“Situasi ini menunjukkan jika Indonesia masih mengalami defisit daging sapi dan harus bergantung pada impor sebanyak 26,4 persen,” kata Halim dalam keterangannya, Kamis (11/11/2021).

Oleh karenanya, Kemendes membuat program Desa Peternakan Terpadu Berkelanjutan. Program ini, kata Halim, menggunakan konsep peternakan komunal yang dikelola Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDesma).

Peternakan komunal ini akan memadukan peternakan sapi, ayam, ikan air tawar, tanaman sayur-sayuran, serta mengelola kotoran sapi menjadi biogas dan pupuk organik. “Melalui peternakan terpadu, desa-desa berpotensi meningkatkan kemampuan ekonomi warga desa, dan memenuhi kebutuhan pangan desa. Bahkan kebutuhan pangan Indonesia, khususnya pangan hewani akan tercukupi dari desa,” kata Halim

Tahun ini, lanjut Halim, ada tujuh percontohan Desa Peternakan Terpadu Berkelanjutan. Setelah enam bulan berjalan, tujuh desa percontohan ini akan dievaluasi. Tiga desa terbaik akan dinobatkan sebagai duta desa, yang akan diajak keliling Indonesia untuk berbagi pengalaman dengan desa-desa lainnya.

“Nanti kita jadikan narasumber untuk sosialisasi, biar cerita kesuksesannya dan menularkan pengalaman dan pengetahuan pengelolaan peternakan di desanya kepada desa yang lain,” kata Halim.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *