Kematian Dinilai Tak Wajar, Pihak Keluarga Tuntut Kepolisian Ungkap Kasus

  • Whatsapp

CIANJUR,Ceklissatu.com-Polres Cianjur, menyelidiki kasus tewasnya Sutar (45), seorang ODGJ (Orang Dalam Gangguan Jiwa) yang ditemukan di perkebunan Bintang Blok Astana Panjang, Desa Padasuka, Kecamatan Cibinong, Cianjur pada 20 November 2021. Jasad korban ditemukan dengan tangan terikat dan wajah ditutup kain dengan punggung mengeluarkan darah diduga korban penganiayaan.

“Saat ini kami sudah memeriksa para saksi dari pihak keluarga maupun dari saksi warga yang menemukan, dan kami juga sudah berkomunikasi dengan keluarga untuk bisa autopsi karena kita lihat indikasi ada penganiayaan dari luka-luka ditubuh korban,” ujar Kapolres Cianjur, AKBP Doni Hermawan kepada wartawan, Jumat (17/12/21)

Bacaan Lainnya

Kapolres juga menambahkan, pihaknya akan melakukan autopsi terhadap jasad korban untuk membuktikan penyebab kematian korban.

“Jadii kita sedang melakukan penyelidikan lebih lanjut dan nantinya dalam waktu dekat kami akan melakukan autopsi,” terangnya.

Sementara itu, kasus ini terungkap setelah keluarga korban merasa ada kejanggalan atas kematian korban setelah beberapa hari korban dimakamkan. Korban warga Kampung Cibingbin 1, Desa PadaMulya, Kecamatan Pasir Kuda, selama hidupnya tinggal sendiri sedangkan kerabatnya tinggal dikampung yang berbeda. saat kematian korban, keluarga korban tidak diinformasikan oleh warga penyebab kematiannya.

Keluarga datang saat korban akan dimakamkan namun beberapa hari usai dimakamkan keluarga korban mendapatkan kiriman foto dari kerabatnya bahwa korban tewas ditemukan ditengah kebun dengan kondisi tangan terikat dan wajah ditutupi kain serta adanya darah dipunggung korban.

“Saya adik Almarhum saat kaka saya meninggal saya kerja diJakarta dan saya kaget saat lihat di handphone foto kakak saya kenapa meninggal keluarga darah nah dari situ
saya merasa ada kejanggalan saya penasaran ada darah itu makanya saya melapor kepolisi,” ujar Sumarna (42) adik Korban saat ditemui di rumahnya.

Sumarna juga melanjutkan, dirinya semakin ingin mengungkap kematian kakak kandungnya setelah adanya surat mediasi yang isinya keluarga korban tidak menuntut ke proses hukum atas kematian korban. Namun keluarga menolak menandatangani.

“Kalau surat mediasi yang ditanda tangani kepala desa saya tidak tanda tangan pak saya tidak setuju,” terangnya.

Masih kata Sumarna, keluarga berharap kasus kematian kakak kandungnya terungkap oleh kepolisian.

“Saya berharap kasus kematian kakak saya terungkap pak oleh kepolisan saya berharap sekali,” harap Sumarna.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *