IPW : Polda Jambi Harus Menjelaskan Secara Transparan

  • Whatsapp
IPW : Polda Jambi Harus Menjelakan Secara Transparan

Viralnya Video, Seorang Perwira Polisi Baku Hantam Dengan Polisi

JAKARTA, Ceklissatu.com – Terkait viralnya video, seorang perwira Polisi sedang dipukuli sejumlah Polisi Anti huru hara saat aksi demo mahasiswa menolak UU Ciptaker sedang berkangsung. Polda Jambi harus menjelaskan secara transparan. Kata ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane kepada media, Kamis (22/20/2020).

Bacaan Lainnya

IPW menilai, peristiwa ini sebuah peristiwa yang sangat memalukan bagi Polda Jambi dan sekaligus menggambarkan betapa buruknya koordinasi Polda Jambi dalam menangani aksi demo mahasiswa menolak UU Ciptaker. Untuk itu Polri perlu mengklarifikasi atas peristiwa memalukan tersebut.

“Akibat buruknya kordinasi ini, di lokasi demo yang terjadi justru aksi baku hantam sesama polisi. Bukan hanya itu, publik juga melihat dengan jelas, seorang Polisi anti huru hara jatuh terjengkang setelah ditendang Polisi berpakaian preman,” ujar Neta S Pane.

Neta menjelaskan, jika dilihat dari kronologinya, perwira Polisi itu menyusup ke barisan mahasiswa yang sedang berdemo. Dia memakai jaket mahasiswa. Saat terjadi kericuhan sejumlah polisi berpakaian preman terlihat menangkapnya dan lalu memitingnya serta sebagian memukulinya. Bahkan ada pula sejumlah pasukan anti huru hara ikut memukulinya. Akibatnya polisi yang menyusup itu babak belur.

Melihat kejadian itu, teman-teman Polisi yang menyusup, yang juga adalah Polisi berpakaian preman langsung berdatangan untuk menyelamatkan perwira yg menyusup tersbut. Sehingga terjadi baku hantam sesama Polisi di tengah aksi demo pun tak terhindarkan. Bagaimana pun peristiwa ini tidak hanya memalukan Polda Jambi tapi juga memalukan institusi Polri.

“Di TKP para demonstran menertawakan peristiwa ini. Begitu juga di medsos banyak yg menertawakan peristiwa ini,” kata Neta.

Kasus baku hantam antar Polisi di tengah aksi demo mahasiswa, kata Neta,  ini terjadi akibat tidak adanya koordinasi yang baik sesama aparatur kepolisian di lapangan. Selain itu tidak adanya petugas yang mengawal perwira penyusup, sehingga ketika YBS ditangkap polisi yang lain, tidak ada yang menjelaskan bahwa YBS sedang melakukan penyusupan. Akibatnya YBS babak belur dipukuli dan terjadi bakuhantam antar Polisi.

“Aksi penyusupan adalah hal biasa dalam strategi kepolisian untuk melakukan cipta kondisi, terutama dalam mengatasi aksi demo. Namun jika aksi penyusupan itu tidak terkoordinasi dengan baik, kekonyolan yang memalukan pun akan terjadi. Bukan hanya si penyusup yang babak belur, tapi sesama polisi bisa baku hantam di TKP, seperti di Jambi. Kasus ini hrs menjadi pelajaran bagi polri. Jika tidak, mahasiswa yang demo akan kembali disuguhkan pertunjukkan sesama Polisi baku hantam di lokasi demonstrasi,” pungkasnya.

Penulis : Johnit Sumbito
Editor : Daus

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *