Eksekusi Bangunan Yatim Piatu Berujung Laporan Polisi

  • Whatsapp

BOGOR, Ceklissatu.com – Eksekusi bangunan Yatim Piatu yang terletak di komplek Pesona Amsterdam Blok I, Desa Ciangsana, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat berujung laporan polisi. Pasalnya, eksekusi bangunan di bawah naungan Yayasan Fajar Hidayah dilakukan segerombol orang yang notabene bukan petugas juru sita dari Pengadilan Negeri Cibinong.

Informasi terhimpun, segerombolan orang itu melakukan tindakan secara bersama sama menganiaya para anak yatim piatu dan pihak Yayasan Fajar Hidayah.

Bacaan Lainnya

Dalam kejadian itu, sejumlah anak yatim piatu mengalami luka-luka, bahkan ada satu anak yatim kakinya dilindas oleh Forklift secara paksa, sehingga bagian kelingking kakinya mengalami luka. Selain itu, terjadi juga perusakan yakni kendaraan Hyundai bernopol F 1020 TFE di lokasi kejadian.

Yayasan Fajar Hidayah dan para korban akhirnya menempuh jalur hukum dengan melaporkan kasus ini kePolres Bogor. Sejumlah korban mendatangi Polres Bogor dengan membawa sejumlah alat bukti dan hasil visum dari rumah sakit, Jumat (22/10/2021).

Kuasa hukum YayasanFajar Hidayah Denny Lubis, SH. MH, dan Yudha Priyono, SH, mendatangi unit 1 Satreskrim Polres Bogor, Jumat (22/10/2021) malam.

Kasus ini ditangani Pokres Bogor dengan laporan bernomor STBL/B/1579/X/2021/JBR/RES.BGR tentang kasus kekerasan yang dilakukan secara bersama sama terhadap orang dan atau penganiayaan pasal 170 KUHP dan atau 351 KUHP.

Kuasa hukum Denny Lubis mengatakan, pihaknya datang ke Polres Bogor untuk melaporkan pihak-pihak yang dengan sengaja memanfaatkan proses yang seharusnya dilindungi oleh undang-undang, namun terciderai oleh perbuatan seseorang dan bersama orang lain atau segerombolan.

“Ini adalah perbuatan yang kami anggap melanggar hukum sehingga peristiwa pada Kamis tanggal 21 Oktober 2021 eksekusi yang seharusnya dilakukan sesuai ketentuan undang-undang penetapan pengadilan, dilakukan oleh segerombolan orang ini dengan cara menggunakan alat forklift yang mengakibatkan anak yatim terkena dampaknya, yakni terjepit dibagian kaki, serta sejumlah orang lainnya terkena pukulan dan luka-luka,” katanya.

Artinya, lanjut dia, sebagaimana yang dimaksud pasal KUHP tentang penganiayaan yang dilakukan oleh segerombolan orang. Pihaknya kemudian membuat laporan pada polisi dengan membawa bukti, saksi dan hasil rekam medis untuk dilakukan fisum terhadap korban.

Dalam perisitwa tersebut, yang sangat mengiris hati yakni korban yang merupakan anak yatim, anak sekolah. Anak yatim ini adalah orang-orang yang hidupnya, kesejahteraan dan pendidikannya dibawah naungan Yayasan Fajar Hidayah.

“Kami ingin ada penegakan hukum kepada pelaku, diproses sampai para pelaku dikenakan hukuman sesuai ketentuan KUHP pidana,” katanya.

Segerombolan yang dimaksud, jelas dia, salah satunya orang yang dinyatakan pemenang lelang. Namun, orang ini bukanlah petugas melainkan juru sita.

Tindakannya sangat brutal. Merekw mengambil kendaraan forklift langsung mengarah ke lokasi dan mengangkat kendaraan untuk dipindahkan hingga mengakibatkan mobil operasional milik Yayasan Fajar Hidayah yang berada di luar lokasi eksekusi mengalami kerusakan.

“Klien kami merasa keberatan karena tidak melalui cara yang baik dan mengakibatkan sejumlah korban.Korban ada dua yang sedang melakukan pemeriksaan di rumah sakit, pertama korban mengalami luka dibagian kaki kanan dan kiri, korban kedua masih pelajar mengalami dorongan hingga terjatuh dibagian lutut,” bebernya.

Dari kejadian ini juga, pihak yayasan akan melaporkan tindakan para pelaku terhadap anak di bawah umur tentang undang-undang perlindungan anak.

“Kami berharap, perkara ini bisa segera diproses sesuai dengan ketentuan hukum, tidak pandang bulu. Siapa yang terlibat maupun pelaku untuk dilakukan proses lidik, sidik hingga penuntutan dan vonis pengadilan sesuai hukum yang berlaku,” tegas dia.

Kronologi

Ketua Yayasan Fajar Hidayah, H. Mirdas Ela Yora menceritakan asal muasal terjadinya peristiwa bentrokan.

Ia mengatakan, berawal di tahun 2000 an ketika dimulai membangun sekolah untuk Yayasan Fajar Hidayah, kedatangan seorang pekerja bangunan bernama Sukur dan setelah bekerja akhirnya orang teraebut menjadi subkon proyek, kemudian berubah menjadi kontraktor.

Selama itu tidak ada masalah, namun tiba tiba ada suplayer besi menuntut pembayaran yang belum dibayar oleh Yayasan Fajar Hidayah, padahal sudah dibayar melalui pihak kontraktor atas nama Sukur. Bahkan sudah dibuat pernyataan lunas oleh yang bersangkutan kepada pihak Yayasan Fajar Hidayah soal pembayaran atas kegiatan proyek pengadilan.

Lalu pihak suplayer melaporkan Sukur ke Pengadilan Negeri Cibinong, akhirnya berproses hukum dan Sukur dihukum penjara. Setelah keluar dari tahanan, di tahun 2010 tiba tiba datang kembali ke Yayasan Fajar Hidayah dengan membawa suplayer dengan alasan pihak Yayasan Fajar Hidayah masih memiliki hutang piutang.

Kasus berujung adanya gugatan ke PN Cibinong oleh Sukur dengan perkara nomor 151 di tahun 2017. Pihak Yayasan Fajar Hidayah melakukan gugatan perlawanan hingga ke Mahkamah Agung dan tetap akhirnya kalah oleh penggugat.

“Tiba tiba ada proses penyitaan yang dilakukan PN Cibinong atas putusan 151 tersebut sehingga terjadinya lelang dan balik nama atas lahan Yayasan Fajar Hidayah. Tanggal 21 Oktober 2021 dilakukan eksekusi pengosongan hasil lelang, sehingga terjadinya dilawan oleh pihak Yayasan Fajar Hidayah karena obyek lelang tidak terdapat didalam putusan 151,” jelasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *