Dua Pelaku Diamankan, Pinjol Jaringan China “Gentayangan” di Bogor

Kapolres Bogor AKBP Harun (tengah) menunjukkan barang bukti saat rilis terkait kasus pinjaman online ilegal di Mapolres Bogor, Cibinong, Kabupaten Bogor, Selasa (7/12/ 2021). Polisi menangkap dua orang tersangka dengan modus operandi melakukan penagihan pinjaman online kepada korban dengan cara mengirimkan template berisi ancaman dan penghinaan serta mengamankan barang bukti 1 unit laptop, 7 unit handphone dan 5 buah buku tabungan. Ceklissatu.com/Dwi Susanto

BOGOR, Ceklissatu.com – Jajaran Polres Bogor, berhasil membongkar praktik pinjaman online (Pinjol) ilegal jaringan China dengan mengamankan dua orang pelaku berinisial SS (21) dan SW (23).

“Kedua pelaku ini kami amankan di tempat persembunyian secara terpisah. SS kami amankan di salah satu perumahan di Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, pada 20 November 2021, sedangkan SW diamankan di Batam pada 30 November 2021,” ungkap Kapolres Bogor, AKBP Harun, Selasa (7/12/21).

Bacaan Lainnya

Berdasarkan keterangan pelaku,
keduanya memiliki peran yang berbeda. Di mana SS bertugas sebagai penagih dan SW bertugas sebagai translator karena memiliki atasan yang diindikasikan Warga Negara Asing (WNA) asal China.

“SW ini bertugas sebagai penerjemah, karena atasan mereka berbicara bahasa Cina. Sementara SS bertugas sebagai pengingat para nasabah,” tegas Harun.

Kedua pelaku tersebut diringkus polisi lantaran menebar teror dan ancaman kepada para nasabahnya, saat melakukan penagihan pinjaman.

“Pelaku selaku reminder ini menghubungi korban dengan maksud mengingatkan akan tagihan pinjaman online yang belum dibayar. Akan tetapi saat melakukan penagihan kepada korban, pelaku mengirimkan template yang berisi ancaman dan penghinaan terhadap korban,” bebernya.

Tak hanya itu, pelaku juga mengancam akan menyebarkan informasi dan data diri korban kepada semua nomor kontak yang ada pada pelaku.

“Pelaku juga sempat membuat grup, sebagai ancaman kepada korban. Jadi kalau korban belum bayar, informasi dan data diri korban akan dibocorkan di grup itu,” jelasnya.

Harun menegaskan, saat ini pihaknya masih melakukan penyelidikan dan pendalaman terkait kasus tersebut. Kemungkinan pihak kepolisian bakal menetapkan tersangka baru dalam kasus tersebut.

“Saat ini baru dua orang yang kami tetapkan sebagai tersangka. Kemungkinan akan ada penambahan tersangka. Sambil kasus ini didalami,” kata dia.

Atas perbuatannya itu pelaku dikenakan Pasal 45 Ayat 4, Juncto Pasal 27 Ayat 4, dan atau Pasal 45 B Junction Pasal 29 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016. Atas perubahan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE dengan ancaman hukuman maksimal 6 tahun penjara.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *