Besok, Budayawan Akan Unjuk Rasa di Balaikota Tolak Wisata Malam Glow di KRB

  • Whatsapp

BOGOR, Ceklissatu.com – Aliansi Peduli KRB dan budayawan akan kembali berunjukrasa di Balai Kota Bogor untuk menolak keberadaan wisata malam Glow di dalam Kebun Raya Bogor (KRB).

Direktur LSM Jangkar Pakuan Padjajaran Saleh Nurangga mengatakan, pihaknya tetap berkomitmen menolak keberadaan Glow dan pengelolaan KRB oleh swastas. Sebab, KRB merupakan kawasan bersejarah yang harus dilestarikan keberadaannya.

Bacaan Lainnya

KRB merupakan aset tetap sebagaimana dijelaskan pada Peraturan Pemerintah No 71 tahun 2010 adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai atau dimiliki oleh pemerintah.

“Itu sumber daya nonkeuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan sumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya,” ujar Saleh kepada wartawan, Selasa (26/10).

Alasan lainnya, sambungnya, KRB merupakan pusaka alam dan cagar budaya milik bangsa yang harus dilindungi keutuhan dan keberlanjutannya secara natural, kultural, sosial. “Itu harus sejalan dengan Peraturan menteri lingkungan hidup nomor : P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018,” jelasnya.

Dengan demikian, sambungnya, pengelolaan KRB harus berpedoman pada marwah Kebun Raya yang memiliki 5 fungsi penting yakni konservasi tumbuhan, penelitian, pendidikan, wisata ilmiah dan jasa lingkungan.

Menurut dia, ketiga fungsi pertama merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dan menjadi acuan bersama seluruh Kebun Raya di dunia.

“Perusahaan yang diberikan kepercayaan oleh pemerintah dalam pemanfaatan aset negara wajib memperhatikan pada kentetuan yang terikat pada objek pengelolaan aset negara,” ungkapnya.

Dalam keputusan kebijakan kata dia, untuk memanfaatkan KRB dari segi inovasi wisata terbaru yaitu Glow harus menimbang pada UU yang menegaskan setiap keputusan kebijakan pemerintahan harus berpedoman pada 10 azas

“Azas kepastian hukum, azas tertib penyelenggaraan negara, kepentingan umum,
keterbukaan, proporsionalitas, profesionalitas, akuntabilitas, efisensi, efektivitas dan keadilan,” ungkapnya.

Selain itu, ketentuan pengelolaan KRB juga tertuang dalam Peraturan Daerah Kota Bogor No. 17 Tahun 2019, Pasal 40. “Stiap orang dilarang mengubah fungsi ruang situs Cagar Budaya, dan/atau Kawasan Cagar Budaya baik seluruh maupun sebagian kecuali seteleah memperoleh izin sesuai ketentuan perundang-undangan,” tegasnya.

Ia menyebut bahwa Glow merupakan gangguan pada habitat pusaka alam Kebun Raya Bogor, dan juga menciderai nilai-nilai kebudayaan kebun raya bogor yang di jaga oleh masyarakat budaya.

“Ini jelas, atraksi Glow telah dipaksakan untuk digelar tanpa mendengarkan pandangan pihak-pihak yang berhak dan yang memiliki keahlian pelestarian alam hayati,” tambahnya.

Saleh menegaskan, pihaknya akan mengajukan sejumlah tuntutan antaralain
mendesak Pemerintahan Kota (Pemkot) Bogor untuk mempertahankan dan menjaga Pusaka kebun raya Bogor dari nilai-nilai budaya luar yang dapat merusak atau menurunnya nilai-nilai budaya asli.

“Kawasan Kebun Raya Bogor merupakan kawasan yang sepadan dengan Istana Bogor yang merupakan wilayah steril untuk keamanan Presiden Jokowi.

Pamong Budaya Bogor akan melakukan upaya hukum apabila Glow yang di rencanakan tetap dilaksanakan,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *