Anggrek Bambu Kemunculannya Jadi Pertanda Kemarau Akan Berkahir

  • Whatsapp
Anggrek bambu (Didymoplexis pallens) species langka, yang kemunculannya jadi pertanda musim kemarau akan berakhir. (Photo/trs)

BOGOR, Ceklissatu.com – Anggrek bambu (Didymoplexis pallens) adalah species langka yang kemunculannya menjadi pertanda musim kemarau akan segera berakhir. Species  yang cantik ini,   warnanya putih, bentuknya kecil,  hingga
nyaris tak terlihat jika dari kejauhan,  bunga langka ini hidup di tengah rumpun bambu.  Anggrek ini juga tersebar di Kawasan Asia Tenggara, jadi ini bukan species endemic

Peneliti Rafflesia yang juga peneliti Anggrek di Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya Bogor (PKT-KRB),  Sofi Mursidawati   mengatakan, anggrek bambu adalah anggrek yang tidak kasat mata, keberadaannya hanya sewaktu-waktu, karena itulah ia disebut “Antara ada dan tiada”.

Anggrek bambu ini langka, karena keberadaannya juga tergantung kehadiran species.  sejenis jamur simbiotik yang memberi dia makan.
Jadi kalau simbiosisnya kompatibel, makanan atau nutrisinya lancar, maka dia akan berbunga.

Species ini juga disebut anggrek aklorofil karena tumbuhantersebut tidak memiliki daun sebagai alat fotosintesis, sosoknya hanya berupa bunga,  tidak punya akar, hanya umbi.   Keberadaanya diketahui hanya kalau lagi berbunga, itupun kalau kondisi lingkungan menguntungkan, terutama bagi jamur simbiotiknya, dan jamurnya ini sangat spesifik hanya mau tumbuh di serasah bambu.

Bunga anggrek bambu  muncul pada awal musim hujan, atau di akhir musim kemarau, dengan masa mekar hanya satu hari. Karena sifatnya ini, maka beberapa jenis kerabat anggrek aklorofil yang ada di beberapa negara tetangga dijuluki anggrek hantu karena tidak berhijau daun.

“Buat saya anggrek bambu sangat istimewa, karena kerumitan  hidupnya yang bergantung pada sesuatu yang spesifik dan langka, yaitu jamur simbiotiknya, dan  serangga penyerbuknya yang meresikokan diri untuk cepat punah. Artinya kalau habitatnya rusak atau rumpun bambunya dihabisi, dia akan ikut habis, karena tidak disemua rumpun bambu dia ada. Di  Kebun Raya Bogor, ada rumpun bambu yang tersebardibeberapa lokasi, tapi yang ditumbuhi anggrek bambu hanya area yang berbatasan dengan Kantor Pos Bogor (tepat dibelakang kantor pos),dilokasi yang lain tidak ada, ” tutur Sofi.

Keberadaan anggrek bambu di Kebun Raya Bogor  sudah diketahui sejak jaman Belanda, tepatnya sejak 1900 lalu. Bahkan Johanes Jacobus Smith, peneliti Belanda, kelahiran Belgia yang juga disebut sebagai bapak anggrek, dan pernah menjabat sebagai  Kepala Herbarium Bogoriense, di dalam  salah satu bukunya, ia menulis tentang species anggrek bambu.

Menurut Sofi, keberadaan anggrek bambu sulit untuk diketahui, karena kalau tidak sedang berbunga, species langka ini tidak menampakan diri, bunganya hanya bertahan satu hari saja, makanya jarang ada orang yang lihat.Jangankan pengunjung. Orang Kebun Raya Bogor (KRB) saja tidak ada yang paham tentang  species ini.

Itu terbukti, ketika Ceklissatu, bertanya kepada tiga orang pengunjung yang ditemui di Kebun Raya Bogor, tidak ada satupun yang tahu tentang anggrek bambu.  “Saya udah dua kali berkunjung ke Kebun Raya Bogor, tapi belum pernah lihat anggrek bambu, saya baca sih keterangan tentang anggrek bambu, yang dipasang di area taman bambu, tapi saya tidak pernah lihat bunga anggreknya,” tutur Rindi,warga Kampung Melayu, Jakarta.

Editor : Ayatullah

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *