Warga Ukraina Bakal Dipenjara Seumur Hidup Jika Membelot ke Rusia

Pasukan Ukraina mulai melakukan serangan balasan terhadap tentara Rusia (Foto: Reuters)

KIEV, CEKLISSATU – Presiden Volodymyr Zelensky menandatangani Undang-undang (UU) untuk memenjarakan siapa pun yang membantu yang melakukan serangan militer ke wilayahnya itu.

Langkah tersebut diungkapkan Wakil Ketua Parlemen Ukraina Alexander Kornienko, dilansir RT.com pada Selasa 15 Maret 2022.

Bacaan Lainnya

Berbicara kepada Ukraina 24, Alexander Kornienko berpendapat hukuman itu juga harus diterapkan terhadap sekitar 20 anggota parlemen yang dianggap tidak patriotik.

Menurut dia, 20 anggota parlemen Ukraina tersebut melarikan diri dari negara itu saat Rusia melakukan serangan pada 24 Februari.

Undang-undang yang disahkan parlemen pada awal Maret, memberikan hukuman penjara hingga 15 tahun bagi siapa pun yang membantu negara agresor, termasuk membuat pernyataan publik untuk mendukungnya.

Dalam regulasi ini juga termasuk yang sedang memegang posisi kepemimpinan di badan pemerintah yang kini telah dikuasai oleh Rusia secara ilegal.

Mereka yang terbukti bersalah membantu musuh dapat dipenjara jika tindakan mereka menyebabkan kematian atau konsekuensi berat lainnya.

Biro Investigasi Negara Ukraina mengatakan pekan lalu bahwa 38 kasus pengkhianatan tingkat tinggi dibuka terhadap para pejabat dan petugas polisi yang membelot atau bekerja dengan pasukan Rusia.

Moskow menyerang negara tetangga pada akhir Februari, menyusul kebuntuan tujuh tahun atas kegagalan Ukraina menerapkan ketentuan perjanjian Minsk, dan akhirnya pengakuan Rusia atas republik Donbass di Donetsk dan Lugansk.

Protokol yang ditengahi Jerman dan Prancis dirancang untuk mengatur status wilayah yang memisahkan diri di dalam negara Ukraina. Rusia kini menuntut Ukraina secara resmi menyatakan dirinya sebagai negara netral yang tidak akan pernah bergabung dengan blok militer NATO yang dipimpin Amerika Serikat (AS).

Kiev mengatakan serangan Rusia benar-benar tidak beralasan. Ukraina membantah klaim bahwa pihaknya berencana merebut kembali dua republik di Donbass dengan paksa. Beberapa putaran pembicaraan telah diadakan, dengan kedua belah pihak menyetujui rute evakuasi dari kota-kota yang diperangi.

Penasihat Presiden Ukraina Zelensky Alexey Arestovich mengatakan pada Senin ada kemungkinan kesepakatan damai dalam beberapa pekan mendatang.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.