Telepon Putin, Erdogan Minta Serangan ke Ukraina Dihentikan

Vladimir Putin (kanan) (Foto: Reuters)

MOSKOW, CEKLISSATU – Presiden Turki Recep Tayyip meminta Presiden Rusia Vladimir untuk melakukan gencatan senjata setelah pertempuran memasuki hari ke-11.

Pernyataan itu disampaikan Erdogan kepada Putin dalam percakapan telepon pada Minggu 6 Maret 2022. Erdogan memberi pesan agar serangan Rusia ke segera diakhiri.

Bacaan Lainnya

“Gencatan senjata umum mendesak dilakukan. Ini akan mempermudah menemukan solusi politik dan menanggapi masalah kemanusiaan,” kata Erdogan dikutip dari The Moscow Times.

Erdogan juga meminta Putin mengizinkan koridor kemanusiaan di Ukraina. Ini untuk warga sipil yang ingin mengungsi. “Hal itu dapat membuka jalan perdamaian bersama,” tegasnya lagi.

Erdogan memang beberapa kali menawarkan diri untuk menjadi tuan rumah pembicaraan antara Kyiv dan Moskow. Meski menjadi anggota NATO, Turki dan Rusia diketahui memiliki hubungan dekat saat Ankara membeli sistem peluru kendali S.400, yang membuatnya tegang dengan AS.

Melalui pernyataan Istana Kremlin, Putin menegaskan ia akan menghentikan operasi milter apabila Ukraina berhenti melakukan serangan. Putin mengatakan kepada Erdogan bahwa dia siap untuk berdialog dengan Ukraina bersama mitra asing, namun upaya negosiasi selalu gagal.

Media Rusia melaporkan, di hari yang sama Putin juga berbicara dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron selama hampir 2 jam. Dalam kesempatan itu, Macron mengungkapkan kekhawatirannya kepada Putin soal kemungkinan serangan di Kota Odessa.

Percakapan melalui telepon itu berlangsung saat Ukraina terus dibombardir. Di Kota Mariupol, upaya untuk mengevakuasi 200.000 warga gagal karena gempuran hebat pasukan Rusia.

Banyak warga yang terperangkap di kota pelabuhan itu terpaksa tidur di tempat perlindungan untuk menghindari dari sasaran bom. Pasukan Rusia mengepung kota itu selama 6 hari, memutus pasokan makanan, air, dan listrik.

Serangan militer juga terjadi di Kota Irpin, hanya berjarak sekitar 25 km dari Kiev. Warga kota, termasuk anak-anak dan perempuan, berusaha melarikan diri dari zona pertempuran. Mereka juga harus tetap tersadar dan siap sedia setiap kali mendengar ada serangan rudal.

PBB mengungkap pada Minggu kemarin, warga sipil yang tewas sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari mencapai 364 orang, termasuk lebih dari 20 anak-anak.

Komisaris Tinggi PBB untuk HAM menjelaskan, sebagian warga sipil yang tewas disebabkan oleh penggunaan senjata peledak dengan area terdampak yang luas, termasuk tembakan artileri berat, roket, rudal, dan serangan udara. Serangan Rusia juga memaksa 1,5 juta warga meninggalkan Ukraina ke negara-negara tetangga.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.