Putin Sengaja Perlambat Serangan, Pakar Militer AS Sebut Taktik Hindari Korban Sipil

Ilustrasi. Rusia meluncurkan serangan udara ke dekat pangkalan militer di Kota Lviv. (Tangkapan Layar Instagram/@uafukraine)

WASHINGTON, CEKLISSATU – Seorang pakar militer Amerika Serikat (AS) Douglas Macgregor menyatakan salah besar jika negara Barat menilai Rusia kalah perang melawan Ukraina.

Pemerintah Ukraina selama ini percaya bahwa pasukan Moskow mengalami kekalahan dalam perang, karena melihat dari lambannya pergerakan invasi ke wilayahnya itu.

Bacaan Lainnya

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pun mengklaim belasan ribu tentara Rusia sudah terbunuh sejak invasi dimulai 24 Februari.

Menurut Douglas, gerak lambat pasukan Rusia tersebut merupakan sebuah taktik untuk menghindari korban sipil dari pihak Ukraina. Namun, Barat memanfaatkan kekeliruan itu dengan klaim kemenangan atas Ukraina. Kemudian memanfaatkannya untuk menyalurkan senjata agar pertempuran bisa berlangsung lebih lama lagi.

Mantan penasihat tinggi Pentagon ini menambahkan Presiden Rusia Vladimir telah memberikan perintah ketat sejak awal untuk menghindari korban sipil dan kerusakan properti yang luas di Ukraina.

“Hal ini telah memperlambat kemajuan Rusia ke titik di mana ia telah memberikan harapan palsu baik kepada Ukraina, tetapi dimanfaatkan oleh orang-orang di Barat, untuk mencoba dan meyakinkan dunia bahwa kekalahan sedang berlangsung. Padahal sebenarnya yang terjadi adalah kebalikannya dalam kasus ini,” kata Douglas, dilansir Kamis 17 Maret 2022.

Douglas mengatakan, maksud dan tujuan Rusia menyerang Ukraina telah telah diputuskan secara matang.

“Seluruh operasi sejak hari pertama difokuskan pada penghancuran pasukan Ukraina. Itu sebagian besar lengkap,” kata pensiunan kolonel Amerika itu.

Unit-unit Ukraina yang masih aktif benar-benar dikepung, terputus dan terisolasi di baik kota besar maupun kecil. Termasuk sebanyak 60.000 personel di perbatasan dengan Donetsk, yang kemungkinan persediaannya sekarang sudah habis.

Namun, hasil reportase media Barat tentang pertempuran itu mengabaikan kenyataan ini dan melukiskan gambaran bahwa militer Rusia tidak kompeten. Hal tersebut pun diutarakan beberapa senator AS bahwa Rusia tidak bisa menaklukkan Kiev, ibu kota Ukraina hanya dalam beberapa hari.

Ini kemudian digunakan sebagai argumen oleh para pendukung intervensi NATO dan zona larangan terbang, begitu juga mereka yang ingin mengirim lebih banyak senjata ke Ukraina.

“Sangat jelas Washington ingin ini berlanjut selama mungkin, dengan harapan Rusia akan sangat dirugikan. Tapi saya tidak melihat itu terjadi,” kata Macgregor kepada Grayzone.

Masalah terbesar saat ini adalah bahwa di negara Barat terjadi kebohongan publik. Ia juga melihat ada angan-angan dan kesan keberhasilan militer Ukraina dalam menangkal serangan pasukan Rusia.

“Kebohongan terbesar yang pernah saya dengar berulang-ulang di televisi adalah, pasukan Rusia telah diberitahu untuk dengan sengaja membunuh warga sipil Ukraina. Itu tidak masuk akal, itu tidak masuk akal,” ujarnya.

Douglas juga menyinggung Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky yang meminta Kongres AS untuk mengirim jet tempur, rudal pertahanan udara dan senjata lainnya ke Kiev, serta menetapkan zona larangan terbang di atas Ukraina. Tujuannya agar pasukannya dapat mengalahkan Rusia.

Argumen yang sama juga dilakukan Zelensky kepada anggota parlemen Kanada pada Selasa kemarin. Bagaimanapun, Douglas percaya bahwa pengiriman peralatan tempur itu tidak akan berpengaruh dan penolakan Zelensky untuk merundingkan gencatan senjata, justru hanya akan membuat lebih banyak orang Ukraina terbunuh.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.