Kelangkaan Gas Melon di Daerah Bencana Sudah Diatasi Pemkab Bogor

  • Whatsapp

BOGOR – Meroketnya harga dan kelangkaan gas elpiji atau biasa disebut gas melon di wilayah terdampak bencana di Kabupaten Bogor sudah bisa diatasi Pemkab Bogor dan Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Bogor Raya.

Sehingga, diharapkan masyarakat di wilayah tersebut tidak lagi resah karena kebutuhan gas melon sudah bisa dipenuhinya.

Bacaan Lainnya

Hal tersebut diungkapkan Bupati Bogor, Ade Yasin kepada wartawan di Cibinong, Jumat (10/1/2020).

“Kami Sudah komunikasikan soal kelangkaan dan meroketnya harga gas ukuran tabung 3 Kilogram dengan pihak Disperdagin dan PD Pasar Tohaga,” kata politisi PPP ini.

Dari kedua lembaga itu mengaku, bahwa pada Rabu (8/1) kemarin sudah dikirim pasokan gas melon dari Hiswana Migas sebanyak 1000 buah atau dua truk.

“Mereka mengaku bahwa permasalahan itu dikarenakan terkendala akses jalan sehingga truk agak jauh dari konsumen. Harga dari Hiswana Migas Rp. 16.000/buah oleh pengecer di jual Rp.18.000/buah,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakannya, pada Kamis (09/1) kemarin telah ditambah 2 Truk atau sebanyak 1000 buah gas Melon ke Kecamatan Sukajaya.

“Sasaran di 2 Titik Desa yaitu Pasir Madang dan Harkat Jaya,” tambahnya.

Sebelumnya, Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Bogor Raya mengaku pihaknya menunggu surat permohonan dari Pemkab Bogor untuk nantinya melakukan operasi pasar.

Ketua Hiswana Migas Bogor Raya Erry Asep Junaidi menuturkan, operasi pasar tabung gas 3 kg ini relatif dibutuhkan warga 11 desa di Kecamatan Sukajaya untuk menormalkan kembali harganya. Tak hanya harga yang melambung, keberadaan gas melon itu pun terbilang langka.

“Permohonan operasi pasar tabung gas 3 kg itu harus dari Pemkab Bogor ke Pertamina. Kami dari Hiswana Migas Bogor Raya siap saja melakukan operasi pasar untuk menormalkan kembali tabung gas elpiji 3 kg,” beber Erry kepada wartawan.

Dia menerangkan, kelangkaan tabung gas melon itu dikarenakan akses insfrastruktur jalan yang terputus hingga agen kesulitan memasok gas ersebut kepada para pangkalan gas bersubsidi ini yang ada di Kecamatan Sukajaya.

“Laporan dari agen gas elpiji 3 kg di wilayah Sukajaya, mereka tidak bisa memasok kepada para pangkalan karena akses insfrastruktur jalan yang terputus. Kemungkinan ini yang menyebabkan harganya melonjak dan keberadaan tabung gas bersubsidi ini langka,” tuturnya.

Erry melanjutkan, karena gas elpiji 3 kg ini bersubsidi maka distribusinya pun tidak boleh keluar dari wilayah yag sudah ditentukan, setiap agen yang nakal maka nantinya akan diberikan sanksi dari Pertamina.

Penulis: Sahrul Nur Rahmat

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *