BOGOR, CEKLISSATU.COM– Desa Gunung Putri, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, mencatat prestasi membanggakan setelah dinobatkan sebagai desa berkinerja terbaik ketiga tingkat Jawa Barat. Capaian itu mengantarkan Gunung Putri mewakili Jawa Barat dalam penilaian desa berkinerja terbaik tingkat nasional.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Jawa Barat, Mochamad Ade Afriandi, mengatakan capaian Desa Gunung Putri tidak terlepas dari berbagai terobosan yang dilakukan pemerintah desa bersama seluruh kelembagaan dan unsur pemerintahan di wilayah tersebut.

Menurut Ade, tantangan yang dihadapi Gunung Putri tergolong berat. Selain berkembang sebagai kawasan industri, wilayah tersebut juga semakin mendekati karakter perkotaan sehingga persoalan masyarakat menjadi semakin kompleks.

“Yang dihadapi Desa Gunung Putri ini bukan hal yang mudah, bukan hal yang ringan. Selain menjadi desa industri dan wilayah yang mendekati perkotaan, tantangannya juga tidak ringan,” kata Ade, Selasa (6/10/2026).

Ia menjelaskan, penilaian desa berkinerja terbaik tidak hanya melihat aspek kuantitatif berdasarkan Permendagri Nomor 81 Tahun 2015. Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga memberikan penilaian kualitatif melalui Anugerah Gapura Seri Paduga.

Ada sejumlah aspek yang menjadi perhatian, di antaranya kemampuan desa merespons persoalan yang berada di luar kewenangan langsung pemerintah desa.

Ade menilai, masyarakat tidak selalu memahami batas kewenangan antara pemerintah desa, kabupaten maupun provinsi. Ketika menghadapi persoalan, masyarakat cenderung meminta bantuan kepada pemerintahan terdekat, yakni pemerintah desa.

“Gunung Putri menunjukkan bahwa sekalipun persoalannya lintas kewenangan, desa ini tetap peduli dan merespons apa yang disampaikan masyarakat,” ujarnya.

Selain itu, keterbukaan dan kecepatan merespons keluhan masyarakat menjadi nilai tambah. Pemerintah desa dinilai mampu membuka ruang komunikasi, termasuk memanfaatkan teknologi seperti smartphone untuk mempercepat penyampaian dan penanganan aduan warga.

“Respon cepat, keterbukaan, dan lintas kewenangan itu menjadi terobosan Pemprov Jawa Barat dalam menilai kinerja desa,” katanya.

Dapat Stimulus Rp6 Miliar

Atas prestasi tersebut, Desa Gunung Putri juga akan memperoleh stimulus bantuan keuangan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebesar Rp6 miliar. Sementara dari Pemerintah Kabupaten Bogor terdapat dukungan sekitar Rp4,9 miliar.

Ade mengatakan, dana Rp6 miliar dari Pemprov Jawa Barat akan masuk ke rekening pemerintah desa setelah APBD Perubahan Provinsi Jawa Barat ditetapkan pada Oktober 2026.

Awalnya, stimulus tersebut direncanakan dikerjakan melalui perangkat daerah Pemprov Jawa Barat dengan fokus pada pembangunan infrastruktur seperti jalan, jembatan, drainase dan penerangan jalan umum (PJU).

Namun, dalam perubahan APBD, skema tersebut disesuaikan menjadi bantuan keuangan langsung kepada pemerintah desa.

“Jadi tidak dikerjakan oleh OPD Pemprov, tetapi langsung menjadi bantuan keuangan desa,” jelas Ade.

Dana tersebut tetap diarahkan untuk pembangunan infrastruktur. Namun cakupannya diperluas, antara lain jalan, jembatan, drainase, PJU, gapura, rumah tidak layak huni (Rutilahu), MCK komunal hingga jalan lingkungan.

Arahan Gubernur Jawa Barat, kata Ade, adalah agar persoalan infrastruktur di Gunung Putri dapat diselesaikan terlebih dahulu melalui stimulus tersebut.

Dengan begitu, anggaran yang bersumber dari pendapatan asli desa maupun bantuan Pemerintah Kabupaten Bogor dapat lebih banyak diarahkan untuk program pemberdayaan masyarakat.

Ade mengungkapkan, proses menuju tingkat nasional tidaklah mudah. Dari 5.311 desa di Jawa Barat, Gunung Putri harus melewati tahapan penilaian mulai dari tingkat kecamatan hingga kabupaten.

Setelah menjadi wakil Kabupaten Bogor, Gunung Putri kemudian bersaing dengan desa-desa dari daerah lain di Jawa Barat dan berhasil menempati posisi terbaik ketiga.

“Gunung Putri lolos dari tingkat kecamatan, kemudian tingkat kabupaten. Yang mewakili Kabupaten Bogor adalah Gunung Putri. Masuk ke Jawa Barat, ada 19 daerah dan Gunung Putri menjadi terbaik ketiga,” ungkapnya.

Prestasi tersebut kemudian mengantarkan Gunung Putri mewakili Jawa Barat dalam kompetisi tingkat nasional. Saat ini, proses penilaian nasional masih berlangsung.

Menurut jadwal Kementerian Dalam Negeri, hasil wawancara dan penilaian akan dibawa ke pleno di tingkat pusat. Pengumuman hasilnya direncanakan pada akhir Oktober 2026.

Jawa Barat sendiri bukan pendatang baru dalam ajang tersebut. Pada 2016, Desa Cibiruwetan pernah menjadi juara nasional.

Ade berharap prestasi tersebut dapat kembali diraih Jawa Barat melalui Desa Gunung Putri pada 2026.

“Kita optimistis. Karena yang digambarkan oleh Gunung Putri ini dihadapi juga oleh desa-desa yang satu tipe, yaitu desa industri atau desa perkotaan,” katanya.

Ia menilai berbagai inovasi yang dilakukan Gunung Putri dapat menjadi model yang direplikasi oleh desa-desa lain dengan karakteristik serupa.

“Makanya tadi Bapak Bupati mengatakan ini bisa direplikasi. Tidak hanya untuk Kabupaten Bogor, tetapi juga kabupaten lain yang desa-desanya memiliki tipe seperti Gunung Putri,” pungkasnya.