KABUPATEN BOGOR, CEKLISSATU.COM - Di balik hijaunya perbukitan Kabupaten Bogor bagian Barat, ada kisah sunyi dari aliran air yang berhenti mengalir.
Di Desa Bagoang dan Pangaur, Kecamatan Jasinga, sawah-sawah retak oleh panas matahari, bukan karena musim kemarau, tetapi karena saluran irigasi Sodong tertutup sedimentasi selama enam tahun terakhir.
Air yang dulu menjadi nadi kehidupan para petani kini tinggal kenangan. Dari hulu hingga hilir, lumpur menumpuk, menyumbat harapan yang mengering bersama tanah.
Baca Juga: Meriahkan Maulid Nabi Muhammad SAW, SDN 05 Kalongsawah Bogor Hadirkan Pawai Dongdang
Esda Permana Lukman, Kepala UPT Infrastruktur Irigasi Kelas A Wilayah V, menatap kenyataan itu dengan nada berat.
"Penyebab utama tersumbatnya saluran Sodong adalah sedimentasi yang menumpuk. Air tidak mengalir ke hilir selama enam tahun terakhir," ujarnya, Rabu, (8/10/2025).
Masalah klasik yang terus berulang, anggaran minim, perhatian terbatas. Dari seluruh wilayah kerja UPT, total dana reguler yang diterima hanya sekitar Rp2,2 miliar. Jumlah yang bahkan tak sebanding dengan luasnya tanggung jawab di lapangan.
Baca Juga: UPT Irigasi Wilayah V Tangani Sedimentasi Enam Tahun di DI Cidurian Sodong Jasinga
"Dari segi kebutuhan, ini sangat terbatas," ungkap Esda. "Sementara kondisi lapangan makin berat karena dampak bencana dan sedimentasi."
Suara dari DPRD: Mendorong Air untuk Kembali Mengalir
Menanggapi kondisi tersebut, Anggota DPRD Kabupaten Bogor, Nurodin, menyatakan komitmennya untuk mendorong penambahan anggaran sektor Sumber Daya Air (SDA) dalam pembahasan RAPBD 2026.
Baca Juga: Parenting di Desa Wisata Jasinga Bogor, Mencetak Anak Berakhlak Mulia Calon Pemimpin Masa Depan
"Agenda yang akan datang kami masuk pada pembahasan RAPBD tahun 2026 ini menjadi agenda kami. Terima kasih masukannya, saya akan coba," ujarnya.
Nurodin, atau yang akrab disapa Jaro Peloy, mengakui banyak infrastruktur irigasi di Bogor Barat rusak sejak bencana besar pada awal 2020.
"Memang betul, pasca pergerakan tanah dan bencana itu, beberapa irigasi seperti Sodong masih jauh dari tahap pemulihan," tuturnya.
Baca Juga: Pemkab Bogor Geber Rehabilitasi Irigasi Cidurian Sendung untuk Sawah di Wilayah Kecamatan Jasinga
Ia menambahkan, aspirasi dari masyarakat di Cigudeg, Sukajaya, Nanggung, hingga Jasinga telah dikantongi untuk dijadikan bahan pembahasan serius di dewan.
Sebab, menurutnya, irigasi bukan hanya urusan air melainkan urusan hidup para petani yang menopang ketahanan pangan daerah.
"Goal untuk ketahanan pangan itu bukan jargon. Ini harus dijawab dengan tindakan cepat agar sektor pertanian tetap berjalan," tegasnya.
Baca Juga: UPT Irigasi Bogor Gerak Cepat Atasi Saluran Mampet Sepanjang 500 Meter di Wilayah Kecamatan Jasinga
Di lapangan, para petani hanya bisa berharap pada langit. Tanaman padi tak lagi tumbuh subur, sebagian lahan beralih menjadi ladang palawija, sebagian lain dibiarkan kosong.
"Kalau air dari Sodong mengalir lagi, kami bisa tanam padi seperti dulu," kata seorang petani di Desa Pangaur.
Masalah irigasi Sodong menjadi cermin dari banyak persoalan serupa di wilayah Bogor Barat. Antara semangat ketahanan pangan dan keterbatasan anggaran, ada jeda panjang yang harus dijembatani oleh kebijakan.
Namun satu hal pasti, di tanah yang kering itu, harapan belum mati. Selama masih ada yang memperjuangkan aliran air untuk kembali ke sawah, kehidupan para petani pun akan terus mencari jalannya sendiri seperti air yang selalu berusaha menemukan muara.
Comment