Booming Hybreeder Tanaman Hias di Indonesia, Saatnya Petani Ciptakan Varian Baru

Ketua ketua Umum Astathi, (Asosiasi Pecinta Tanaman Hias Indonesia), Sunyoto Foto: Istimewa

BOGOR, CEKLISSATU – Pasar semakin dinamis Selain jenis tanamannya yang semakin bervariasi, dengan varian Hibryd baru hasil silangan para , pasarnya pun juga semakin mendunia. Tanaman hias Indonesia baik yang Hybrid maupun Species banyak digemari pangsa pasar luar negeri.

Hal tersebut, menurut Ketua ketua Umum Astathi, (Asosiasi Pecinta Tanaman Hias Indonesia), Sunyoto, tentu membawa dampak positif bagi para pemulia tanaman hias. Sudah banyak contoh-contoh pemulia (Breeder) tanaman hias yang membuat hybrid baru sukses dalam berusaha. Namun selama ini Hibrid baru masih di didominasi oleh jenis Aglonema, Keladi disusul kemudian Anthurium Kuping Gajah. Beberapa informasi, pemain tanaman hias mulai mengawin silangkan jenis-jenis Alokasia dan Philodendron.

Bacaan Lainnya

“Cerita sukses hybreeder yang sudah di kenal diantaranya Greg Hambali dengan Aglonema nya, Astriyanto dengan Keladinya, dan saat ini yang lagi rame adalah Anthurium Jenmani dan Hookery Pink serta jenis Kuping Gajah Hibryd seperti HU, Dorayaki dan lain-lain,” jelasnya, Senin, 28 Februari 2022.

Dia juga membeberkan, Para Hibreeder tersebut telah merasakan pundi-pundi dan membawa nama besar nya terangkat. Dari contoh sukses tersebut diatas, bisa menjadi pelajaran bagi para petani atau pemain tanaman hias dalam mengembangkan Inovasinya dengan menyilangkan tanamannya agar mendapatkan varian-varian baru yang diinginkan ataupun mutasi secara alam.

“Bagaimana bisa menciptakan Philodendron, Alocasia, Anthurium dan lain-lain dengan bentuk, corak dan warna daun yang baru. Hal tersebut yang mulai harus dipikirkan,” katanya.

Sunyoto juga memaparkan, hal sederhana pun juga harus mulai dilakukan oleh para Hybreeder untuk melakukan pencatatan dari awal penyilangan, yang meliputi nama tanaman yang disilangkan, tanggal penyilangan, tanggal penyemaian, hasil dari penyemaian dan seterusnya. Ending-nya Hybreeder akan melakukan seleksi dari sekian banyak seedling yang dihasilkan.

Penyeleksian dilakukan berdasar karakter seedling yang dihasilkan. Hybreeder akan tahu seedling mana yang bagus, muncul mutasi, baik warna maupun bentuknya daunnya atau yang dianggap biasa saja. Dari situlah harga bisa ditentukan oleh para Hybreeder.

Satu hal yang yang jarang atau belum dilakukan oleh Hybreeder adalah penjualan dengan memberikan sertifikat. Tentu sertifikat harus dibuat sedemikian rupa agar tahan lama dan mudah disimpan. Dengan harga bibit yang mahal, tidaklah rugi bagi petani mengeluarkan sertifikat yang nilainya di kisaran Rp 5-10 ribu rupiah.

“Teknologi sudah berkembang, pasar semakin luas, sudah saatnya petani berbenah untuk menghasilkan varian – varian baru, agar pasar tidak jenuh,” ungkapnya.

Ketekunan, kesabaran, inovasi dan ilmu pengetahuan ,sambungnya, menjadi syarat untuk bisa menjadi Hybreeder. Perkembangan ini mestinya di tangkap pemerintah untuk memberi ruang legalisasi nama/ hak paten terhadap para Hybreeder. Sehingga orang akan akan tahu dan menghargai para Hybreeder.

“Harus mulai ada sosialisasi Dan kemudahan ruang bagi para Hybreeder untuk mendaftarkan Hybrid baru hasil produksinya agar tercatat secara resmi di lembaga terkait. Sehingga tidak ada saling klaim atas sebuah varian baru tanaman hias,” tutup dia.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.