Bangun Aliansi Baru, Anis Matta Bicara Peluang Indonesia Terseret Konflik Ukraina-Rusia

Anis Matta. (Zoominar)

CEKLISSATU – Hingga saat ini, konflik Rusia-Ukraina masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Bahkan, belakangan, aksi saling serang kedua negara justru makin masif.

Memasuki pekan ketiga, Rusia dan Ukraina terus terlihat bentrok senjata di berbagai wilayah di perbatasan dan kota.

Bacaan Lainnya

Sebelum Rusia melancarkan serangan, banyak pihak menduga, dunia akan menghadapi perang dunia ketiga.

Anis Matta, dalam acara bertajuk Kupas Tuntas Rusia Vs Ukraina, menjelaskan bahwa itu sebenarnya merupakan perang supremasi yang punya kekhasan sendiri.

“Jadi ini adalah perang supremasi, yang berkuasa memastikan yang lain tidak tumbuh, tapi yang lain juga ga mau dicekik terus. Perang seperti ini cenderung lama dan sistemik,” kata Anis Matta, dikutip Hops.ID dalam zoominar.

Kemudian bicara penyebab, sebenarnya pakar geopolitik dan militer pasti paham dan menurut Anis, ini merupakan residu perang dingin Uni Soviet.

“Titiknya itu dan Pakta Warsawa, ada yang tidak selesai di antara mereka pasca perang dingin, Uni Soviet bubar dan NATO terus ekpansi ke negara-negara pecahan Uni Soviet untuk bergabung,” lanjut Anis Matta.

Kemudian melihat posisi Ukraina yang menjadi negara terbesar kedua pecahan Uni Soviet setelah Rusia.

Ukraina pada akhirnya menjadi negara paling dekat dengan Rusia yang belum bergabung dengan NATO.

“Ukraina ini red line untuk Rusia, kalau mereka gabung NATO maka Rusia akan semakin terjepit, karena itu akhirnya di 2014 mereka lakukan aneksasi terhadap Crimea di Ukraina,” ucap Anis memaparkan tentang Ukriana secara posisi..

Lalu dia mengatakan Ukraina sebenarnya merupakan korban.

“Mereka (Ukraina) ini sebenarnya collateral damage atau korban, korban dari dua kekuatan yang ada saat ini, Rusia dan Amerika,” ungkap Anis.

Anis Matta juga menceritakan sebenarnya Rusia sempat menawarkan diri menjadi anggota NATO, agar tak ada lagi blok di dunia.

“Putin ini pernah katakan ingin gabung ke NATO biar selesai semua (residu perang dingin) tapi di tolak, dan dari situ Putin yakin kalau mereka memang menganggap Rusia ini musuh,” papar Anis Matta.

Apa yang terjadi pada Ukraina, bisa terjadi kepada negara di mana saja dan kapan saja. Bahkan, Ketum Partai Gelora tersebut mengingatkan, bisa saja terseret di konflik tersebut.

“Indonesia pasti akan terseret dalam upaya pembentukan aliansi kekuatan baru, dengan kita menjadi kekuatan 5 besar dunia, kita punya posisi tawar jelas, agar kita tidak menjadi korban, ini yang tidak disadari oleh elit nasional negeri ini,” tegas Anis Matta.

Anis Matta berharap para elit berfikir yang lebih luas, karena semua negara saat ini tengah berlomba dalam hal kekuatan militer.

Rusia dan China, sebagian negara yang menggelontorkan anggaran militer secara besar-besaran sejak tahun 2008.

Sumber: Hops id

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.